Retardasi Mental
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT
yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur
atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Psikologi Perkembangan tentang “ Retardasi Mental ”.
Adapun makalah Psikologi Perkembangan tentang “
Retardasi Mental ” ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari
sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi
lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka
selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah Psikologi Perkembangan ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Psikologi
Perkembangan tentang “ Retardasi Mental ” dapat diambil hikmah dan manfaatnya
sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.
Bekasi, 13 Maret 2015
Penyusun
BAB
I
PENDAHLUAN
1.1 Latar
Belakang
Retardasi mental
merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara
berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0.3% dari
seluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya
manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0.1% dari anak-anak ini
memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman
KF, 1989).
Sehingga retardasi
mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan
masyarakat.Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih
merupakan masalah yang tidak kecil.
1.2 Perumusan
Masalah
A.
Apakah yang dimaksud retardasi mental?
B.
Bagaimana klasifikasi retardasi mental ?
C.
Apa saja penyebab retardasi mental ?
D.
Apa saja jenis retardasi mental ?
E.
Bagaimana penanganan retardasi mental?
F.
Bagaimana pencegahan retardasi mental?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Perkembangan Mental
Perkembangan Mental dalam arti khusus adalah suatu
kemampuan menyesuaikan diri yang serius sifatnya yang mengakibatkan kemampuan
tertentu dan pencapaian tertentu Perkembangan mental merupakan suatu proses
yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia/remaja pada
posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan
kompleks. Menurut Havighurst perkembangan tersebut harus di pelajari, dijalani
dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya.
Problem
kesehatan mental sebenarnya sudah ada sejak manusia sendiri itu ada. Sejak dulu
manusia tidak hanya mengalami sakit jasmani tetapi juga merasakan
kesedihan,tertekan dan putus asa. Dan tentu saja orang juga berusaha untuk
menyembuhkan sakit non-jasmaniahnya baik dengan cara yang rasional misalnya
dengan minta nasehat pada orang tua, orang yang dituakan atau dianggap bijak
dan dengan cara yang irasional dengan pergi ke dukun atau melakukan penyembahan
pada benda-benda yang dianggap keramat. Perkembangan kebudayaan, tekhnologi dan
ilmu pengetahuan mempengaruhi cara-cara orang untuk mengatasi problem non
jasmaniah yang semakin lama tumbuh menjadi ilmu pengetahuan sendiri.
Pada tahun 1908 terbut sebuah buku
yang sangat terkenal dengan judul “A Mind That Found It Self”. Buku tersebut dikarang
oleh Clifford Whittingham Beers. Buku itu menceritakan pengalaman-pengalamannya
saat dirawat dibeberapa rumah sakit.
Ia mendapatkan perawatan yang kejam
dan tidak berperikemanusiaan pada pasien dengan gangguan jiwa, hal tersebut
disebabkan oleh rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental. Perawatan yang
tulus dan penuh kasih justru memberikan dampak yang positif bagi penderita
gangguan jiwa.
Dari pengalamannya yang tidak
menyenangkan selama dirawat itulah, ia menyatakan bahwa keramah tamahan yang
ditunjukkan kepadanya justru memberikan dampak penyembuhan yang besar bagi
dirinya. Clifford Wittingham memberikan beberapa saran dalam usaha pencegahan
terjadinya gangguan mental dan perawatannya:
- Pembaruan dalam perawatan penderita
- Menyebarluaskan informasi untuk
merubah sikap terhadap pasien gangguan jiwa supaya lebih tepat dan ma nusiawi.
- Mendorong diadakannya penelitian
terhadap sebab-sebab dan perawatan terhadap sakit mental
- Mengembangkan usaha-usaha untuk
mencegah gangguan mental.
2.2 Definisi Retardasi Mental
Terdapat
berbagai macam definisi mengenai retardasi mental. Menurut WHO (dikutip dari
Menkes, 1990), retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak
mencukupi.Carter CH (dikutip dari Toback C.) mengatakan retardasi mental adalah
suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan
ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan
masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Menurut Crocker AC 1983,
retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah
yang disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan gejalanya timbul
pada masa perkembangan.
Menurut
Maramis (1980), Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensi yang kurang
(subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak).
Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi
gejala yang menonjol ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental
disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit, fren = jiwa).
Retardasi mental suatu gangguan heterogen yang
terdiri dari gangguan fungsi intelektual di bawah rata-rata dan gangguan dalam keterampilan
adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun (Purnawan dkk, 1982) Sedangkan
menurut Somantri (2005), retardasi mental adalah istilah yang digunakan untuk
menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata.
Jadi
kesimpulannya retardasi mental adalah anak yang memiliki kemampuan intelektual
di bawah rata-rata sehingga mengalami gangguan dalam keterampilan adaptifnya.
2.3 Klasifikasi
Retardasi Mental
Pengelompokan pada umumnya
didasarkan pada taraf intelegensinya, yang terdiri dari keterbelakangan mental
ringan, sedang, 78 dan berat. Kemampuan intelegensi anak retardasi mental yang
diukur dengan tes Stanford Binet dan Skala Weschler (WISC) Somantri (
2005 ).
a. Retardasi
Mental Ringan
Retardasi
Mental ringan disebut juga moron atau debil. kelompok ini memiliki IQ
antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut Skala Weschler memiliki IQ 69-55.
Mereka masih dapat belajar membaca,menulis, dan berhitung sederhana.
b. Retardasi
Mental Sedang
Retardasi
Mental sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada
Skala Binet dan 54-40 menurut Skala Weschler. Mereka sangat sulit untuk belajar
secara akademik, dalam kehidupan rumah tangga mereka juga membutuhkan pengawasan
secara terusmenerus.
c. Retardasi
Mental Berat
Retardasi
Mental berat sering disebut juga idiot. Kelompok ini dapat dibedakan
lagi antara anak Retardasi Mental berat dan sangat berat. Retardasi Mental
berat (severe) memiliki IQ antara 32-20 menurut Skala Binet dan antara
39-25 menurut Skala Weschler.
Retardasi
Mental sangat berat (profound) memiliki IQ dibawah 19 menurut Skala
Binet dan IQ dibawah 24 menurut Skala Weschler. Pada kategori ini kemampuan
komunikasi dan motorik anak sangat terbatas, sehingga memerlukan bantuan atau
perawatan dari orang lain.
Menurut nilai IQnya,
maka intelegensia seseorang dapat digolongkan sebagai berikut :
|
No |
Klasifikasi |
Nilai
IQ |
|
1 |
Sangat
Superior |
130> |
|
2 |
Superior |
120-129 |
|
3 |
Diatas
rata-rata |
110-119 |
|
4 |
Rata-rata |
90-110 |
|
5 |
Dibawah
rata-rata |
80-89 |
|
6 |
Retardasi
mental borderline |
70-79 |
|
7 |
Retardasi
mental ringan ( mampu didik ) |
52-69 |
|
8 |
Retardasi
mental sedang ( mampu latih ) |
36-51 |
|
9 |
Retardasi
mental berat |
20-35 |
|
10 |
Retardasi
mental sangat berat |
<20 |
Yang
disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe ringan
masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan
retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan
bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya, maka Melly Budhiman
membagi :
Tipe Klinik
Pada
retardasi mental tipe klinik ini mudah dideteksi sejak dini karena kelainan
fisis maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan organik.
Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan ini dapat
terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah.
Orang tua dari anak yang menderita retardasi
mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat
tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri
kelainan pada anaknya.
Tipe Sosio Budaya
Biasanya
baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat mengikuti
pelajaran. Penampilannya seperti anak normal sehingga disebut juga retardasi
enam jam. Karena begitu mereka keluar sekolah, mereka bermain seperti anak-anak
yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari golongan social ekonomi
rendah. Pada orang tua dari anak tipe ini tidak melihat adanya kelainan pada
anaknya, mereka mengetahui kalau anaknya retardasi dari gurunya atau psikolog
karena anaknya gagal beberapa kali tidak naik kelas. Pada umumnya anak tipe ini
mempunyai taraf IQ golongan borderline dan retardasi mental ringan.
Etiologi
Adanya
disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya
retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun
begitu terdapat beberapa factor yang potensial berperanan dalam terjadinya
retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shonkoff JP
(1992) dibawah ini.
Sedangkan,Klasifikasi Retardasi Mental berdasarkan derajat keterbelakangannya.
Standford Binet
Skala Weschler
Ringan 68-52
69-55
Sedang 51-36
54-40
Berat 32-20
39-25
Sangat Berat
>19 >24
sumber
: Blake 1976 (dalam somantri, 2005)
Dari
uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa secara umum anak retardasi mental
dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok yaitu retardasi mental ringan,
sedang, dan berat.
2.4 Penyebab Retardasi Mental
Menurut
Maramis (1980), penyebab retardasi mental ada dua yakni secara primer dan
sekunder. Retardasi mental primer disebabkan karena faktor keturunan (retardasi
mental genetik). Sedangkan penyebab sekunder disebabkan Karena faktor dari luar
yang diketahui dan faktor-faktor ini mempengaruhi otak mungkin pada waktu
pranatal, atau postnatal. Serta dapat pula disebabkan karena faktor-faktor yang
lainnya
a.
Penyebab primer
1). Akibat
kultural familly (faktor keturunan), untuk dapat mendiagnosa retardasi
mental ini, harus didapatkan retardasi mental paling sedikit pada salah seorang
dari orang tua penderita dan pada seorang atau lebih saudaranya. Retardasi
mental jenis ini biasanya ringan.
b.
Penyebab sekunder
1). Akibat
penyakit atau pengaruh prenatal yang tidak jelas, keadaan ini diketahui
sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya.
2). Akibat
penyakit otak yang nyata (postnatal), dalam kelompok ini termasuk retardasi
mental akibat neoplasma dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi
belum diketahui betul etiologinya.
c.
Penyebab lainnya
1). Akibat
infeksi, dalam kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena
kerusakan jaringan otak akibat infeksi intracranial, karena serum, obat atau
zat toxid lainnya.
2). Akibat
rudapaksa atau penyebab fisik, rudapaksa atau penyebab fisik sebelum lahir
serta juga karena trauma yang lain, seperti sinar X, bahan kontrasepsi dan
usaha melakukan abortus, dapat
melibatkan
kelainan dengan retardasi mental.
3). Akibat
gangguan metabolisme baik pertumbuhan maupun gizi, semua retardasi mental
yang berlangsung disebabkan oleh gangguan metabolisme seperti gangguan
metabolisme zat lipida, karbohidrat dan protein. Termasuk pula gangguan
pertumbuhan dan gizi. Gangguan gizi yang berat dan berlangsung sebelum
usia 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan otak. Meskipun telah ada
perbaikan gizi, akan tetapi tingkat intelegensinya sukar untuk ditingkatkan.
4). Akibat
kelainan kromosom, kelainan ini terdapat pada jumlah kromosom dan bentuk
yang berbeda, kelainan pada jumlah kromosom ini disebut juga sindroma down.
5). Akibat
premeturitas, termasuk dalam retardasi mental yang berhubungan dengan
keadaan bayi yang pada saat lahir berat badannya kurang dari 2500 gram atau
karena masa hamil kurang
dari 38 minggu.
6). Akibat
gangguan jiwa berat, retardasi mental juga mungkin disebabkan karena suatu
gangguan jiwa berat dalam masa kanakkanak. Dalam gangguan jiwa tersebut tidak
terdapat tanda-tanda patologi otak.
Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa secara umum penyebab retardasi mental ada
dua, yaitu penyebab primer dan penyebab sekunder.
Faktor-Faktor Yang Potensial Sebagai Penyebab
Retardasi Mental:
1. Non-Organik
- Kemiskinan dan
keluarganya yang tidak harmonis
- Factor sosio cultural
- Interaksi
anak-pengasuh yang tidak baik
- Penelantaran anak
2. Oraganik
- Faktor prakonsepsi
a. Abnormalitas single
gene ( penyakit –penyakit metabolik, kelainan neurokutaneus, dll )
b. Kelainan kromosom (
X-linked, translokasi, fragile-X), sindrom polygenic familial.
- Factor prenatal
a. Gangguan pertumbuhan
otak trimester I
· Kelainan kromosom (
trisomi, mosaik, dll)
· Infeksi intrauterine,
misalnya TORCH, HIV
· Zat-zat teratogen (
alcohol, radiasi, dll )
· Disfungsi plasenta
· Kelainan congenital
dari otak (idiopatik)
b. Gangguan pertumbuhan
otak trimester II dan III
· Infeksi intrauterine,
misalnya TORCH, HIV
· Zat- zat teratogen (
alcohol, kokain, logam berat, dll )
· Ibu : diabetes
mellitus, PKU ( phenilketonuria )
· Toksemia gravidarum
· Disfungsi plasenta
· Ibu malnutrisi
- Factor perinatal
a. Sangat premature
b. Asfiksia neonatorum
c. Truma lahir :
perdarahan intracranial
d. Meningitis
e. Kelainan metabolic :
hipoglikemik, hiperbilirubinemia
- Factor post natal
a. Trauma berat pada
kepala/susunan saraf pusat
b. Neurotoksin,
misalnya logam berat
c. CVA (
Cerebrovaskuler accident )
d. Anoksia, misalnya
tenggelam
e. Metabolic
· Gizi buruk
· Kelainan hormonal,
misalnya hipotiroid, pseudohipotiroid
· Amino aciduria,
misalnya PKU
· Kelainan metabolisme
karbohidrat, galaktosemia dll
· Polisakaridosis,
misalnya sindrom Hurler
· Cerebral lipidosis (
Tay Sachs ), dengan hepatomegali ( Gaucher )
· Penyakit degeneratif/
metabolic lainnya.
f. Infeksi
· Meningitis, ensefalitis,
dll.
· Subakut sklerosing
panasefalitis
Kebanyakan
anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan social ekonomi
rendah akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap
menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya maturasi. Demikian pula dengan
keadaan social ekonomi yang rendah dapat sebagai penyebab organic dari
retardasi mental, misalnya keracunan logam berat yang subklinik dalam jangka
waktu yang lama dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, ternyata lebih banyak
pada anak-anak dikota dari golongan social ekonomi rendah. Demikian pula dengan
kurang gizi, baik pada ibu hamil maupun pada anaknya setelah lahir dapat
mempengaruhi pertumbuhan otak anak.
Diagnosis dan Gejala
Klinis
Untuk
menegakkan diagnosis, anamnesis yang baik sangat diperlukan, yaitu untuk
mengetahui penyebab kelainan ini organic atau non organic, apakah kelainannya
dapat diobati/tidak dan apakah ada factor genetic/tidak.
Dengan melakukan skrining secara rutin
misalnya dengan menggunakan DDST (Denver Developmental Screening Test), maka
diagnosis dini dapat segera dibuat. Demikian pula anamnesis yang baik dari
orang tuanya, pengasuh atau gurunya, sangat membantu dalam diagnosis kelainan
ini. Setelah anak berumur enam tahun dapat dilakukan tes IQ. Sering kali hasil
evaluasi medis tidak khas dan tidak dapat diambil kesimpulan. Pada kasus
seperti ini, apabila tidak ada kelainan pada system susunan saraf pusat, perlu
anamnesis yang teliti apakah ada keluarga yang cacat, mencari masalah
lingkungan/factor non organic lainnya dimana diperkirakan mempengaruhi kelainan
pada otak anak.
Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa kelainan fisik yang merupakan stigmata congenital yang kadang-kadang gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini beberapa kelaianan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental,yaitu :
1. Kelainan pada mata :
a. Katarak
- Sindrom Cockayne
- Sindrom Lowe
- Galactosemia
- Sindrom Down
- Kretin
- Rubella Pranatal,
dll.
b. Bintik cherry-merah
pada daerah macula
- Mukolipidosis
- Penyakit Niemann-Pick
- Penyakit Tay-Sachs
c. Korioretinitis
- Lues congenital
- Penyakit
Sitomegalovirus
- Rubella Pranatal
d. Kornea keruh
- Lues Congenital
- Sindrom Hunter
- Sindrom Hurler
- Sindrom Lowe
2. Kejang
a. Kejang umum tonik
klonik
- Defisiensi glikogen
sinthesa
- Hipersilinemia
- Hipoglikemia,
terutama yang disertai glikogen storage disease I, III, IV, dan VI
- Phenyl ketonuria
- Sindrom malabsobrsi
methionin, dll.
b. Kejang pada masa
neonatal
- Arginosuccinic
asiduria
- Hiperammonemia I dan
II
- Laktik asidosis, dll.
3. Kelainan kulit
a. Bintik café-au-lait
-
Atakasia-telengiektasia
- Sindrom bloom
- Neurofibromatosis
- Tuberous selerosis
4. Kelainan rambut
a. Rambut rontok
- Familial laktik
asidosis dengan Necrotizing ensefalopati
b. Rambut cepat memutih
- Atrofi progresif
serebral hemisfer
- Ataksia
telangiektasia
- Sindrom malabsorbsi methionin
c. Rambut halus
- Hipotiroid
- Malnutrisi
5. Kepala
a. Mikrosefali
b. Makrosefali
- Hidrosefalus
- Neuropolisakaridase
- Efusi subdural
6. Perawakan pendek
a. Kretin
b. Sindrom Prader-Willi
7. Distonia
a. Sindrom
Hallervorden-Spaz
2.5 Jenis Retardasi
Mental
Retardasi mental terbagi menjadi 5 jenis (menurut PPDGJ-I),
yaitu:
a. Retardasi
mental taraf perbatasan IQ 68 – 85.
Beberapa kali tidak naik kelas di SD, tidak dapat bersaing dalam mencari
nafkah.
b. Retardasi
mental ringan IQ 52 – 67.
Dapat mencari nafkah secara sederhana dalam keadaan baik. Dapat dilatih dan
dididik di sekolah khusus.
c. Retardasi
mental sedang IQ 36 – 51.
d. Retardasi
mental berat IQ 20 – 35.
e. Retardasi mental sangat berat IQ < 20.
Penggolongan
di atas adalah berdasarkan kemampuan mental, perilaku penyesuaian dan
pengembangan jasmani. Sedangkan penggolongan secara klinis terbagi menjadi 3
jenis retardasi mental yaitu:
a. Idiocy (idiot)
IQ-nya kurang dari 25, karena cacat jasmani dan rohaninya begitu berat, pada umumnya mereka tidak mampu menjaga diri sendiri. Intelegensinya tidak bisa berkembang, tidak bisa mengerti dan tidak bisa diajari apa-apa.
Idiocy ini terbagi atas :
– Idiocy
Pardhal atau Incomplete (tidak total)
Beberapa dari mereka mempunyai
fisik yang berbeda atau aneh dan sering sakit-sakitan. Adakalanya dibarengi
dengan paralysa atau kelumpuhan total dan paresis atau kelumpuhan sebagian pada
anggota badanya. Di antara mereka ini ada yang sangat rakus sekali dan tidak
dapat membedakan rasa apa-apa, sehingga mereka memakan apa saja yang ada dalam
jangkauannya. Sering defensiasi atau perbedaan kelamin lelaki dengan kelamin
perempuannya tidak jelas.
– Idiocy
Komplit (mutlak, absolut).
Tidak mempunyai
kemampuan jiwa dan unsur intelegensinya seperti anak umur 2,5 tahun. Tidak bisa
berbicara dan tidak bisa membedakan nalurinya. Ada gerakan-gerakan muskuler
atau otot, tetapi tanpa koordinasi. Sama sekali tidak mempunyai intersse
terhadap lingkungannya. Tidak dapat dilatih sesuatupun, tidak bisa menolong
diri sendiri. Kebanyakan dari mereka hanya terlentang saja di tempat tidur,
tidur melingkar di pojok seperti dalam keadaan antenatal. Banyak dari idiocy
ini mati sangat muda.
b. Imbecillity
(imbisil)
Memiliki
IQ 25 – 49. Seperti kanak-kanak yang berumur 3 – 7 tahun. Ukuran tinggi dan
bobot badannya kurang, sering badannya cacat atau mengalami Anomali (kelainan).
Gerakan-gerakannya tidak stabil dan lamban. Ekspresi mukanya kosong dan tampak
dungu. Kurang mempunyai daya tahan terhadap penyakit, perkembangan jasmaninya
sangat lamban da kurang sambutannya jika diajak berbicara.
Pada umumnya
mereka masih bisa mengerjakan tugas yang sederhana di bawah pengawasan. Anak-anak
imbisil juga banyak yang mati muda.
c. Debil
Mempunyai IQ 50 –
70. Seperti anak umur 7 – 16 tahun. Gejala lemah ingatan sudah tampak sebelum
tahun-tahun masa sekolah. Tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol diri,
mengadakan koordinasi dan adaptasi yang wajar. Pada penderita memerlukan
perlindungan khusus dalam masyarakat, karena mereka kurang nalar dan kurang
pikiran untuk bisa mengatur dan mengurus dirinya sendiri.
Menurut pembagian secara klinis, ada 2 macam
tipa debil :
– Tipe
Stabil
Berpembawaan
tanang, mempunyai minat terhadap lingkungannya serta rajin. Mentalnya seimbang,
bertingkah laku baik serta tidak menimbulkan banyak kesulitan bagi orang lain.
– Tipe
Instabil
Sangat ribut,
kurang pengontrolan diri, selalu gelisah dan selalu bergerak aktif dan tanpa
koordinasi.
2.6
Penanganan Masalah Retardasi Mental
Ternyata bila terdapat lingkungan keluarga yang mau mengerti dan memberi dukungan secara memadai
serta fasilitas pendidikan dan latihan vokasional yang tepat, penderita
retardasi mental dapat mengembangkan penyesuaian sosial dan vokasional yang
baik serta kemampuan hubungan dan kasih sayang antar manusia yang wajar.
Pernyataan
ini memperkuat pernyataan bahwa banyak penderita retardasi mental taraf perbata san, ringan, bahkan yang berat dapat
mengalami perkembangan kepribadian yang normal seperti orang dengan intelegensi
normal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
kepribadian
Seorang
dengan retardasi mental, karena keadaannya, sepanjang hidupnya menghadapi lebih
lanjut resiko daripada orang yang normal. Resiko ini bertambah sesuai dengan
beratnya retardasi mental.
Dalam
perkembangan emosinya, ketidakmampuan untuk bersaing dapat merupakan trauma
baginya. Selain itu harapan atau tuntutan mengenai perilaku normal akan
menyebabkan frustasi yang dapat mengakibatkan ketegangan, kebingungan atau
kerenggangan hubungan antara orang tua dan anak.
Diagnosa
dan diagnosa banding
Untuk
mendiagnosa retardasi mental dengan tepat diperlukan anamnesa yang teliti
mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak, pemeriksaan psikologik;
bila perlu pemeriksaan laboratorium, evaluasi pendengaran dan bicara; dan
observasi psikiatrik.
Diagnosa
banding ialah anak-anak dengan deprivasi rangsangan yang berat, anak dengan
gangguan pendengaran atau penglihatan, mungkin jujga bicara dan cerebral palsy,
gangguan emosi dan skizofrenia.
Pencegahan
dan Pengobatan
Pencegahan
primer, dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan sosio-ekonomi,
konseling genetik dan tindakan kedokteran.
Pencegahan sekunder, meliputi
diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan subdural, dan
kraniostenosis.
Pencegahan tersier, pendidikan penderita atau
latihan khusus, sebaiknya di Sekolah Luar Biasa. Diberi neroleptika pada yang
gelisah, hiperaktif, atau destruktif. Amfetamine dan kadang-kadang juga
antihistamin berguna juga pada hiperkinesa. Dapat dicoba juga obat-obat yang memperbaiki
mikrosirkulasi di otak, atau yang langsung memperbaiki metabolisme sel-sel
otak. Akan tetapi hasilnya, kalau ada, tidak segera dapat dilihat.
Disertai
juga konseling pada orang tua dengan tujuan membantu mereka dalam mengatasi
frustasi karena mempunyai anak dengan retardasi mental.
Latihan
dan Pendidikan
Pendidikan anak dengan retardasi
mental secara umum :
–
Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasitas yang ada.
–
Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau yang anti sosial.
– Mengajarkan
suatu keahlian agar dapat mencari nafkah kelak.
Dalam
latihan mereka lebih sukar dari anak biasa karena perhatian mereka mudah sekali
berubah. Harus diusahakan untuk mengikat perhatian mereka dengan merangsang
panca indera, misalnya dengan alat permainan yang berwarna atau yang berbunyi,
dan harus konkrit. Mereka juga diajari dan diberi pekerjaan yang praktis (tidak
memerlukan intelegensi tinggi).
Latihan diberikan secara kronologis
dan meliputi :
L Latihan di
rumah :
makan sendiri, berpakaian sendiri, kebersihan badan.
LatiLati Latihan di
sekolah :
pengembangan rasa sosial.
LatLi Latihan
teknis :diberikan sesuai minat, jenis
kelamin dan kedudukan sosial, misalnya peternakan dan menjahit.
Latihan moral
:pelajaran tentang yang baik
dan tidak baik. Agar mengerti tiap pelanggaran disiplin disertai hukuman, dan
tiap perbuatan baik disertai hadiah.
Selain itu lingkungan anak tersebut
harus memberi contoh yang baik.
2.7 EMOSI
A. Definisi dan macam - macam Emosi
Emosi
adalah suatu keadaan yang kompleks yang berlangsung biasanya tidak lama, yang
mempunyai komponen pada badan dan pada jiwa individu itu. Pada jiwa timbul
keadaan terangsang dengan perasaan yang hebat serta biasanya juga terdapat
impuls untuk berbuat sesuatu (Goleman, 1999).
Emosi
berasal dari kata kerja bahasa latin, yang berakar dari kata movere, yaitu
mempunyai arti menggerakkan, bergerak penambahan awalan e agar
memberikan arti bergerak menjauh, yang menyiratkanbahwa kecenderungan bertindak
atau melakukan sesuatu merupakan hasil mutlak dalam emosi (Goleman, 1999).
Goleman (1999)
menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat beberapa macam emosi, yaitu :
a. Amarah,
meliputi rasa dendam, kebencian, kejengkelan, frustasi, kegusaran, kekesalan.
Perasaan tersingung, stress, dan permusuhan.
b. Gembira,
meliputi perasaan senang, bahagia, kenikmatan, kepuasan, ketenangan, hiburan,
kegairahan, terpesona, takjub dan bersukaria.
c. Depresi,
meliputi perasaan sedih, kesengsaraan, kemurungan, kekesalan, penyesalan yang
dalam. Tidak bahagia, duka cita, penderitaan batin, keadaan yang rusak, dan
melankolis.
d. Ketakutan,
meliputi perasaan gelisah, takut, gugup, tidak tenang, kecemasan, kekhawatiran
dan ragu-ragu.
e. Cinta,
meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
kasih dan kasmaran.
f. Terkejut,
meliputi perasaan terkesiap, takjub dan terpana.
g. Malu,
meliputi perasaan salah, malu hati, kesal hati, hina dan sesal.
Sedangkan,menurut
Lazarus (1991) mendefinisikan emosi sebagai reaksi – reaksi organisme
(melibatkan biologis, psikologis dan sosial) yang rumit,
dan terpola mengenai bagaimana individu
berpikir mengenai apa yang dilakukan sepanjang hidup untuk bertahan hidup dan
memeriahkan hidup serta untuk mencapai apa yang dinginkan diri sendiri. Lazarus
memisahkan emosi menjadi dua bagian yaitu:
a. Emosi Positif
Emosi
positif adalah emosi yang terarah dan mengarahkan munculnya apa yang
diharapkan, sehingga harapan yang dinginkan dapat terwujud dengan mengarahkan
emosi yang positif.
b. Emosi Negatif
Emosi
negatif adalah emosi yang tidak terarah tidak searah dengan tujuan sehingga apa
yang menjadi suatu tujuan yang diharapkan tidak searah dengan harapan yang
dinginkan.
Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa emosi secara
garis besar
terbagi menjadi beberapa macam yaitu amarah, depresi,
ketakutan,
cinta, terkejut, dan malu.
B. Kemampuan Mengelola Emosi
Kemampuan
mengelola emosi merupakan salah satu aspek dari kecerdasan emosi. Menurut
Goleman (dalam Merda, 2009) menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah
kemampuan-kemampuan yang mencangkup pengendalian diri, semangat, ketekunan
serta kemampuan untuk memotivasi diri.
Salovey
dan Mayer (dalam Merda, 2009) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan
untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu
pikiran, memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan perasaan secara
mendalam sehingga membantu perkembangan emosional dan intelektual.
Sedangkan kemampuan mengelola emosi yaitu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan baik adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri merupakan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosi ini.
Orang-orang
yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung
melawan perasaan-perasaan buruk yang menguasai dirinya, sementara orang yang
pandai dapat bangkit kembali dengan jauh lebih baik seperti yang diharapkan
Goleman (dalam Merda, 2009).
Pendapat
lain dari Goleman (dalam Rudyanto, 2010) menyatakan bahwa kemampuan mengelola
emosi adalah kemampuan untuk menangani perasaan sehingga perasaan dapat
ditangkap dengan tepat, kemampuan untuk menenangkan diri, melepaskan diri dari
kecemasan dan kemarahan yang menjadi-jadi.
Salovey
dan Mayer (dalam Setyowati, 2010) berpendapat bahwa kemampuan mengelola emosi
adalah kemampuan untuk menguasai perasaannya sendiri agar perasaan tersebut
dapat diungkap dengan tepat.
Kesimpulan dari uraian diatas adalah kemampuan mengelola emosi yaitu kemampuan mengangani perasaan untuk menenangkan diri, melepaskan diri dari kecemasan dan kemarahan yang menjadi-jadi.agar perasaan dapat terungkap dengan baik, sehingga dapat mengendalikan dirinya dan dapat mengatur emosinya dengan baik.
C. Kondisi Emosi Anak Retardasi Mental
Perkembangan dorongan (drive) dan emosi berkaitan dengan derajat berat ringannya retardasi mental tersebut. Anak retardasi mental berat tidak dapat menunjukan dorongan pemeliharaan dirinya sendiri. Mereka dapat menghindar dari bahaya. Pada anak retardasi mental sedang, dorongan berkembang lebih baik tetapi kehidupan emosinya terbatas pada emosi-emosi yang sederhana. Pada anak terbelakang mental ringan, kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal, akan tetapimasih terbatas.Mereka dapat memperlihatkan rasa sedih namun sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka dapat mengekspresikan kegembiraan namun sulit mengungkapkan kekaguman (Somantri, 2005).
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Mc Iver (dalam Somantri, 2005) dengan
menggunakan Children’s Personality Questionare ternyata anak
keterbelakangan mental memiliki beberapa kekurangan. Anak retardasi mental
laki-laki memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap
dingin, menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsif, lancang, dan merusak.
Sedangkan anak retardasi mental wanita memiliki kekurangan berupa mudah
dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, dan cenderung
melanggar ketentuan.
Berbagai
emosi positif yang dimiliki oleh anak retardasi mental adalah seperti cinta,
girang, dan simpatik, emosi ini tampak pada anak retardasi mental yang masih
muda terhadap peristiwa-peristiwa yang bersifat konkret. Jika lingkungan
positif terhadapnya maka mereka akanlebih menunjukan emosi tersebut.
Emosi-emosi yang negatif adalah perasaan takut, giris, marah, dan benci.
Biasanya rasa takut muncul pada hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sosial.
Secara
umum dapat disimpulkan kondisi emosi anak Retardasi Mental tergantung pada
seberapa berat retardasi mental yang diderita. Anak dengan retardasi mental
ringan kondisi emosinya hampir sama dengan kondisi emosi anak normal, anak
retardasi mental ringan kondisi emosinya terbatas pada emosi yang sederhana.
Sedangkan anak retardasi berat emosinya sudah mulai sulit terkontrol hal ini
disebabkan pula karenanhubungan sosial yang terganggu.
2.8 Pencegahan
Karena penyembuhan dari retardasi mental ini boleh dikatakan tidak ada sebab kerusakan dari sel-sel otak tidak mungkin fungsinya dapat kembali normal maka yang penting adalah pencegahan primer yaitu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial dapat menyebabkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi.
Konseling perkawinan, pemeriksaan kehamilan
yang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan dan bersalin pada tenaga
kesehatan yang berwenang maka dapat membantu menurunkan angka kejadian
retardasi mental. Demikian pula dengan mengentaskan kemiskinan dengan membuka
lapangan kerja, memberikan pendidikan yang baik, memperbaiki sanitasi
lingkungan, meningkatkan gizi keluarga akan meningkatkan ketahanan terhadap
penyakit. Dengan adanya program BKB ( Bina Keluarga dan Balita ) yang merupakan
stimulasi mental dini dan bisa dikembangkan juga deteksi dini maka dapat
mengoptimalkan perkembangan anak.
Diagnosis
dini sangat penting dengan melakukan skrining sedini mungkin terutama pada
tahun pertama maka dapat dilakukan intervensi yang dini pula. Misalnya
diagnosis dini dan terpi dini hipotiroid dapat memperkecil kemungkinan
retardasi mental. Deteksi dan intervensi dini pada retardasi mental sangat
membantu memperkecil retardasi yang terjadi.
Konsep
intervensi pada retardasi mental yang berdasarkan pemikiran bahwa intervensi
dapat merubah status perkembangan anak. Makin sering dan makin dini intervensi
dilakukan, maka makin baik hasilnya.
Tetapi makin berat tingkat kecacatan maka hasil yang dicapai juga makin kurang. Hasil akhir suatu intervensi adalah makin dini dan teratur suatu intervensi yang diberikan makin baik hasilnya sehingga agak mengurangi kecacatannya. Namun pada anak yang penyebabnya sangat kompleks, latar belakang social dan kebiasaan yang kurang baik dan intervensi yang tidak teratur maka hasilnya juga tidak memuaskan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Retardasi
mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi mental atau kesehatan
mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari
fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimulus eksteren dan ketegangan-ketegangan
sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu
organ, atau sistem kejiwaan mental atau keadaan dengan intelegensi yang
kurang/rendah yang terjadi sejak masa perkembangan.
Retardasi
mental bisa saja terjadi pada setiap individu / manusia karena adanya
faktor-faktor dari dalam maupun dari luar, gejala yang ditimbulkan pada
penderita retardasi mental umumnya rasa cemas, takut, halusinasi serta delusi
yang besar.
Retardasi
mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang
mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan.
Karakteristik retardasi mental selain dari yang diketahui
melalui definisinya dapat juga dilihat dari:
- ciri fisik
- sikap dan tingkah laku, serta
- perkembangannya.
Retardasi mental menurut penyebabnya, terbagi menjadi beberapa faktor, yaitu: faktor keturunan, sebelum lahir, ketika lahir dan sesudah lahir.Akibat infeksi, gangguan metabolisme, penyakit otak post natal, gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun, pengaruh penyakit pranatal yang tidak jelas, kelainan kromosom, prematuritas, gangguan jiwa.
Jenis retardasi mental menurut PPDGJ-I (berdasarkan kemampuan mental, perilaku penyesuaian dan pengembangan jasmani) terbagi menjadi retardasi mental teraf perbatasan, ringan, sedang, berat dan sangat berat. Sedangkan secara klinis terbagi menjadi idiocy (partial atau incomplete dan complete), imbeciallity dan debil (stabil dan instabil).
Penanganan
retardasi mental; Terlebih dahulu diketahui diagnosanya, kemudian diadakan
pencegahan dan pengobatan serta pelatihan dan pendidikan.
Daftar
Pustaka
http://haerulanwar6.blogspot.com/2014/04/asuhan-keperawatan-anak-dengan.html
http://penerjemah-mr-rujito1.blogspot.com/2012/02/makalah-perawatan-retardasi-mental.html
http://mnasrullohrz.blogspot.com/2013/04/makalah-teori-intelegensia-dan.html
https://psikologi05.wordpress.com/2012/06/09/retardasi-mental/
W. Santrock. Life span
development edisi 13 jilid 1. Erlangga : Jakarta.
Elizabeth b. Hurlock.
Psikologi perkembangan edisi kelima. Erlangga : Jakarta
Komentar