Retardasi Mental

 

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Psikologi Perkembangan  tentang “ Retardasi Mental ”.

Adapun makalah Psikologi Perkembangan tentang “ Retardasi Mental ” ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

 

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah Psikologi Perkembangan  ini.

 

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Psikologi Perkembangan tentang “ Retardasi Mental ” dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

 

 

 Bekasi, 13 Maret 2015

 

 

Penyusun

 

 

 

BAB I

PENDAHLUAN

1.1  Latar Belakang

Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0.3% dari seluruh populasi dan hamper 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0.1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman KF, 1989).

Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan masyarakat.Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil.

1.2  Perumusan Masalah

A.    Apakah yang dimaksud retardasi mental?

B.     Bagaimana klasifikasi retardasi mental ?

C.     Apa saja penyebab retardasi mental ?

D.    Apa saja jenis retardasi mental ?

E.     Bagaimana penanganan retardasi mental?

F.      Bagaimana pencegahan retardasi mental?

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Sejarah Perkembangan Mental

Perkembangan Mental dalam arti khusus adalah suatu kemampuan menyesuaikan diri yang serius sifatnya yang mengakibatkan kemampuan tertentu dan pencapaian tertentu Perkembangan mental merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia/remaja pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Menurut Havighurst perkembangan tersebut harus di pelajari, dijalani dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya.

Problem kesehatan mental sebenarnya sudah ada sejak manusia sendiri itu ada. Sejak dulu manusia tidak hanya mengalami sakit jasmani tetapi juga merasakan kesedihan,tertekan dan putus asa. Dan tentu saja orang juga berusaha untuk menyembuhkan sakit non-jasmaniahnya baik dengan cara yang rasional misalnya dengan minta nasehat pada orang tua, orang yang dituakan atau dianggap bijak dan dengan cara yang irasional dengan pergi ke dukun atau melakukan penyembahan pada benda-benda yang dianggap keramat. Perkembangan kebudayaan, tekhnologi dan ilmu pengetahuan mempengaruhi cara-cara orang untuk mengatasi problem non jasmaniah yang semakin lama tumbuh menjadi ilmu pengetahuan sendiri.

Pada tahun 1908 terbut sebuah buku yang sangat terkenal dengan judul “A Mind That Found It Self”. Buku tersebut dikarang oleh Clifford Whittingham Beers. Buku itu menceritakan pengalaman-pengalamannya saat dirawat dibeberapa rumah sakit.

Ia mendapatkan perawatan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan pada pasien dengan gangguan jiwa, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya pemahaman mengenai kesehatan mental. Perawatan yang tulus dan penuh kasih justru memberikan dampak yang positif bagi penderita gangguan jiwa. 

Dari pengalamannya yang tidak menyenangkan selama dirawat itulah, ia menyatakan bahwa keramah tamahan yang ditunjukkan kepadanya justru memberikan dampak penyembuhan yang besar bagi dirinya. Clifford Wittingham memberikan beberapa saran dalam usaha pencegahan terjadinya gangguan mental dan perawatannya:

 

-        Pembaruan dalam perawatan penderita

-        Menyebarluaskan informasi untuk merubah sikap terhadap pasien gangguan jiwa supaya lebih tepat dan ma  nusiawi.

-        Mendorong diadakannya penelitian terhadap sebab-sebab dan perawatan terhadap sakit mental

-        Mengembangkan usaha-usaha untuk mencegah gangguan mental.


2.2 Definisi Retardasi Mental

Terdapat berbagai macam definisi mengenai retardasi mental. Menurut WHO (dikutip dari Menkes, 1990), retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi.Carter CH (dikutip dari Toback C.) mengatakan retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Menurut Crocker AC 1983, retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah yang disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan gejalanya timbul pada masa perkembangan.

Menurut Maramis (1980), Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala yang menonjol ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit, fren = jiwa).

 Retardasi mental suatu gangguan heterogen yang terdiri dari gangguan fungsi intelektual di bawah rata-rata dan gangguan dalam keterampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun (Purnawan dkk, 1982) Sedangkan menurut Somantri (2005), retardasi mental adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata.

Jadi kesimpulannya retardasi mental adalah anak yang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata sehingga mengalami gangguan dalam keterampilan adaptifnya.

 

 

2.3 Klasifikasi Retardasi Mental

            Pengelompokan pada umumnya didasarkan pada taraf intelegensinya, yang terdiri dari keterbelakangan mental ringan, sedang, 78 dan berat. Kemampuan intelegensi anak retardasi mental yang diukur dengan tes Stanford Binet dan Skala Weschler (WISC) Somantri ( 2005 ).

 

a. Retardasi Mental Ringan

Retardasi Mental ringan disebut juga moron atau debil. kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut Skala Weschler memiliki IQ 69-55. Mereka masih dapat belajar membaca,menulis, dan berhitung sederhana.

b. Retardasi Mental Sedang

Retardasi Mental sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada Skala Binet dan 54-40 menurut Skala Weschler. Mereka sangat sulit untuk belajar secara akademik, dalam kehidupan rumah tangga mereka juga membutuhkan pengawasan secara terusmenerus.

c. Retardasi Mental Berat

Retardasi Mental berat sering disebut juga idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak Retardasi Mental berat dan sangat berat. Retardasi Mental berat (severe) memiliki IQ antara 32-20 menurut Skala Binet dan antara 39-25 menurut Skala Weschler.

Retardasi Mental sangat berat (profound) memiliki IQ dibawah 19 menurut Skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut Skala Weschler. Pada kategori ini kemampuan komunikasi dan motorik anak sangat terbatas, sehingga memerlukan bantuan atau perawatan dari orang lain.

Menurut nilai IQnya, maka intelegensia seseorang dapat digolongkan sebagai berikut :

No

Klasifikasi

Nilai IQ

1

Sangat Superior

130>

2

Superior

120-129

3

Diatas rata-rata

110-119

4

Rata-rata

90-110

5

Dibawah rata-rata

80-89

6

Retardasi mental borderline

70-79

7

Retardasi mental ringan ( mampu didik )

52-69

8

Retardasi mental sedang ( mampu latih )

36-51

9

Retardasi mental berat

20-35

10

Retardasi mental sangat berat

<20

 

Yang disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya, maka Melly Budhiman membagi :

Tipe Klinik

Pada retardasi mental tipe klinik ini mudah dideteksi sejak dini karena kelainan fisis maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan organik. Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah.

 Orang tua dari anak yang menderita retardasi mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri kelainan pada anaknya.

Tipe Sosio Budaya

Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat mengikuti pelajaran. Penampilannya seperti anak normal sehingga disebut juga retardasi enam jam. Karena begitu mereka keluar sekolah, mereka bermain seperti anak-anak yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari golongan social ekonomi rendah. Pada orang tua dari anak tipe ini tidak melihat adanya kelainan pada anaknya, mereka mengetahui kalau anaknya retardasi dari gurunya atau psikolog karena anaknya gagal beberapa kali tidak naik kelas. Pada umumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline dan retardasi mental ringan.


Etiologi

Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa factor yang potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shonkoff JP (1992) dibawah ini.

Sedangkan,Klasifikasi Retardasi Mental berdasarkan derajat keterbelakangannya.

Standford Binet Skala Weschler

Ringan 68-52 69-55

Sedang 51-36 54-40

Berat 32-20 39-25

Sangat Berat >19 >24

sumber : Blake 1976 (dalam somantri, 2005)

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa secara umum anak retardasi mental dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok yaitu retardasi mental ringan, sedang, dan berat.

 

2.4  Penyebab Retardasi Mental

Menurut Maramis (1980), penyebab retardasi mental ada dua yakni secara primer dan sekunder. Retardasi mental primer disebabkan karena faktor keturunan (retardasi mental genetik). Sedangkan penyebab sekunder disebabkan Karena faktor dari luar yang diketahui dan faktor-faktor ini mempengaruhi otak mungkin pada waktu pranatal, atau postnatal. Serta dapat pula disebabkan karena faktor-faktor yang lainnya

a.      Penyebab primer

1). Akibat kultural familly (faktor keturunan), untuk dapat mendiagnosa retardasi mental ini, harus didapatkan retardasi mental paling sedikit pada salah seorang dari orang tua penderita dan pada seorang atau lebih saudaranya. Retardasi mental jenis ini biasanya ringan.

b. Penyebab sekunder

1). Akibat penyakit atau pengaruh prenatal yang tidak jelas, keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya.

2). Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal), dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi belum diketahui betul etiologinya.

c. Penyebab lainnya

1). Akibat infeksi, dalam kelompok ini termasuk keadaan retardasi mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intracranial, karena serum, obat atau zat toxid lainnya.

2). Akibat rudapaksa atau penyebab fisik, rudapaksa atau penyebab fisik sebelum lahir serta juga karena trauma yang lain, seperti sinar X, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus, dapat

melibatkan kelainan dengan retardasi mental.

3). Akibat gangguan metabolisme baik pertumbuhan maupun gizi, semua retardasi mental yang berlangsung disebabkan oleh gangguan metabolisme seperti gangguan metabolisme zat lipida, karbohidrat dan protein. Termasuk pula gangguan pertumbuhan dan gizi. Gangguan gizi yang berat dan berlangsung sebelum usia 4 tahun sangat mempengaruhi perkembangan otak. Meskipun telah ada perbaikan gizi, akan tetapi tingkat intelegensinya sukar untuk ditingkatkan.

4). Akibat kelainan kromosom, kelainan ini terdapat pada jumlah kromosom dan bentuk yang berbeda, kelainan pada jumlah kromosom ini disebut juga sindroma down.

5). Akibat premeturitas, termasuk dalam retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi yang pada saat lahir berat badannya kurang dari 2500 gram atau karena masa hamil kurang

dari 38 minggu.

6). Akibat gangguan jiwa berat, retardasi mental juga mungkin disebabkan karena suatu gangguan jiwa berat dalam masa kanakkanak. Dalam gangguan jiwa tersebut tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa secara umum penyebab retardasi mental ada dua, yaitu penyebab primer dan penyebab sekunder.

 Faktor-Faktor Yang Potensial Sebagai Penyebab Retardasi Mental:

1. Non-Organik

- Kemiskinan dan keluarganya yang tidak harmonis

- Factor sosio cultural

- Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik

- Penelantaran anak

2. Oraganik

- Faktor prakonsepsi

a. Abnormalitas single gene ( penyakit –penyakit metabolik, kelainan neurokutaneus, dll )

b. Kelainan kromosom ( X-linked, translokasi, fragile-X), sindrom polygenic familial.

- Factor prenatal

a. Gangguan pertumbuhan otak trimester I

· Kelainan kromosom ( trisomi, mosaik, dll)

· Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV

· Zat-zat teratogen ( alcohol, radiasi, dll )

· Disfungsi plasenta

· Kelainan congenital dari otak (idiopatik)

b. Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III

· Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV

· Zat- zat teratogen ( alcohol, kokain, logam berat, dll )

· Ibu : diabetes mellitus, PKU ( phenilketonuria )

· Toksemia gravidarum

· Disfungsi plasenta

· Ibu malnutrisi

- Factor perinatal

a. Sangat premature

b. Asfiksia neonatorum

c. Truma lahir : perdarahan intracranial

d. Meningitis

e. Kelainan metabolic : hipoglikemik, hiperbilirubinemia

- Factor post natal

a. Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat

b. Neurotoksin, misalnya logam berat

c. CVA ( Cerebrovaskuler accident )

d. Anoksia, misalnya tenggelam

e. Metabolic

· Gizi buruk

· Kelainan hormonal, misalnya hipotiroid, pseudohipotiroid

· Amino aciduria, misalnya PKU

· Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia dll

· Polisakaridosis, misalnya sindrom Hurler

· Cerebral lipidosis ( Tay Sachs ), dengan hepatomegali ( Gaucher )

· Penyakit degeneratif/ metabolic lainnya.

f. Infeksi

· Meningitis, ensefalitis, dll.

· Subakut sklerosing panasefalitis

Kebanyakan anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan social ekonomi rendah akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya maturasi. Demikian pula dengan keadaan social ekonomi yang rendah dapat sebagai penyebab organic dari retardasi mental, misalnya keracunan logam berat yang subklinik dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, ternyata lebih banyak pada anak-anak dikota dari golongan social ekonomi rendah. Demikian pula dengan kurang gizi, baik pada ibu hamil maupun pada anaknya setelah lahir dapat mempengaruhi pertumbuhan otak anak.

Diagnosis dan Gejala Klinis

Untuk menegakkan diagnosis, anamnesis yang baik sangat diperlukan, yaitu untuk mengetahui penyebab kelainan ini organic atau non organic, apakah kelainannya dapat diobati/tidak dan apakah ada factor genetic/tidak.

 Dengan melakukan skrining secara rutin misalnya dengan menggunakan DDST (Denver Developmental Screening Test), maka diagnosis dini dapat segera dibuat. Demikian pula anamnesis yang baik dari orang tuanya, pengasuh atau gurunya, sangat membantu dalam diagnosis kelainan ini. Setelah anak berumur enam tahun dapat dilakukan tes IQ. Sering kali hasil evaluasi medis tidak khas dan tidak dapat diambil kesimpulan. Pada kasus seperti ini, apabila tidak ada kelainan pada system susunan saraf pusat, perlu anamnesis yang teliti apakah ada keluarga yang cacat, mencari masalah lingkungan/factor non organic lainnya dimana diperkirakan mempengaruhi kelainan pada otak anak.

Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa kelainan fisik yang merupakan stigmata congenital yang kadang-kadang gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini beberapa kelaianan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental,yaitu :

1. Kelainan pada mata :

a. Katarak

- Sindrom Cockayne

- Sindrom Lowe

- Galactosemia

- Sindrom Down

- Kretin

- Rubella Pranatal, dll.

b. Bintik cherry-merah pada daerah macula

- Mukolipidosis

- Penyakit Niemann-Pick

- Penyakit Tay-Sachs

c. Korioretinitis

- Lues congenital

- Penyakit Sitomegalovirus

- Rubella Pranatal

d. Kornea keruh

- Lues Congenital

- Sindrom Hunter

- Sindrom Hurler

- Sindrom Lowe

2. Kejang

a. Kejang umum tonik klonik

- Defisiensi glikogen sinthesa

- Hipersilinemia

- Hipoglikemia, terutama yang disertai glikogen storage disease I, III, IV, dan VI

- Phenyl ketonuria

- Sindrom malabsobrsi methionin, dll.

b. Kejang pada masa neonatal

- Arginosuccinic asiduria

- Hiperammonemia I dan II

- Laktik asidosis, dll.

3. Kelainan kulit

a. Bintik café-au-lait

 

 

 

 

- Atakasia-telengiektasia

- Sindrom bloom

- Neurofibromatosis

- Tuberous selerosis

4. Kelainan rambut

a. Rambut rontok

- Familial laktik asidosis dengan Necrotizing ensefalopati

b. Rambut cepat memutih

- Atrofi progresif serebral hemisfer

- Ataksia telangiektasia

- Sindrom malabsorbsi methionin

c. Rambut halus

- Hipotiroid

- Malnutrisi

5. Kepala

a. Mikrosefali

b. Makrosefali

- Hidrosefalus

- Neuropolisakaridase

- Efusi subdural

6. Perawakan pendek

a. Kretin

b. Sindrom Prader-Willi

7. Distonia

a. Sindrom Hallervorden-Spaz

 

2.5 Jenis Retardasi Mental

Retardasi mental terbagi menjadi 5 jenis (menurut PPDGJ-I), yaitu:

a.    Retardasi mental taraf perbatasan IQ 68 – 85.

       Beberapa kali tidak naik kelas di SD, tidak dapat bersaing dalam mencari nafkah.

b.    Retardasi mental ringan IQ 52 – 67.

       Dapat mencari nafkah secara sederhana dalam keadaan baik. Dapat dilatih dan dididik di sekolah khusus.

c.    Retardasi mental sedang IQ 36 – 51.

d.    Retardasi mental berat IQ 20 – 35.

e.    Retardasi mental sangat berat IQ < 20.

Penggolongan di atas adalah berdasarkan kemampuan mental, perilaku penyesuaian dan pengembangan jasmani. Sedangkan penggolongan secara klinis terbagi menjadi 3 jenis retardasi mental yaitu:

a.    Idiocy (idiot)

                               IQ-nya kurang dari 25, karena cacat jasmani dan rohaninya begitu berat, pada umumnya mereka tidak mampu menjaga diri sendiri. Intelegensinya tidak bisa berkembang, tidak bisa mengerti dan tidak bisa diajari apa-apa.

       Idiocy ini terbagi atas :

–     Idiocy Pardhal atau Incomplete (tidak total)

                   Beberapa dari mereka mempunyai fisik yang berbeda atau aneh dan sering sakit-sakitan. Adakalanya dibarengi dengan paralysa atau kelumpuhan total dan paresis atau kelumpuhan sebagian pada anggota badanya. Di antara mereka ini ada yang sangat rakus sekali dan tidak dapat membedakan rasa apa-apa, sehingga mereka memakan apa saja yang ada dalam jangkauannya. Sering defensiasi atau perbedaan kelamin lelaki dengan kelamin perempuannya tidak jelas.

–     Idiocy Komplit (mutlak, absolut).

                               Tidak mempunyai kemampuan jiwa dan unsur intelegensinya seperti anak umur 2,5 tahun. Tidak bisa berbicara dan tidak bisa membedakan nalurinya. Ada gerakan-gerakan muskuler atau otot, tetapi tanpa koordinasi. Sama sekali tidak mempunyai intersse terhadap lingkungannya. Tidak dapat dilatih sesuatupun, tidak bisa menolong diri sendiri. Kebanyakan dari mereka hanya terlentang saja di tempat tidur, tidur melingkar di pojok seperti dalam keadaan antenatal. Banyak dari idiocy ini mati sangat muda.

b.    Imbecillity (imbisil)

Memiliki IQ 25 – 49. Seperti kanak-kanak yang berumur 3 – 7 tahun. Ukuran tinggi dan bobot badannya kurang, sering badannya cacat atau mengalami Anomali (kelainan). Gerakan-gerakannya tidak stabil dan lamban. Ekspresi mukanya kosong dan tampak dungu. Kurang mempunyai daya tahan terhadap penyakit, perkembangan jasmaninya sangat lamban da kurang sambutannya jika diajak berbicara.

                               Pada umumnya mereka masih bisa mengerjakan tugas yang sederhana di bawah pengawasan. Anak-anak imbisil juga banyak yang mati muda.

c.    Debil

                               Mempunyai IQ 50 – 70. Seperti anak umur 7 – 16 tahun. Gejala lemah ingatan sudah tampak sebelum tahun-tahun masa sekolah. Tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol diri, mengadakan koordinasi dan adaptasi yang wajar. Pada penderita memerlukan perlindungan khusus dalam masyarakat, karena mereka kurang nalar dan kurang pikiran untuk bisa mengatur dan mengurus dirinya sendiri.

                  

 Menurut pembagian secara klinis, ada 2 macam tipa debil :

–     Tipe Stabil

                               Berpembawaan tanang, mempunyai minat terhadap lingkungannya serta rajin. Mentalnya seimbang, bertingkah laku baik serta tidak menimbulkan banyak kesulitan bagi orang lain.

–     Tipe Instabil

                               Sangat ribut, kurang pengontrolan diri, selalu gelisah dan selalu bergerak aktif dan tanpa koordinasi.

 

2.6      Penanganan Masalah Retardasi Mental

                        Ternyata bila terdapat lingkungan keluarga yang mau mengerti dan memberi dukungan secara memadai serta fasilitas pendidikan dan latihan vokasional yang tepat, penderita retardasi mental dapat mengembangkan penyesuaian sosial dan vokasional yang baik serta kemampuan hubungan dan kasih sayang antar manusia yang wajar.

Pernyataan ini memperkuat pernyataan bahwa banyak penderita retardasi mental taraf perbata      san, ringan, bahkan yang berat dapat mengalami perkembangan kepribadian yang normal seperti orang dengan intelegensi normal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian

Seorang dengan retardasi mental, karena keadaannya, sepanjang hidupnya menghadapi lebih lanjut resiko daripada orang yang normal. Resiko ini bertambah sesuai dengan beratnya retardasi mental.

Dalam perkembangan emosinya, ketidakmampuan untuk bersaing dapat merupakan trauma baginya. Selain itu harapan atau tuntutan mengenai perilaku normal akan menyebabkan frustasi yang dapat mengakibatkan ketegangan, kebingungan atau kerenggangan hubungan antara orang tua dan anak.

 

Diagnosa dan diagnosa banding

Untuk mendiagnosa retardasi mental dengan tepat diperlukan anamnesa yang teliti mengenai kehamilan, persalinan dan perkembangan anak, pemeriksaan psikologik; bila perlu pemeriksaan laboratorium, evaluasi pendengaran dan bicara; dan observasi psikiatrik.

Diagnosa banding ialah anak-anak dengan deprivasi rangsangan yang berat, anak dengan gangguan pendengaran atau penglihatan, mungkin jujga bicara dan cerebral palsy, gangguan emosi dan skizofrenia.

 

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan primer, dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan sosio-ekonomi, konseling genetik dan tindakan kedokteran.

Pencegahan sekunder, meliputi diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, perdarahan subdural, dan kraniostenosis.

 Pencegahan tersier, pendidikan penderita atau latihan khusus, sebaiknya di Sekolah Luar Biasa. Diberi neroleptika pada yang gelisah, hiperaktif, atau destruktif. Amfetamine dan kadang-kadang juga antihistamin berguna juga pada hiperkinesa. Dapat dicoba juga obat-obat yang memperbaiki mikrosirkulasi di otak, atau yang langsung memperbaiki metabolisme sel-sel otak. Akan tetapi hasilnya, kalau ada, tidak segera dapat dilihat.

Disertai juga konseling pada orang tua dengan tujuan membantu mereka dalam mengatasi frustasi karena mempunyai anak dengan retardasi mental.

 

Latihan dan Pendidikan

Pendidikan anak dengan retardasi mental secara umum :

–     Mempergunakan dan mengembangkan sebaik-baiknya kapasitas yang ada.

–     Memperbaiki sifat-sifat yang salah atau yang anti sosial.

–     Mengajarkan suatu keahlian agar dapat mencari nafkah kelak.

Dalam latihan mereka lebih sukar dari anak biasa karena perhatian mereka mudah sekali berubah. Harus diusahakan untuk mengikat perhatian mereka dengan merangsang panca indera, misalnya dengan alat permainan yang berwarna atau yang berbunyi, dan harus konkrit. Mereka juga diajari dan diberi pekerjaan yang praktis (tidak memerlukan intelegensi tinggi).

Latihan diberikan secara kronologis dan meliputi :

L                                   Latihan di rumah         : makan sendiri, berpakaian sendiri, kebersihan badan.

LatiLati                         Latihan di sekolah      : pengembangan rasa sosial.

LatLi                         Latihan teknis                         :diberikan sesuai minat, jenis kelamin dan kedudukan sosial, misalnya                 peternakan dan menjahit.

Latihan                          moral                          :pelajaran tentang yang baik dan tidak baik. Agar mengerti tiap pelanggaran disiplin disertai hukuman, dan tiap perbuatan baik disertai hadiah.

Selain itu lingkungan anak tersebut harus memberi contoh yang baik.

2.7   EMOSI

A. Definisi dan macam - macam Emosi

Emosi adalah suatu keadaan yang kompleks yang berlangsung biasanya tidak lama, yang mempunyai komponen pada badan dan pada jiwa individu itu. Pada jiwa timbul keadaan terangsang dengan perasaan yang hebat serta biasanya juga terdapat impuls untuk berbuat sesuatu (Goleman, 1999).

Emosi berasal dari kata kerja bahasa latin, yang berakar dari kata movere, yaitu mempunyai arti menggerakkan, bergerak penambahan awalan e agar memberikan arti bergerak menjauh, yang menyiratkanbahwa kecenderungan bertindak atau melakukan sesuatu merupakan hasil mutlak dalam emosi (Goleman, 1999).

Goleman (1999) menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat beberapa macam emosi, yaitu :

a. Amarah, meliputi rasa dendam, kebencian, kejengkelan, frustasi, kegusaran, kekesalan. Perasaan tersingung, stress, dan permusuhan.

b. Gembira, meliputi perasaan senang, bahagia, kenikmatan, kepuasan, ketenangan, hiburan, kegairahan, terpesona, takjub dan bersukaria.

c. Depresi, meliputi perasaan sedih, kesengsaraan, kemurungan, kekesalan, penyesalan yang dalam. Tidak bahagia, duka cita, penderitaan batin, keadaan yang rusak, dan melankolis.

d. Ketakutan, meliputi perasaan gelisah, takut, gugup, tidak tenang, kecemasan, kekhawatiran dan ragu-ragu.

e. Cinta, meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, kasih dan kasmaran.

f. Terkejut, meliputi perasaan terkesiap, takjub dan terpana.

g. Malu, meliputi perasaan salah, malu hati, kesal hati, hina dan sesal.

Sedangkan,menurut Lazarus (1991) mendefinisikan emosi sebagai reaksi – reaksi organisme (melibatkan biologis, psikologis dan sosial) yang rumit,

 dan terpola mengenai bagaimana individu berpikir mengenai apa yang dilakukan sepanjang hidup untuk bertahan hidup dan memeriahkan hidup serta untuk mencapai apa yang dinginkan diri sendiri. Lazarus memisahkan emosi menjadi dua bagian yaitu:

a. Emosi Positif

Emosi positif adalah emosi yang terarah dan mengarahkan munculnya apa yang diharapkan, sehingga harapan yang dinginkan dapat terwujud dengan mengarahkan emosi yang positif.

b. Emosi Negatif

Emosi negatif adalah emosi yang tidak terarah tidak searah dengan tujuan sehingga apa yang menjadi suatu tujuan yang diharapkan tidak searah dengan harapan yang dinginkan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa emosi secara

garis besar terbagi menjadi beberapa macam yaitu amarah, depresi,

ketakutan, cinta, terkejut, dan malu.

 

B. Kemampuan Mengelola Emosi

Kemampuan mengelola emosi merupakan salah satu aspek dari kecerdasan emosi. Menurut Goleman (dalam Merda, 2009) menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan-kemampuan yang mencangkup pengendalian diri, semangat, ketekunan serta kemampuan untuk memotivasi diri.

Salovey dan Mayer (dalam Merda, 2009) mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosional dan intelektual.

Sedangkan kemampuan mengelola emosi yaitu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan baik adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri merupakan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosi ini.

Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus menerus bertarung melawan perasaan-perasaan buruk yang menguasai dirinya, sementara orang yang pandai dapat bangkit kembali dengan jauh lebih baik seperti yang diharapkan Goleman (dalam Merda, 2009).

Pendapat lain dari Goleman (dalam Rudyanto, 2010) menyatakan bahwa kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan untuk menangani perasaan sehingga perasaan dapat ditangkap dengan tepat, kemampuan untuk menenangkan diri, melepaskan diri dari kecemasan dan kemarahan yang menjadi-jadi.

Salovey dan Mayer (dalam Setyowati, 2010) berpendapat bahwa kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan untuk menguasai perasaannya sendiri agar perasaan tersebut dapat diungkap dengan tepat.

Kesimpulan dari uraian diatas adalah kemampuan mengelola emosi yaitu kemampuan mengangani perasaan untuk menenangkan diri, melepaskan diri dari kecemasan dan kemarahan yang menjadi-jadi.agar perasaan dapat terungkap dengan baik, sehingga dapat mengendalikan dirinya dan dapat mengatur emosinya dengan baik.

 

C. Kondisi Emosi Anak Retardasi Mental

Perkembangan dorongan (drive) dan emosi berkaitan dengan derajat berat ringannya retardasi mental tersebut. Anak retardasi mental berat tidak dapat menunjukan dorongan pemeliharaan dirinya sendiri. Mereka dapat menghindar dari bahaya. Pada anak retardasi mental sedang, dorongan berkembang lebih baik tetapi kehidupan emosinya terbatas pada emosi-emosi yang sederhana. Pada anak terbelakang mental ringan, kehidupan emosinya tidak jauh berbeda dengan anak normal, akan tetapimasih terbatas.Mereka dapat memperlihatkan rasa sedih namun sukar untuk menggambarkan suasana terharu. Mereka dapat mengekspresikan kegembiraan namun sulit mengungkapkan kekaguman (Somantri, 2005).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mc Iver (dalam Somantri, 2005) dengan menggunakan Children’s Personality Questionare ternyata anak keterbelakangan mental memiliki beberapa kekurangan. Anak retardasi mental laki-laki memiliki kekurangan berupa tidak matangnya emosi, depresi, bersikap dingin, menyendiri, tidak dapat dipercaya, impulsif, lancang, dan merusak. Sedangkan anak retardasi mental wanita memiliki kekurangan berupa mudah dipengaruhi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, dan cenderung melanggar ketentuan.

Berbagai emosi positif yang dimiliki oleh anak retardasi mental adalah seperti cinta, girang, dan simpatik, emosi ini tampak pada anak retardasi mental yang masih muda terhadap peristiwa-peristiwa yang bersifat konkret. Jika lingkungan positif terhadapnya maka mereka akanlebih menunjukan emosi tersebut. Emosi-emosi yang negatif adalah perasaan takut, giris, marah, dan benci. Biasanya rasa takut muncul pada hal-hal yang berhubungan dengan keadaan sosial.

Secara umum dapat disimpulkan kondisi emosi anak Retardasi Mental tergantung pada seberapa berat retardasi mental yang diderita. Anak dengan retardasi mental ringan kondisi emosinya hampir sama dengan kondisi emosi anak normal, anak retardasi mental ringan kondisi emosinya terbatas pada emosi yang sederhana. Sedangkan anak retardasi berat emosinya sudah mulai sulit terkontrol hal ini disebabkan pula karenanhubungan sosial yang terganggu.

 

2.8 Pencegahan

Karena penyembuhan dari retardasi mental ini boleh dikatakan tidak ada sebab kerusakan dari sel-sel otak tidak mungkin fungsinya dapat kembali normal maka yang penting adalah pencegahan primer yaitu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Dengan memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit yang potensial dapat menyebabkan retardasi mental, misalnya melalui imunisasi.

 Konseling perkawinan, pemeriksaan kehamilan yang rutin, nutrisi yang baik selama kehamilan dan bersalin pada tenaga kesehatan yang berwenang maka dapat membantu menurunkan angka kejadian retardasi mental. Demikian pula dengan mengentaskan kemiskinan dengan membuka lapangan kerja, memberikan pendidikan yang baik, memperbaiki sanitasi lingkungan, meningkatkan gizi keluarga akan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Dengan adanya program BKB ( Bina Keluarga dan Balita ) yang merupakan stimulasi mental dini dan bisa dikembangkan juga deteksi dini maka dapat mengoptimalkan perkembangan anak.

Diagnosis dini sangat penting dengan melakukan skrining sedini mungkin terutama pada tahun pertama maka dapat dilakukan intervensi yang dini pula. Misalnya diagnosis dini dan terpi dini hipotiroid dapat memperkecil kemungkinan retardasi mental. Deteksi dan intervensi dini pada retardasi mental sangat membantu memperkecil retardasi yang terjadi.

Konsep intervensi pada retardasi mental yang berdasarkan pemikiran bahwa intervensi dapat merubah status perkembangan anak. Makin sering dan makin dini intervensi dilakukan, maka makin baik hasilnya.

 Tetapi makin berat tingkat kecacatan maka hasil yang dicapai juga makin kurang. Hasil akhir suatu intervensi adalah makin dini dan teratur suatu intervensi yang diberikan makin baik hasilnya sehingga agak mengurangi kecacatannya. Namun pada anak yang penyebabnya sangat kompleks, latar belakang social dan kebiasaan yang kurang baik dan intervensi yang tidak teratur maka hasilnya juga tidak memuaskan.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Retardasi mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi mental atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap stimulus eksteren dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu organ, atau sistem kejiwaan mental atau keadaan dengan intelegensi yang kurang/rendah yang terjadi sejak masa perkembangan.

Retardasi mental bisa saja terjadi pada setiap individu / manusia karena adanya faktor-faktor dari dalam maupun dari luar, gejala yang ditimbulkan pada penderita retardasi mental umumnya rasa cemas, takut, halusinasi serta delusi yang besar.

Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan.

Karakteristik retardasi mental selain dari yang diketahui melalui definisinya dapat juga dilihat dari:

  1. ciri fisik
  2. sikap dan tingkah laku, serta
  3. perkembangannya.

Retardasi mental menurut penyebabnya, terbagi  menjadi beberapa faktor, yaitu: faktor keturunan, sebelum lahir, ketika lahir dan sesudah lahir.Akibat infeksi, gangguan metabolisme, penyakit otak post natal, gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun, pengaruh penyakit pranatal yang tidak jelas, kelainan kromosom, prematuritas, gangguan jiwa.

Jenis retardasi mental menurut PPDGJ-I (berdasarkan kemampuan mental, perilaku penyesuaian dan pengembangan jasmani) terbagi menjadi retardasi mental teraf perbatasan, ringan, sedang, berat dan sangat berat. Sedangkan secara klinis terbagi menjadi idiocy (partial atau incomplete dan complete), imbeciallity dan debil (stabil dan instabil).

Penanganan retardasi mental; Terlebih dahulu diketahui diagnosanya, kemudian diadakan pencegahan dan pengobatan serta pelatihan dan pendidikan.


Daftar Pustaka

http://haerulanwar6.blogspot.com/2014/04/asuhan-keperawatan-anak-dengan.html

http://penerjemah-mr-rujito1.blogspot.com/2012/02/makalah-perawatan-retardasi-mental.html

http://mnasrullohrz.blogspot.com/2013/04/makalah-teori-intelegensia-dan.html

http://wikipedia.com

https://psikologi05.wordpress.com/2012/06/09/retardasi-mental/

W. Santrock. Life span development edisi 13 jilid 1. Erlangga : Jakarta.

Elizabeth b. Hurlock. Psikologi perkembangan edisi kelima. Erlangga : Jakarta

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSELING EKLEKTIK

MAKALAH EMPLOYEE ENGAGEMENT DAN MODAL PSIKOLOGI