Psikoseksual Kohler
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB 1 Pendahuluan 1
1. Teori Perkembanhan Moral Kohlberg 1
1.1 Tahapan-tahapan 2
1.1.1 Pra-Konvensional 3
1.1.2 Konvensional 4
1.1.3 Pasca-Konvensional 5
1.2 Contoh dilema moral yang digunakan 6
1.3 Perubahan Moral 6
1.4 Perubahan konsep moral 8
1.5 Pembentukan kode moral 8
2. Teori Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud 9
BAB II PEMBAHASAN 14
1. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Moral dan Psikoseksua 14
2. Factor-faktor pendukung dan penghambat Psikoseksual 20
BAB III Contoh Kasus Moral dan Psikoseksual 21
A. Contoh Kasus Moral Kohlberg 21
B. Contoh Kasus atau Gangguan Psikoseksual 22
C. Cara Penanganan Gangguan Psikoseksual 25
D. Diagnosa dan Intervensi 26
E. Hasil Pasien Yang Diharapkan / Kriteria Pulang 28
BAB IV KESIMPULAN 29
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah memberika kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kitta yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang "Teori Perkembangan Moral Kohlberg dan Psikoseksual Freud", yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun. Terima kasih.
Bekasi, 9 Maret 2015
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
Definisi dan Pengertian Teori Perkembangan Moral dan Psikoseksual
Teori Perkembanhan Moral Kohlberg
Istilah moral berasal dari bahasa Latin mores yang aartinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasan (Gunarsa, 1986). Moral biasanya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi (Shaffer, 1979). Moral merupakan kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku induvidu dalam hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral merupakan standar baik buruk yang di tentukan bagi induvidu oleh nilai-nilai sosial budaya dimana induvidu sebagai anggota sosial (Rogers, 1985). Moralitas merupakan aspek kepeeribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Perilaku moral diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan.
Tokoh yang paling dikenal dalam kaitannya dengan pengkajian perkembangan moral adalah Lawrence E. Kohlberg (1995). Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya.
1.1 Tahapan-tahapan
Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini. Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.
Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
1. Orientasi kepatuhan dan hukuman
2. Orientasi minat pribadi
( Apa untungnya buat saya?)
Tingkat 2 (Konvensional)
3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas
( Sikap anak baik)
4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial
( Moralitas hukum dan aturan)
Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
5. Orientasi kontrak sosial
6. Prinsip etika universal
( Principled conscience)
1.1.1 Pra-Konvensional
Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris.
Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu. Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme.
Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu”. Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional, berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.
1.1.2 Konvensional
Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral.
Dalam tahap tiga, seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; 'mereka bermaksud baik…'.
Dalam tahap empat, adalah penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.
1.1.3 Pasca-Konvensional
Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’ ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional.
Dalam tahap lima, individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut - 'memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak'? Sejalan dengan itu, hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.
Dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini.
1.2 Contoh dilema moral yang digunakan
Kohlberg menyusun Wawancara Keputusan Moral dalam disertasi aslinya pada tahun 1958. Selama kurang lebih 45 menit dalam wawancara semi-terstruktur yang direkam, pewawancara menggunakan dilema-dilema moral untuk menentukan penalaran moral tahapan mana yang digunakan partisipan. Dilemanya berupa ceritera fiksi pendek yang menggambarkan situasi yang mengharuskan seseorang membuat keputusan moral. Partisipan tersebut diberi serangkaian pertanyaan terbuka yang sistematis, seperti apa yang mereka pikir tentang tindakan yang seharusnya dilakukan, juga justifikasi seperti mengapa tindakan tertentu dianggap benar atau salah. Pemberian skor dilakukan terhadap bentuk dan struktur dari jawaban-jawaban tersebut dan bukan pada isinya; melalui serangkaian dilema moral diperoleh skor secara keseluruhan.
1.3 Perubahan Moral
Salah satu tugas perkembangan penting yang harus di kuasai remaja adalah mempelajari apa yang di harapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian mau membentuk prilakunya agar sesuai dengan harapan sosial tanpa terus di bombing, di awasi, di dorong, dan di ancam dengan hukuman seperti yang di alami waktu anak-anak. Remaja di harapkan mengganti konsep-konsep dengan prinsip moral yang berlaku umum dan merumuskanya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi prilakunya. Tidak kalah petingginya, sekarang remaja harus mengandalkan prilakunya sendiri, yang sebelunya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru. Mitchell meringkaskan lima (1O6Dalam kotak 8-8
Pada masa remaja, lelaki dan perempuan telah mencapai apa yang oleh piaget di sebut tabap Pelaksanaan formal dalam kemampuan kongnitif sekarang remaja mampu mempertimbangka semua ke mungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkan berdasarkan suatu hipotensi atau proposisi, jadi iya memandang masalahnya dari beberapa sudut pandangan dan menselesaikan dengan mengambil banyak factor sebagai dasar pertimbangan (121
Menurut kohiberg, tahap perkembangan moral ke tigga, moraltas pascakonversional (postconventional morality ) harus di capai selama masa remaja (85) lahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap . dalam tahap pertama individu yakini bahwa harus ada kelenturandalam keyakinan moral sehingga di mungkikan adanya perbaikan dan perubahan setandar moral apa bila hal ini menguntukan anggota-anggota kelompok secara seluruhan. Dalam tahap ke dua individu menyesuaikan diri dengan standar sosial dan ideal yang diinternalissasi lebih dari pada sensir sosial. Dalam tahap ini , moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi (85)
Sekalipun dengan dasar yang terbuka , ketiga tugas poko dalam mencapai moralitas deawasa, yaitu mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum, merumuskan konsep yang baru di kembangkan ke dalam kode moral sebagai pedoman prilaku, dan melakukan pengendalian terhadap prilaku sendiri, merupakan tugas yang sulit bagi kebanyakan remaja, beberapa remaja tidak berhasil melakukan peralihan ke dalam tahap moralitas dewasa selama masa remaja dan tugas ini harus di selesaikan pada awal masa dewasa. Remaja lainya tidak hanya gagal melakukan peralihan teteapi jga membentuk kode moral berdasarkan konsep moral yang secara sosial tidak dapat diterima
1.4 Perubahan konsep moral
Ada dua kondisi yang membuat penggantian konsep moral khusus ke dalam konsep yang berlaku umum tentang benar salah yang lebih sulit dari pada yang seharusnya. Pertama kurangnya bimbingan dalam mempelajari bagai mana membuat konsep khusus berlaku umum. Dengan percaya saja bahwa remaja telah mempelajari prinsip pkoko tentang benar dan salah, orang tua dan guru jarang menekankan dalam usaha pembinaan remaja untuk melihat hubungan antara prinsip khusus yang di pelajari sebelumnya dengan prinsip umum yang penting untuk mengendalikan prilaku dalam kehidupan orang dewasa. Hanya dalam bidang baru dalam prilaku seperti hubungan dengan anggota lawan jenis, orang deawasa merasa perlu memberikan pendidikan moral lebih lanjut (92)
Kondisi kedua yang membuat sulitnya penggantian konsep moral yang berlaku khusus dengan. Konsep moral yang berlaku umum berhunguan dengan jenis di siplin yang di terapkan di rumah dan di sekolah . karena orang tua dan guru mengangususikan bahwa remaja mengetahui apa yang benar, maka penekanan ke disiplinan haya terletak pada pemberian hukuman pada prilaku salah yang di anggap sengaja di lakukan . penjelasan mengenai alas an salah tindaknya suatu prilaku jarang di tekankan dan bahkan jarang memberi ganjaran. Bagi remaja yang berprilaku benar .
1.5 Pembentukan kode moral
Ketika memasuki masa remaja, anak-anak tidak lagi begitu saja menerima kode moral dari orang tua, guru, bahkan teman-teman sebaya. Sekarang iya sendiri ingin membentuk kode moral sendiri berdasarkan konsep tentang benar dan salah yang telah di ubah yang di perbaikinya agar sesuai dengan tinggkat perkembangan yang lebih matang dan yang telah di lengkapi dengan hokum-hukum dan peraturan-peraturan yang di pelajari dari orang tua dan gurunya. Beberapa remaja bahkan melengkapi kode moral mereka dengan pengetauhan yang di peroleh dari pelajaran agama,
Pembentukan kode moral terasa sulit bagi remaja karena ketidak konsistenan dalam konsep benar dan sdalah yang di temukanya dalam ke hidupan sehari-hari . ke tidak konsistanan membuat remaja binggung dan terhalang dalam proses pembentukan kode moral yang tidak haya memuasakan tetapi akan membimbinganya untuk memperoleh dukungan sosial . lambat atau cepat sebagian besar mengerti, misalnya, bahwa teman-teman dari latar belakang sosial ekonomi, agama atau ras yang berbeda mempunyai kode yang berbeda tentang benar dan salah: bahwa kedua orang tua dan guruny asering kali lebih ketat dari pada kode teman-teman sebaya: dan sekali pun terdapat perincian peran seks tradisional yang di tujui tetapi masaih ada “setandar ganda” yang jauh lebih lunak bagi laki-laki dari pada permpuan .
Bagi anak-anak yang lebih besar berbohong merupakan hal yang buruk namun banyak remaja ’berbohong sosial’ atau berbohong untuk menghindari kemungkinan menyakitkan hati orang lain kadang-kadang dibenarkan. Keraguan semacam ini juga jelas dalam sikap terhadap mencontek, pada waktu remaja duduk di sekolah menengah atas atau pendidikan tinggi. Karena hal ini sudah agak umum, remaja menganggap bahwa teman-teman akan memaafkan perilaku ini, dan membenarkan perbuatan mencontek bila selalu ditekan untuk mencapai nilai yang baik agar dapat diterima disekolah tinggi dan yang akan menunjang keberhasilan dalam kehidupan sosial dan ekonomi dimasa-masa mendatang. Dengan meningkatnya minat pada lawan jenis, remaja menemukan bahwa pola perilaku tertentu bagi laki-laki tidak hanya dibenarkan tetapi juga dihargai meskipun sangat tidak dibenakan jika dilakukan perempuan.
Teori Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud
Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku.
Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.
Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui merokok, minum, atau makan.
Dalam Freudian psikologi , perkembangan psikoseksual adalah elemen sentral dari psikoanalisis teori dorongan seksual , bahwa manusia, sejak lahir, memiliki sebuah insting libido (nafsu seksual) yang berkembang dalam lima tahap. Setiap tahap - yang lisan , para anal , yang phallic , yanglaten , dan genital - ditandai oleh zona sensitif seksual yang merupakan sumber dari drive libidinal. Sigmund Freud mengusulkan bahwa jika anak mengalami frustrasi seksual dalam kaitannya dengan setiap perkembangan psikoseksual panggung , ia akan mengalami kecemasan yang akan bertahan menjadi dewasa sebagai neurosis , gangguan mental fungsional.
Mengingat timeline diprediksi perilaku masa kanak-kanak, ia mengusulkan " libido pembangunan "sebagai model masa kecil yang normal perkembangan seksual , dimana anak berlangsung melalui lima tahap psikoseksual - (i), oral (ii) anal, (iii) phallic, (iv) laten, dan (v) genital - di mana kesenangan sumber dalam yang berbeda zona sensitif seksual .
1. Fase Oral ( 0 – 18 Bulan)
Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral.
Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
2. Fase Anal ( 18 - 3thn )
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif.
Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini. Beberapa orang tua ‘bukan menghukum, mengejek atau malu seorang anak untuk kecelakaan. Menurut Freud, respon orangtua tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, Freud menyarankan bahwa-yg mengusir kepribadian dubur dapat berkembang di mana individu memiliki, boros atau merusak kepribadian berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian kuat-analberkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif.
3. Fase Phalic ( 3tn – 5th )
Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks Oedipusmenggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah.Namun, anak juga kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini, takut Freud disebut pengebirian kecemasan.
Istilah Electra kompleks telah digunakan untuk menggambarkan satu set sama perasaan yang dialami oleh gadis-gadis muda. Freud, bagaimanapun, percaya bahwa gadis-gadis bukan iri pengalaman penis.
Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk yang sama-seks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya. Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini, menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan. Sebaliknya, Horney mengusulkan bahwa laki-laki mengalami perasaan rendah diri karena mereka tidak bisa melahirkan anak-anak.
4. Fase Latent ( 6th – 12th )
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri.
Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah.
5. Fase Genital ( 12th – 21th )
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Moral dan Psikoseksual
Factor-faktor pendukung dan penghambat pembinaan moral siswa
Dalam melaksanankan pembinaan moral pasti ada beberapa factor yang mempengaruhinya, sedangkan factor-faktor tersebut ikut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan pembinaan moral. Adapun factor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembinaan morar dapat penulis kelompokan menjadi 6 faktor yaitu:
1. Factor yang bersumber dari dalam siswa
Factor ini di sebut factor interen, maksud nya factor yang timbul dari diri siswa itu sendiri. Dari factor ini kita dapat melihat kemungkinaan yang menjadi penghambat dan penunjang pelaksanaan pembinaan moral. Diantara adalah kesasdaran akan pentingnya moral yang baik. Dalam masaitu siswa sangant memerlukan bimbingan untuk menjadi diri sendiri dengan demikian kita dapat memahami karekter yang akan timbul dalam diri siswa tersebut.
2. Factor yang timbula dari lingkungan keluarga
keluarga merupakan kesatuan social yang paling sederhana dalam kehidupan manusia. Anggota nya terdiri dari ayah-ibu dan anak, bagi anak-anaka keluarga merupakan lingkungan yang pertama dikenal. Dengan demikian kehidupan keluarga merupakan fase pertama yang pembentukan social bagi anak.
Menurut islam anak merupakan amanat dari Allah bagi kedua orang tuanya ia mempunyai jiwa yang suci dan cemerlang, bila ia sejak kecil di biasakan berbuat baik. Pendidikan yang dilatih secara continue akan menumbuhkan dan dapat berkembang menjadi anak yang baik pula. Dan sebaliknya apabila ia di biasakan berbuat buruk, nantinya ia akan terbiasa berbuat buruk pula dan menjadi rusak metala dan morar mereka. Oleh karena itu perlu dibentuknya lembaga pendidikan, walaupun pendidikan yang pertama dan utama. (Muhaimin, Abdul Mulib, 1993:290)
Sebagia pendidikan yang pertama dan utama keluarga dapat mencetak anak agar mempunyai kepribadiaan yang kemudian dapat di kembangkan dalam lembaga pendidikan berikutnya. Sehingga wewenang lembaga-lembga tersebut tidak di pwerkenangkan mengubah apa yang di milikinya, tetapi cukup dengan mengkombinasikan antara pendidikan keluarga dengan pendidikan lembaga. Tingkah llaku anak tidak hanya di pengaruhi oleh bagaimana sikap orang tua yang berada dalam lingkungan keluarga itu. Melainkan juga bagaimana sikap mereka dan di luar rumah. Dalam halini peranan orang tua penting sekali untuk mengikuti dapa saja yang di butuhkan oleh anak dalam rangka perkembangan nilai-nila anak.
Orang tua harus bisa menciptakan keadaan dimana anak bisa berkembang dalam suasana ramah, ikhlas, jujur dan kerjasama yang di perhatikan oleh masing-masing angota keluarga dalam kehidupan mereka seharihati. Sebaliknya sulit untuk menumbuhkan sikap yang baik pada anak di kemudian hari, bilamana anak tumbuh dan berkembang dalam suasana pertikaian, pertengkaran, ketidak jujuran menjadihal yang biasa dalam hubungan antara anggota keluarga atqaupun dengan orang yang ada di luar rumah. Kebijakan orang tua menciptakan suasana baik baik dalam rumah, menuntut pengertian yang cukup dari orang tua terhadap danak. Factor-faktor kemampuan pengertian akan segi pendidikan dengan sendirinya dapat mempengaruhi ataupu dtidak berarti, bahwa rendahnya taraf inteligensi yang di miliki orang tua akan menciptakan anak-anak yang kurang bermoral, ataupun sebaliknya, orang tua yang memiliki taraf kemampuan dan kecerdasan yang tinggi akan memjamin dapat menciptakan anakanak dengan nilai moral yang tinggi pula.
Demikian pula setatus ekonomi sekalipun nampak ada kecenderungan pengaruh terhadap perkembangan nilai-nilai moral anak tetapi factor lain yang mungkin lebih berperan dan akan lebih mempengaruhi. Rumanh miskin tidak berarti rumah buruk buat si anank. Kenyataanya memang susanan kemiskinan khususnya pada mereka dengan taraf social – ekonomi yang rendah sering menunjukna unsure-unsur kebersihan yang kurang di perhatikan, pembentukan cara bersikap rendah terhadap orang lain di abaikan, dengan nilai moral yang kurang di peerhatikan.
3. Factor yang bersuber dari lingkungan sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting sesuidah keluarga, karena makin besar kebutuhan siswa, maka orang tua menyerahkan tanggung jawabnya sebagain kepada lembga pendidikan. sekolah sebagai pembantu keluarga mendidik anak. Sekolah memberi pendidikan dan pengajaran kepada siswa mengenai apa yang tidak dapat atau tidak ada fkesempatan orang tu untuk memberikan pendidikan dan pengajaran di dalam keluarga.
Tugass guru dan pemimpin sekolah di samping menberikan ilmu pengetahuan, ketrampilan, juga mendidik siswa beragama. Disinilah sekolah berfungsi sebagai pembantu keluarga dalam memberikan bimbingan dan pengajaran kepada anak didik. Perndidikan budi pekerti dan keagamaan yang di selenggarakan di sekolah haruslah merupakan kelanjutan setidaknya jangan bertentangan dengan apa yang di berikan dalam keluarga.
Dalam tubuh setiap muslim yang benar-benar beriman dan melaksanankan ajaran islam mereka berusaha untuk memasukan anak mreka ke sekolah yang dibereikan pendidikan agama. Dasar kepribadian dan pola sikap siswa yang telah di peroleh melalui pertumbuhan dan perkembangan akan di alami secara melias apabila anak memasuki sekolah. Corak hubungan antara m,urit dengan guru atau antara guru dengan muri, banyak mempengaruhi aspek-aspek kepribadiaan, termasuk nilai-nilai moralyang memang masih mengalami perubahan-perubahan. Type seorang guru keras mernyebabkan sikap rendah diri pada siswa akan tetapi sikap ini akan berubah apabila menemukan guru yang bersikap demokratis.
Kepribadiaan yang di pancarkan oleh guru dapat menjadi tokoh yang di kagumi, karena itu timbul hasrat peniru terhadap sebagian adtau keseluruhan tingkah laku guru tersebut. Di pihak lain rasa tidaksengan dapat menimbulkna penilain terhadap guru menjadi negatif. Makin baik hubungan atara murit dengan guru maka makin tinggi pula nilai kejujuran dan akan lebih efektif suatu pendidikan moral yang sengaaja di lakukan dalam diri siswa.
Hubungan murit dengan murid yang baik dapat meperkecil kemungkinan tumbuhnya perbuatan perbuatan yang jauh dari nilai moral yang tinggi bilamana kelompok itu sendiri sudah mempunyai norma-norma moral yang baik pula. Melalui kegiatan kegiatan yang mengandung unsure-unsur persaingan olahraga, siswa memperoleh kesempatan bagaimana bertingkah laku yang sesuai dengan jiwa seoramg olahragawan yang seportif, menghargai dan menghormanti kekalahan orang lain, belajar berkerja sama, sehingga secara tidak langsung siswa memperoleh kesempatan untuk melatih dan meperkembangkan nilai nilai moral.
4. Factor dari lingkungan teman-teman sebaya.
Makin bertambah umur anak makin memperoleh kesempatan luas untuk mengadakan hubungan dengan teman sebayanya. Sekalipun dalam kenyataannya perbedaan umur yang relatif besar tidak menjadikan sebab tidak adanya kemungkinan melakukan hubunga-hubungan dalam suasana bermain. Siswa yang bertindak langsung atau tidak langsung sebagai pemimpin, atau yang menunjukan cirri-ciri kepemimpinan dengan sikap menguasaianak lain akan besar pengaruhnya terhadap pola sikap kepribadian mereka. Konflik akan terjadi pada siswa bilamana norma pribadi sangant berlainan dengan norma yang ada di lingkungan teman-teman dmereka. Di situlah ian inggin mepertahankan pola tingkh laku yang telah di peroleh diruma/sekolah sedangkan di pihak lain lingkungan menuntut siswa untuk meperlihatkan pola lain yang bertentangan dengan pola yang sudah ada atau sebaliknya.
Teman sepergaulan mempunyai pengaruh yang cukup besar umembuat anak menjadi anak yang baik dan juga membuat anak yang suka melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Hal ini terjadi hampir di seluruh kawasan yang ada, kawasan yang kami maksut adalah kawasan yang ada penduduknya yang masih usia remaja, orang dewasayang masih dikategorikan sebagai generasi muda. Para ahli ilmu social pada umumnya berpendapat bahwa kelompok seusia atau kelom[pok sepermainan mempunyai pengaruh yang besar terhadap remaja/generasi muda sebagai individu atau pribadi.
5. Factor dari segi keagamaan
Seorang siswa perlu mengetahui hukum dan ketentuan agama. Di samping itu yang lebih penting adalah menggerakan hati mereka untuk secara otomatis terdorong untuk mengetahui hukum dan ketentuan agama. Jangan sampai pengetahuan dan pengertian mereka tentang agama hanya sekedar pengetahuan yang tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan sehari- hari. Untuk itu diperlukan pendekatan agama dengan segala ketentuan pada kehidupan sehari-hari dengan jalan mencarikan hikmah dan manfaat setiap ketentuan agama itu. Jangan sampai mereka menyangka bahwa hukum dan ketentuan agama merupakan perintah tuhan yang terpaksa mereka patuhi, tanpa merasakan manfaat dari kepatuhan itu. Hal ini tidak dapat di capai dengan penjelasan yang sederhana saja, tetapi memerlukan pendekatan pendekatan secara sungguh-sungguh yang di dasarkan atas pengertian dan usaha yang sungguh-sungguh pula.
Kejujuran dan tingkah laku moralitas lainya yang di perhatikan seseorang siswa, tidak ditentukan bagaimana pandainya atau oleh pengertian dan pengetahuan keagamaan yang di miliki siswa melaikan bergantung sepenuhnya pada penghanyatan nili-nilai keagamaan dan pewujudannya dalam tingkah laku dan dalam hubungan dengan siswa lain.
Dalam perkembangannya seorang siswa mula-mula merasa takut untuk berbuat sesustu yang tidak baik, seperti berbohong karena larangan-larangan orang tua atau guru agama, bahwa perbuatan yang tidak baik akan di hukum oleh penguasa yang tertinggi yaitu Tuhan. Sekalipun tokoh tuhan ini adalah tokoh abstrak yang tidak kelihtan tetapi pengaruhnya besar sekali. Siswa akan menginsafi bahwa perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu perbuatan dosa derngan akibat di hukum. Ajaran-ajaran keagamaan dapat berupa petunjuk apa yang boleh dan wajar di lakukan dan dapat berupa pengontrolan untuk melakukan sesuai dengan keinginan atau kehenedaknya.
Nilai-nilai keagamaan yang di peroleh siswa pada usia muda dapat menetapkan menjadi pedoman tingkahlaku di kemudian hari. Kalau pada mulanya kepatuhan di dasarkan karena adanya rasa takut yang di asosiasikan dengan kemumgkinan memperoleh hukuman, maka lam-lama kepatuhan ini akan dapat dihayati sebagai dari cara dan tujuan hidup.
6. Factor dari aktivitas-aktivitas rekreasi
Dalam kehidupan siswa dapat mempelajari pelajaran yang di sampaikan oleh guru dan dapat mereka terapkan dalam ke kehidupan sehari-hari. Bagaimana seorang siswa mengisi waktu luanh seiring dikemukakan sebagai sesuatu yang berpengaruh besar terhadap konsep moral siswa. Orang tua dan guru menyadari betapa pentingnya bacaan pada siswa yang antara lain juga membentuk segi-segi moral bagi siswa. Perhatian dan anjuran untuk membaca ini minimbulkan keinginan dan kebebasan yang besar untuk membaca. Akan tetapi kebiassaan dan keinginan membaca ini juga di arahkan untuk membaca yang sekirana dapat membangun pikiran nya.
Dengan halini makam pemikiran siswa akan semakin meningkat dan dapat menjangkau apa yang mereka inginkan. Selain dari factor di atas masih ada factor lain yang tidak kalah pentingnya dalam menghambat pembinaan moral, di antaranya factor inteligendan jenis kelamin. Intelegensi di kemukakan dengan alasan bahwa untuk mengerti hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di butuhkan kemampuan yang baik. Sebaliknya kemampuan yang baik dan yang dapat mengeti perbuatan yang baik dan yang tidak baik. Jenis kelamin dikemukakan karena kemyataanya bahwa lebih banyak kenakalan atau kejahatan di temui pada siswa laki-laki dari pada siswa perempuan . ini pun tidak dikatakan secara umum, juga hal-hal yang sebaliknya yakni bahwa siswa perempuan lebih jujur dari pada siswa laki-laki.
Factor-faktor pendukung dan penghambat Psikoseksual
Konsep Diri
a. Pandangan individu terhadap dirinya sendiri mempunyai dampak langsung terhadap seksualitasBudaya, Nilai dan Keyakinan
a. Faktor budaya, termasuk pandangan masyarakat tentang seksualitas dapat mempengaruhi individu.
b. Tiap budaya mempunyai norma-norma tertentu tentang identitas dan perilaku seksual.
c. Budaya turut menentukan lama hubungan seksual, cara stimulasi seksual dan hal lain terkait dengan kegiatan seksual.Agama
a. Pandangan agama tertentu yang diajarkan, ternyata berpengaruh terhadap ekspresi seksualitas seseorang.
b. Berbagai bentuk ekspresi seksual yang diluar kebiasaan, dianggap tidak wajar.
c. Konsep tentang keperawanan dapat diartikan sebagai kesucian dan kegiatan seksual dianggap dosa, untuk agama tertentu.Etik
a. Seksualitas yang sehat menurut Taylor, Lilis & Le Mone (1997) tergantung pada terbebasnya individu dari rasa bersalah dan ansietas.
b. Apa yang diyakini salah oleh seseorang, bisa saja wajar bagi orang lain.
BAB III
Contoh Kasus Moral dan Psikoseksual
Contoh Kasus Moral Kohlberg
Dilema moral yang digunakan oleh Kohlberg
Kohlberg menyusun Wawancara Keputusan Moral dalam disertasi aslinya pada tahun 1958. Selama kurang lebih 45 menit dalam wawancara semi-terstruktur yang direkam, pewawancara menggunakan dilema-dilema moral untuk menentukan penalaran moral tahapan mana yang digunakan partisipan. Dilemanya berupa ceritera fiksi pendek yang menggambarkan situasi yang mengharuskan seseorang membuat keputusan moral. Partisipan tersebut diberi serangkaian pertanyaan terbuka yang sistematis, seperti apa yang mereka pikir tentang tindakan yang seharusnya dilakukan, juga justifikasi seperti mengapa tindakan tertentu dianggap benar atau salah. Pemberian skor dilakukan terhadap bentuk dan struktur dari jawaban-jawaban tersebut dan bukan pada isinya; melalui serangkaian dilema moral diperoleh skor secara keseluruhan.
Dilema Heinz
Salah satu dilema yang digunakan Kohlberg dalam penelitian awalnya adalah dilema apoteker: Heinz Mencuri Obat di Eropa.
Seorang perempuan sudah hampir meninggal dunia akibat semacam kanker. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya.
Obat itu adalah semacam radium yang baru saja ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Obat itu mahal ongkos pembuatannya, tetapi si apoteker menjualnya sepuluh kali lipat ongkos pembuatannya tersebut. Ia membayar $200 untuk radium tersebut dan menjualnya $2.000 untuk satu dosis kecil obat tersebut. Suami dari perempuan yang sakit, Heinz, pergi ke setiap orang yang dia kenal untuk meminjam uang, tapi ia cuma memperoleh $1.000, setengah dari harga obat seharusnya. Ia berceritera kepada apoteker bahwa isterinya sudah sekarat dan memintanya untuk dapat menjual obat dengan lebih murah atau memperbolehkan dia melunasinya di kemudian hari. Tetapi si apoteker mengatakan: “Tidak, saya yang menemukan obat itu dan saya akan mencari uang dari obat itu.” Heinz menjadi putus asa dan membongkar apotek tersebut untuk mencuri obat demi istrinya.
Haruskah Heinz membongkar apotek itu untuk mencuri obat bagi isterinya? Mengapa?
Dari sudut pandang teoretis, apa yang menurut partisipan perlu dilakukan oleh Heinz tidaklah penting. Teori Kohlberg berpendapat bahwa justifikasi yang diberikan oleh partisipanlah yang signifikan, bentuk dari repon mereka.
Contoh Kasus atau Gangguan Psikoseksual
Penyimpangan Perilaku Seksual
1.`Transeksualisme
Rasa tidak nyaman yang menetap dan adanya ketidakwajaran seks dengan preokupasi yang menetap (sedikitnya untuk 2 tahun) dengan menyisihkan karakteristik seks primer dan sekunder dan memperoleh karakteristik lawan jenis.
2. Gangguan identitas jender pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa.
Tekanan yang kuat dan menetap mengenai status sebagai laki-laki atau perempuan dengan keinginan yang kuat untuk berjenis kelamin lawan seks dan penanggalan struktur anatomis individu.
3. Pedofilia
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain yang melibatkan seorang anak atau lebih yang berusia 13 tahun kebawah.
4. Eksibisionisme
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain dengan memamerkan genitalnya kepada orang asing/orang yang belum dikenal.
5. Sadisme Seksual
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain yang menimbulkan kesakitan yang nyata atau stimulasi psikologis dan penderitaan fisik.
6. Masokisme Seksual
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan ,fantasi atau rangsangan lain yang melibatkan penghinaan, pemukulan, pengikatan atau hal-hal lain yang sengaja dilakukan untuk menderita.
7. Voyeurisme
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsunag selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain yang melibatkan pengamatan terhadap orang-orang yang telanjang, sedang meninggalkan pakaian atau sedang melakukan kegiatan seksual tanpa diketahui mereka.
8. Fetisisme
Terjadi hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain dengan menggunakan objek mati.
9. Fetisisme Transvestik
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berlangsung selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain dengan menggunakan pakaian orang lain.
10. Frotterurisme
Terjadinya hubungan yang menetap, sedikitnya berakhir 6 bulan antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan lain meraba tanpa persetujuam pihak lain.
11. Gangguan keinginan Seksual Hipoaktif
Defisit yang menetap/berulang atau tidak terdapatnya fantasi seksual dan keinginan untuk melakukan kegiatan seksual.
12. Gangguan Keengganan Seksual
Keengganan yang berlebihan dan menetap dan menghindari semua atau hampir semua kontak dengan pasangan seksual.
13. Gangguan Rangsangan Seksual
Kegagalan yang menetap dan sebagian untuk mencapai atau mempertahankan respons fisiologis dari kegiatan seksual atau hilangnya kepuasan seksual selama kegiatan seksual dilakukan.
14. Hambatan Orgasme
Keterlambatan yang menetap atau tidak adanya orgasme yang menyertai pada saat fase puncak hubungan seksual, walaupun menurut tenaga profesional terhadap intensitas, lama dan fokus yang sesuai dengan usia individu.
Disfungsi Psikoseksual
Gambaran utama dari Disfungsi Psikoseksual adalah terdapat hambatan pada perubahan psikofisiologik yang biasanya terjadi pada orang yang sedang bergairah seksual.
1. Hambatan selera seksual
Sukar atau tidak bis timbul minat seksual sama sekali secara menetap dan meresap.
2. Hambatan gairah seksual:
Pada laki-laki: gagal sebagian atau seluruhnya untuk mencapai atau mempertahankan ereksi sampai akhir aktivitas seksual (impotensia).
Pada wanita: gagal sebagai atau seluruhnya untuk mencapai atau mempertahankan pelumasan dan pembengkakan vagina (yang merupakan respons gairah seksual wanita) sehingga akhir dari aktivitas seksual (frigiditas).
3. Hambatan orgasme wanita
Berulang-ulang atau menetap tidak terjadi orgasme pada wanita setelah terjadi gairah seksual yang lazim selama aktivitas seksual.
4. Hambatan orgasme pria
Berulang-ulang atau menetap tidak terjadi ejakulasi atau terlambat berejakulasi setelah terjadi fase gairah seksual yang lazim selama aktivitas seksual.
5. Ejakulasi prematur
Secara berulang-ulang dan menetap terjadi ejakulasi sebelum dikehendaki karena tidak adanya pengendalian yang wajar terhadap ejakulasi selama aktivitas seksual.
6. Dispareunia fungsional
Rasa nyeri yang berulang dan menetap pada alat kelamin sewaktu senggama, baik pada pria maupun wanita.
7. Vagina fungsional
Ketegangan otot vagina yang tidak terkendali sehingga mengalami senggama.
Cara Penanganan Gangguan Psikoseksual
1. Menggunakan pendekatan yang jujur dan berdasarkan fakta yang menyadari bahwa klien sedang mempunyai pertanyaan atau masalah seksual
2. Mempertahankan kontak mata dan duduk dekat klien
3. Memberikan waktu yang memadai untuk membahas masalah seksual, jangan terburu-buru
4. Menggunakan pertanyaan yang terbuka, umum dan luas untuk mendapatkan informasi mengenai pengetahuan, persepsi dan dampak penyakit berkaitan dengan seksualitas
5. Jangan mendesak klien untuk membicarakan mengenai seksualitas, biarkan terbuka untuk dibicarakan pada waktu yang akan datang
6. Masalah citra diri, kegiatan hidup sehari-hari dan fungsi sebelum sakit dapat dipakai untuk mulai membahas masalah seksual
7. Amati klien selama interaksi, dapat memberikan informasi tentang masalah apa yang dibahas, begitu pula masalah apa yang dihindari klien
8. Minta klien untuk mengklarifikasi komunikasi verbal dan nonverbal yang belumjelas
9. Berinisiatif untuk membahas masalah seksual berarti menghargai klien sebagai makhluk seksual, memungkinkan timbulnya pertanyaan tentang masalah seksual.
D. Diagnosa dan Intervensi
Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh, penganiayaan fisik (seksual), depresi.
Batasan Karakteristik :
a. Tidak adanya hasrat untuk aktivitas seksual.
b. Perasaan jijik, ansietas, panik sebagai respons terhadap kontak genital.
c. Tidak adanya pelumasan atau sensasi subjektif dari rangsangan seksual selama aktivitas seksual.
d. Kegagalan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis selama aktivitas seksual.
e. Ketidakmampuan untuk mencapai orgasme atau ejakulasi.
f. Ejakulasi premature.
g. Nyeri genital selama koitus.
h. Kontriksi vagina yang mencegah penetrasi penis
Tujuan Jangka Pendek :
a. Pasien akan mengidentifikasi stresor yang berperan dalam penurunan fungsi seksual dalam 1 minggu.
b. Pasien akan mendiskusikan patofisiologi proses penyakitnya yang menimbulkan disfungsi seksual dalam 1 minggu.
c. Untuk pasien dengan disfungsi permanen karenan proses penyakit : pasien akan mengatakan keinginan untuk mencari bantuan profesional dari seorang terapis seks supaya belajar alternatif cara untuk mencapai kepuasan seksual dengan pasangannya dalam dimensi waktu ditetapkan sesuai individu
Tujuan Jangka Panjang :
a. Pasien akan mendapatkan kembali aktivitas seksual pada tingkat yang memuaskan untuk dirinya dan pasangannya (dimensi waktu ditentukan oleh situasi individu).
Intervensi :
a. Kaji riwayat seksual dan tingkat kepuasan sebelumnya dalam hubungan seksual.
b. Kaji persepsi pasien terhadap masalah.
c. Bantu pasien menetapkan dimensi waktu yang berhubungan dengan awitan masalah dan diskusikan apa yang terjadi dalam situasi kehidupannya pada waktu itu.
d. Kaji alam perasaan dan tingkat energi pasien.
e. Tinjau aturan pengobatan, observasi efek samping.
f. Anjurkan pasien untuk mendiskusikan proses penyakit yang mungkin menambah disfungsi seksual.
g. Dorong pasien untuk menanyakan hal-hal yang berkenaan dengan seksual dan fungsi yang mungkin menyusahkan dirinya.
2. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan pilihan sksual yang berbeda, penyesuaian diri terhadap seksual terlambat.
Batasan Karakteristik :
a. Laporan adanya kesukaran, pembatasan atau perubahan dalam perilaku atau aktivitas seksual.
b. Laporan bahwa getaran seksual hanya dapat dicapai melalui praktik yang berbeda.
c. Hasrat untuk mengalami hubungan seksual yang memuaskan dengan individu lain tanpa butuh getaran melalui praktik yang berbeda.
Tujuan Jangka Pendek :
a. Pasien akan mengatakan aspek-aspek seksualitas yang ingin diubah.
b. Pasien dan pasangannya akan saling berkomunikasi tentang cara-cara dimana masing-masing meyakini hubungan seksual mereka dapat diperbaiki.
Tujuan Jangka Panjang :
a. Pasien akan memperlihatkan kepuasan dengan pola seksualitasnya sendiri.
b. Pasien dan pasangannya akan memperlihatkan kepuasan dengan hubungan seksualnya.
Intervensi :
a. Ambil riwayat seksual, perhatikan ekspresi area ketidakpuasan pasien terhadap pola seksual.
b. Kaji area-area stress dalam kehidupan pasien dan periksa hubungan dengan pasangan seksualnya.
c. Catat faktor-faktor budaya, sosial, etnik dan religius yang mungkin menambah konflik yang berkenaan dengan praktik seksual yang berbeda.
d. Terima dan jangan menghakimi.
e. Bantu therapy dengan perencanaan modifikasi perilaku untuk membantu pasien yang berhasrat untuk menurunkan perilaku-perilaku seksual yang berbeda.
f. Jika perubahan pola seksualitas berhubungan dengan penyakit atau pengobatan medis, berikan informasi untuk pasien dan pasangannya berkenaan dengan hubungan antara penyakit dan perubahan seksual.
E. Hasil Pasien Yang Diharapkan / Kriteria Pulang
1. Pasien mampu menghubungkan faktor-faktor fisik atau psikososial yang mengganggu fungsi seksual
2. Pasien mampu berkomunikasi dengan pasangannya tentang hubungan seksual mereka tanpa merasa tidak nyaman
3. Pasien dan pasangannya mengatakan keinginan dan hasrat untuk mencari bantuan dari terapi seks yang professional
4. Pasien mengatakan kembali bahwa aktivitas seksualnya ada pada tahap yang memuaskan dirinya dan pasangannya
5. Pasien dan pasangannya mengatakan modifilkasi dalam aktivitas seksual dalam berespon pada keterbatasan karena penyakit atau tindakan medis
BAB IV
Kesimpulan Moral dan Psikoseksual
Moral
Menurut kohiberg, tahap perkembangan moral ke tigga, moraltas pascakonversional (postconventional morality ) harus di capai selama masa remaja lahap ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap . dalam tahap pertama individu yakini bahwa harus ada kelenturandalam keyakinan moral sehingga di mungkikan adanya perbaikan dan perubahan setandar moral apa bila hal ini menguntukan anggota-anggota kelompok secara seluruhan. Dalam tahap ke dua individu menyesuaikan diri dengan standar sosial dan ideal yang diinternalissasi lebih dari pada sensir sosial. Dalam tahap ini , moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi.
Psikoseksual
Perilaku penyimpangan seksual merupakan tingkah laku seksual yang tidak dapatditerima oleh masyarakat dan tidak sesuai dengan tata cara serta norma-norma agama.Penyimpangan seks dikuasai oleh kebutuhan-kebutuhan neorotis dengan dorongan-dorongan non-seks dari pada kebutuhan erotis yang pada akhirnya menutun seseorang paad tingkah laku menyimpang.
Proses Perkembangan Kesadaran Diri terhadap Seksualitas terdiri dari 4 tahap yaitu :Tahap Ketidaksesuaian Kognitif, Tahap Ansietas,Tahp Marah, Tahap Tindakan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi seksualitas yaitu : Pertimbangan Perkembangan, Kebiasaan Hidup Sehat dan Kondisi Kesehatan, Peran dan Hubungan, konsep diri, Budaya, Nilai dan Keyakinan, Agama, etik.
Jenis – jenis Penyimpangan perilaku seksual yaitu : Transeksualisme, Gangguan identitas jender pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa, Pedofilia, Eksibisionisme, Sadisme Seksual, Masokisme Seksual, Voyeurisme, Fetisisme, Fetisisme Transvestik, Frotterurisme, Gangguan keinginan Seksual Hipoaktif, Gangguan Keengganan Seksual, Gangguan Rangsangan seksual, Hambatan Orgasme.
Referensi
Kohlbreg, L.E. 1970. The Moral Atmosphere of the School. Dalam N. Overley (Ed.), The Unstudied Curriculum. Washington D.C.: Monograph of the Association for Supervision and Curriculum Development.
______ . 1984. Education, Moral Development and Faith. Journal of Moral
______. 1995. Tahap-tahap Perkembangan Moral. (Ahli Bahasa: John de Santo dan Agus Cremers). Yogyakarta: Kanisius.
Sarlito W. Sarwono, Psikologi remaja, edisi revisi. Penerbit Rajawali Pers, Jakarta 1986.
Santrock, Jhon W. (2002). Child Development (eleventh ed.), (alih bahasa: Mila R & Anna K). Jakarta: Erlangga.
Sigmund Freud, Jurnal Tahap Perkembangan Moral, (www.belajarpsikologi.com), posted Haryanto, S.Pd. 2010
Komentar