KONSELING EKLEKTIK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sesi konseling, konselor pastilah menghadapi keunikan,
keragaman, dan kompleksitas masalah yang dialami konseli. Terkadang untuk
terentasnya masalah konseli tidak dapat dilaksanakan melalui satu pendekatan
secara khusus, konselor harus mengkombinasikan berbagai pendekatan yang ada
untuk membantu mengentaskan masalah konseli. Menurut para pendukung pendekatan
ini, menggunakan satu pendekatan konseling saja dalam sesi konseling akan
membatasi ruang gerak konselor, sehingga tidak dapat memberikan bantuan secara
maksimal. Pendekatan konseling ini sering disebut dengan pendekatan konseling
eklektik.
Meskipun
pendekatan ini tidak dilandasi oleh teori tertentu, teknik konseling eklektik
ini telah diakui sebagai salah satu pendekatan dalam konseling, dan justru
termasuk pendekatan yang paling sering dilakukan oleh konselor dalam
praktiknya. Pendekatan eklektik tidak hanya menggabungkan dua pendekatan yang
sering dipakai, yakni pendekatan langsung atau tidak langsung. Lebih dari itu,
pendekatan ini menggabungkan pendekatan-pendekatan lain dalam psikoterapis,
diantaranya psikoanalisis dengan behavioristik, atau terapi-kognitif dengan
pendekatan terpusat pada pribadi (person centered).
Konseling eklektik
diperkenalkan pertama kali oleh Frederick Thorne. Teknik ini merupakan hasil
analisis Thorne terhadap sumbangan-sumbangan pemikiran dari berbagai teori
dalam psikologi konseling, dan mencoba mengintegrasikan unsure-unsur positif
pada masing-masing teori konseling tersebut ke dalam sistematika baru yang
terpadu, baik secara teoritis maupun praktis. Konseling eklektik dianggap
sesuai untuk diterapkan untuk individu-individu yang tergolong normal, yaitu
individu yang tidak menunjukkan gejala-gejala kelainan dalam kepribadiannya,
atau individu yang tidak mengalami gangguan kesehatan mental yang berat.
Pada pendekatan
konseling eklektik, konselor memiliki kebebasan dalam metodologi dan
menggunakan berbagai ketrampilan konseling yang dimiliki. Peran konselor,
tahapan, dan teknik konseling pada pendekatan konseling eklektik dilakukan
dengan fleksibel. Konselor dapat berperan sebagai psikoanalisis, mitra konseli,
motivator, pelatih, atau peran-peran lainnya tergantung pada kombinasi
pendekatan konseling yang dipakai. Oleh karenanya, dalam menerapkan pendekatan
konseling ini, diperlukan kejelian dan kecermatan konselor dalam memilih dan
mengkombinasikan pendekatan dan teknik konseling yang dianggap paling tepat.
Konselor dituntut untuk memiliki kecakapan dan kemampuan menggunakan
teknik-teknik dan pendekatan yang dipergunakannya.
Prayitno (Diniaty, 2013)
menjelaskan lebih tinggi lagi tingkat keprofesionalan konseling adalah jika
praktik konseling eklektik diberi warna khas oleh nuansa-nuansa positif yang
memancar dari diri pribadi konselor, yang disebut dengan konseling mempribadi.
Ciri-cirinya adalah : (a) konselor
menguasai sejumlah teori konseling beserta teknologinya secara mendalam (b) mampu
memilih dan menerapkan secara tepat teori beserta teknologinya untuk menangani permasalahan
klien dan (c) pemberian warna pribadi yang khas sehingga tercipta praktik konseling
yang benar-benar ilmiah, tepat guna, produktif dan unik. Konselor yang telah mempribadi,
telah mampu menerapkan teori dalam konseling yang dikreasikan dan dimodifikasi sendiri
sehingga bisa memunculkan teori baru.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Konseling Eklektik?
2.
Apa perbedaan Konseling Ekletik dengan pendekatan lain?
3.
Apa tujuan dari Konseling?
4.
Apa saja tahapan dalam Konseling?
5.
Apa saja perananan dalam Konseling?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari Konseling Eklektik
2.
Untuk mengetahui dan memahami perbedaan antara Konseling Eklektik dengan
pendekatan lain
3.
Untuk mengetahui dan memahami tujuan dari Konseling
4.
Untuk mengetahui dan memahami tahapan-tahapan yang ada pada Konseling
5.
Untuk mengetahui dan memahami peranan dalam Konseling
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
TOKOH
DAN PENDEKATAN KONSELING EKLETIK
Eklektikisme adalah pandangan yang berusaha menyelidiki
berbagai sistem metode, teori, atau doktrin yang dimaksudkan untuk memahami dan
bagaimana menerapkannya dalam situasi yang tepat. Teori-teori yang dipelajari
tersebut dalam beberapa hal dikatakan benar sekalipun tampak satu dengan
lainnya saling bertentangan. Eklektik berusaha untuk mempelajari teori-teori
yang ada dan menerapkannya dalam situasi
yang dipandang tepat.
Pendekatan konseling eklektik berarti konseling yang
didasarkan pada berbagai konsep dan tidak berorientasi pada satu teori secara
eksklusif. Eklektikisme berpandangan bahwa sebuah teori memiliki keterbatasan
konsep, psrosedur dan teknik. Karena itu Eklektikisme “dengan sengaja”
mempelajari berabagai teori dan menerapkannya sesuai dengan keadaan rill klien.
Konseling eklektik dapat pula disebut dengan
pendekatan konseling integrative. Perkembangan pendekatan ini sudah dimulai
sejak tahun 1940-an, yaitu ketika F.C Thorne menyumbangkan pemikirannya dengan
mengumpulkan dan menyumbangkan pemikirannya dengan mengumpulkan dan mengevaluasi
sumua metode konseling yang ada. (Gilliland dkk,1984 dalam Latipun, 2003).
Dari tahun 1945 hinggan meninggalnya tahun 1978,
Thorne telah memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi upaya
pengintegrasian seluruh pengetahuan psikologi ke dalam pendekatan yang
sistematis dan komperensif untuk konseling dan psikoterapi. Ari kerja kerasnya
ini Thorne memperoleh sambutan psitif dan sangat luas dari kalangan psikolog.
Hal ini ditunjukan dengan kenyataan bahwa pada 1945 tidak ada anggota APA
khususnya Devisi Psikologi Klinis yang berkiblat pada eklektik, dan pada 1970
lebih 50 % anggota APA telah merujuk pada eklektik. Pertengahan tahun 1970-an
64% telah berorientasi pada eklektik. Oleh karna itu menurut Prochoska,
konseling eklektik telah menjadi airan konseling yang popular diantara terapi
modern yang ada.
Pada akhir 1960-an hingga 1977 R.Carkhuff juga telah
mengembangkan konseling eklektik, dengan cara melkukan testing dan riset secara
komprensif, sistematik, dan terintegrasi. Ahli lain yang turut membantu penegmbangan
konseling eklektiik diantaranya adalaah G. Egan (1975) dengan istilah systemic helping. (Fitriyani, 2015)
B.
PERBANDINGAN
EKLEKTIK DENGAN PENDEKATAN LAIN
Sebagaimana
telah dijelaskan pada bagian diatas bahwa eklektik berusaha mempelajari berbagaai
teori dan menerapkan sesuai dengan keadaan kelian. Berangkat dari cara
pandangan eklektik yang demikian ini yang perlu mendapatkan jawaban adalah
dimana keistimewaan pendekataan ini dibandingkan dengan teori-teori yang lain?
Untuk membrikan jawan terhadap penrtanyaan ini Capuzzi dan Gross mengemukakan
bahwa dalam penerapannya ada tiga macam aliran konseling yaitu formalism atau
puritisme , sinkretisme dan Eklektikisme. Perbedaan ketiga aliran ini
dijelaskan sebagai berikut.
1.
Formalisme
ataau Puritiesme
Penganut
Formalisme ini “ menerima atau tidak sama sekali” sebuah teori. Dia setuju
denga teori tertentu sehingga seluruh
kerangka teoretiknya secara bulat tanpa ada kritik sedikitpun. Teori yang tidak
disetujui akan ditolaknya keseluruhannya. Dengan dimikian pengurus Formalisme
akan menerima apa adanya tanpa kritik.
2.
Sinkretisme
Pandangan
ini beranggapaan bahwa setiap teori adalah baik, efektif, dan positif. Kalangan
sinkretisme akan menerapkan teori-teori yang diipelajari, tanpa perlu melihat
kerangka dan latar belakang teori itu dikembangkan. Dihubung-hubungkan
teori-teori itu tanpa ada sistem yang jelas dan teratur. Penganut sinkretisme
akan mencampur aduk teori yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan
kehendaknya sendiri.
3.
Eklektikisme
Penganut
pandangan eklektik akan menyeleksi berbagai pendekatan yang ada. Perinsipnya
setiap teori memiliki kelemahan dan keungglan. Suatu teori dapat diterapkan
kelemahan dan keunggulan. Suatu teori dapat diterapkan sesuai dengan masalah
klien dan situasinya. Konselor menyeleksi teori-teori yang ada dan membawa ke
dalam menyeleksi teori-teori yang ada dan membawa ke dalam kerangka kerja
prinsip-prinsip teoritik dan prosedir praktis.
Atas
dasar pengertian ini makan penganut konseling eklektik akan menggunakan
konsep-konsep secaara tetap dari teori itu. Jika teori (A) lebih tepat untuk
kasus klien dia akan menggunakannya ,jika tidak akan dipilih teori lain yang
lebih sesuai. Hal ini sejalan dengan definisi yang dikemukakan Prochaska
(Latipun, 2003) bahwa konseling eklektik merupakan penerapanprinsip-prinsip
psikologi untuk memecahkan penerpan masalah-masalah personal, dengan menerapkan
prinsip khusus yang ditetapkan
berdasarkan masalah khusus yang dipecahkan.
C.
TEORI
KEPRIBADIAN
Sebagaimana dikemukakan Gilliland dkk (Latipun, 2003)
konseling eklektik merupakan teori konseling yang tidak memiliki teori atau
prinsip kusus tentang kepribadian. Namun penganut eklekti berangggapan bahwa
konselor eklektik pada dasarnya peduli dengan teori kepribadian. Mereka
meneriak bahwa validasi pendekatan eklektik tergantung pada pengetahuan yang
dimiliki.
Teori kepribadian eklektik pada
dasarnya menghubungkan elemen-elemen yang ada dari keseluruhan teori kedalam
satu kerangka kerja untuk menjelaskan tingkah laku manusia. Thorne mengemukakan
konseling eklektik menggunakan data klien yang utama adalah data yang di
peroleh oleh study secara individual terhadap klien yang meliputi keseluruhan
kehidupan sehari-hari dan terus mengalami perubahan.
Eklektik memandang kepribadian mencakup konsep yang
terintegrasi bersifat psikologis, perubahan dinamins, aspek perkembangan
organisasi dan faktor budaya. Integritas di maksudkan bahwa organisasi berada
dalam perkembangan yang terjadi secara terus menerus dan organism itu sendiri
secara konstan mengembangkan, mengubah dan mengalami integritas pada tingkat
yang berbeda. Integritas tertinggi pada semua individu adalah aktualisasi diri
atau integritas yang memuaskan dari keseluruhan kebutuhan.
Eklektik mengutamakan aspek kondisi psikologis dari
pada sifat kepribadian sebagai focus sentral yang lain dari kepribadian. Throne
memandang tingkah laku atau kepribadian berada dalam perubahan terus menerus,
selalu berkembang dan berubah dalam dunia yang berubah pula. Menurut Gilly Land
“hokum perubahan universal” menyatakan bahwa tingkah laku adalah hasil dari
“(A)status organism, tetapi tidak statis, (B)status situasi dalam perubahan
lingkungan interpersonal, dan “(C) situasi atau kondisi umum.
Menurut ekletik kebutuhan dasar klein adalah
mencapai dan memelihara kemungkinan tertinggi dari level integrasinya panjang
waktu. Dengan hal ini berarti klein memiliki keadaan psikologis dan memandang
kesadaran sebagai pusat utamanya.
D.
ASUMSI
KONSELING
Bagaimana konseling itu harus dilakukan? Ekletik
memiliki sejumlah asumsi dasar berkaitan dengan proses konseling. Asumsi dasar
itu adalah: (1) tidak ada sebuah teori yang dapat menjelaskan seluruh situasi
klein dan (2) pertimbangan professional atau pribadi konselor adalah faktor
penting akan keberhasilan konseling pada berbagai tahap proses konseling.
Menurut Gili Land (Latipun, 2003) asumsi-asumsi di
atas di tunjang oleh kenyataan berikut.
1. Tidak
ada dua klein atau situasi klein yang sama
2. Setiap
klein dan konselor adalah pribadi yang berubah dan berkembang. Tidak ada
pribadi atau situasi konseling yang sangat statis
3. Konselor
yang efektif menunjukan fleksibelitas dalam perbendaharaan aktivitas, berada
pada kontinum dari non direktif ke direktif
4. klein
adalah pihak yang saling tahu dengan probelmnya.
5. Konselor
menggunakan keseluruhan sumber professional dan personal yang tersedia dalam
situasi pemberian bantuan.
6. Konselor
dan proses konseling dapat salah dan dapat tidak mampun untuk melihat secara
jelas atau cepat berhasil dalam setiap konseling atau situasi klein.
7. Kompetensi
konselor menyadari kualifikasi professional setiap personal dan
kekurangan-kekurangannya, dan kompetensi itu bertanggung jawab untuk menjamin
proses konseling secara etis tertangani dan dalam keadaan yang sangat diminati
klein dan masyarakat.
8. Kepuasan
klein lebih diutamakan di atas pemenuhan kebutuhan konselor.
9. Banyak
perbedaan pendekatan yang strategis berguna bagi konseptualisasi dan pemecahan
setiap permasalahan.
10. Banyak
masalah yang kelihatan sebuah dilemma yang tidak dapat di pecahkan dan selalu
ada berbagai alternatifnya.
11. Secara
umum efektivitas konseling adalah proses yang dikerjakan dengan klein bukan
kepada atau untuk klein.
E.
TUJUAN
KONSELING
Tujuan konseling menurut ekletik adalah
membantu klien mengembangakan intergritasnnya pada level yang tertinggi, yang
ditandai oleh adanya aktualisasi diri dan intergritas yang memuaskan.
Untuk mencapai tujuan yang ideal ini
maka klien perlu di bantu untuk menyadari sepenuhnya situasi masalahnya,
mengajarkan klein secara sabar dan intensif memiliki latihan pengendalian
diatas masalah tingkah laku. Konselor dalam mencapai tujuan ini dapat berperan
secara bervariasi, misalanya sebagai konselor, psikiater, guru, konsultan,
mentor atau pelatih.
F.
STRATEGI
KONSELING
1. Hubungan
konselor dan Klien
Untuk
mencapai hasil yang sebaik-baiknya, konseling ekletik memandan penting adanya
hubungan postif antara konselor dan klein. Hubungan ini tergantung pada
a.
Iklim konseling
b. Ketrampilan
hubungan
c. Komunikasi
verbal dan Non Verbal
d. Kemampuan
mendengarkan
Kemampuan
konselor dalam menciptakan hubungan akan membantu proses konseling
2. Interview
Dalam
hubungan konseling kemampuan melakukan interview adalah salah satu strategi
yang perlu di perhatikan. Ekletik memandang interview sebagai strategi untuk
membangun atau menciptakan struktur hubungan. Awal interview merupakan tahap
untuk membuka, dan menciptakan hubungan kepercayaan. Dengan interview ini akan
dapat mengindentifikasi dan menjelaskan peran dan tanggung jawab konselor pada
klein, mengidentifikasi alasan kelin datang ke konselor, membangun kepercayaan
dan hubungan, harapan keterbatasan hubungan konseling.
3. Asesmen
Asesmen
berarti meramalkan gaya hidup, pandangan, kesehatan kleinnya, dan sebagainya.
Asesmen
berguna untuk mengidentifikasikan alternative dan mengembangakan alternative
itu secara realistic, merencanakan tindakan dan membantu klein meningkatkan
potensinya. Asesmen sebaiknya diperoleh dengan metode yang komprehensif, dan
sebagainya tergantung pada situasi dan kebutuhannya.
4. Perubahan
ide
Ekletik
memandang bahwa alternative pemecahan dilaksanakan dengan sangat fleksibel.
Jika alternatif yang semula ternyata tidak efektif, maka pemecahan masalah
dapat diganti dengan cara-cara lain yang lebih efektif. Menurut ekletik
konselor membutuhkan fleksibelitas pemikiran dan fleksibelitas dalam pemecahan
masalah.
G.
TAHAPAN
KONSELING
Tahapan konseling ekletik sebenarnya tidak menganut
tahapan-tahapan yang spesisifik. Carkhuff sebagai salah seorang ahli pada
pendekatan ekletik ini mengemukakan model konseling sistematik yaitu tahap
eksplorasi masalah, tahapan perumusan, tahap idetifikasi alternatif, tahap
perencanaan, tahap tindakan atau komitmen, dan tahap penilaian dan umpan balik
( Gilli Land dalam Latipun, 2003). Keenam tahap ini akan dijelaskan sebagai
berikut.
1. Tahap
eksplorasi masalah
Pada
tahap ini yang terpenting adalah konselor menciptakan hubungan baik dengan
klein, membangun saling kepercayaan, menggali pengalaman klein pada perilaku
yang lebih dalam, mendengarkan apa yang menjadi perhatian klein, menggali
pengalaman-pengalam klein dan merespon isi, perasaan dan arti yang dibicarakan
klein
2. Tahap
perumusan masalah
Masalah-masalah klein baik afeksi,
kognisi, maupun tingkah laku diperhatikan oleh konselor. Setelah itu keduanya,
konselor dan klein, merumuskan dan membuat kesepakatan masalah apa yang sedang
dihadapi. Masalah sebaiknya dirumuskan dalam Terminologi yang jelas. Jika
rumusan masalah tidak disepakati perlu kembali ketahap pertama.
3. Tahap
identifikasi alternatif
Konselor bersama klein
mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan dari rumusan masalah yang
telah disepekati. Alternatif yang di identifikasi adalah yang sangat mungkin
dilakukan, yaitu yang tepat dan realistik. Konselor dapat membantu klein
menyusun daftar alternatif-alternatif, dan klein memiliki kebebasan untuk
memilih alternatif yang ada. Dalam hal ini konselor tidak boleh menentukan
alternatif yang harus dilakukan klein.
4. Tahap
perencanaan
Jika klien telah menetapkan pilihan
dari sejumlah alternatif, selanjutnya menyusun rencana tindakan. Rencana
tindakan ini menyangkut apa saja yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya,
kapan mulai di lakukan dan sebagainya. Rencana yang baik realistic, bertahap,
tujuan setiap tahap juga jelas dan dapat di pahami oleh klien dengan kata lain,
rencana yang di buat bersifat tentative sekaligus pragmatis
5. Tahap
tindakan atau komitmen
Tindakan berarti operasionalisasi
rencana yang di susun. Konselor perlu mendorong klien untuk berkemauan untuk
berkemauan melaksanakan rencana-rencana itu. Usaha klien untuk meleksanakan
rencana sangat penting bagi keberhasilan konseling, karna tanpa ada tindakan
nyata proses konseling tidak ada artinya.
6. Tahap
penilaian dan umpan balik
Konselor dan klien perlu
mendapatkan umpan balik dan penilaian tentang keberhasilannya. Jika ternyata
ada kegagalan maka perlu di dicari apa yang menyebabkan dank lien harus bekerja
mulai dari tahap yang mana lagi. Mungkin diperlukan rencana-rencana baru yang
lebih sesuai dengan keadaan klien dan perubahan-perubahan yang di hadapi klien.
Jika ini yang di perlukan maka konselor dank lien secara fleksibel menyusun
alternatif atau rencana yang lebih tepat.
H.
PERANAN
KONSELOR
Peran konselor eklektik sebenarnya tidak terdefinisi
secara khusus. Hanya saja dikemukkan peran konselor sangat ditentukanoleh
pendekatan yang digunakan dalam proses konseling itu. jika dalam proses
konseling itu menggunakan pendekatan psikoanalisis, maka peran konselor adalah sebagai
psikoanalisis, sementara jika pendekatan yang digunakan adalah terpusat pada
person maka perannya sebagai patner klien dalam membuka diri terhadap segenap pengalamannya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendekatan konseling eklektik
berarti konseling yang didasarkan pada berbagai konsep dan tidak berorientasi
pada satu teori secara eksklusif. Eklektikisme berpandangan bahwa sebuah teori
memiliki keterbatasan konsep, psrosedur dan teknik. Karena itu Eklektikisme
“dengan sengaja” mempelajari berabagai teori dan menerapkannya sesuai dengan
keadaan rill klien.
Konseling eklektik dapat pula
disebut dengan pendekatan konseling integrative. Perkembangan pendekatan ini
sudah dimulai sejak tahun 1940-an, yaitu ketika F.C Thorne menyumbangkan
pemikirannya dengan mengumpulkan dan menyumbangkan pemikirannya dengan
mengumpulkan dan mengevaluasi sumua metode konseling yang ada. ( Gilliland
dkk,1984).
B.
Saran
Diharapkan calon konselor tidak mempertanyakan mana pendekatan konseling
yang paling baik diterapkan selama proses konseling, karena setiap persoalan
yang dihadapi konseli berbeda-beda, sehingga membutuhkan cara yang berbeda pula
dalam menyelesaikannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Diniaty,
A. 2013. Urgensi Teori Konseling Dan
Perspektifnya Dalam Islam Menjawab Tuntutan Konseling Religius Di Masa Depan. Jurnal Al-Ta’lim,
1(4). Hlm: 312-323
Fitriyani, I.N., dkk. 2015. Pendekatan Konseling Ekletik. Makalah.
Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Pancasakti Tegal
Latipun. 2003. Psikologi Konseling. Malang: UPT
Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang
Komentar