TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET & PSIKOSOSIAL ERICKSON
DAFTAR ISI
Kata Pengntar.................................................................................................................i
Daftar Isi........................................................................................................................ii
BAB I..............................................................................................................................4
PENDAHULUAN..........................................................................................................4
1.1
Latar Belakang.........................................................................................5
BAB
II..............................................................................................................................5
2.1 Biografi Jean
Piaget...........................................................................................5
2.2 Pengertian
Kognitif............................................................................................5
2.3 Prinsip Dasar Teori Jean Piaget.........................................................................6
2.4 Teori Perkembangan Kognitif
Piaget.................................................................7
2.5 Tahap Perkembangan Kognitif Menurut
Piaget.................................................8
2.6 Contoh Penerapan Teoti Kognitif
Piaget...........................................................13
2.7 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Kognitif.......................................15
2.8 Pengertian Psikososial........................................................................................16
2.9 Teori Perkembangan Psikososial Erik
Erikson...................................................17
2.9 Tahap Perkembangan Hidup Manusia................................................................19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teori Perkembangan Kognitif, adalah teori yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Biografi Jean Piaget
Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swiss ,pada 9 Agustus 1896 dan meninggal 16 September 1980 pada umur 84 tahun. Beliau merupakan anak pertama dari Arthur piaget dan Rebecca Jackson. Beliau adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan Swiss, yang terkenal karena hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya.
2.2 Pengertian Kognitif
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuanrasional ( akal ).Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses
atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh
orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda denganteori behavioristik, yang
lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara
kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
Kognitif adalah salah satu ranah
dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikanpotensi intelektual
yang terdiri dari tahapan :
·
pengetahuan ( knowledge )
·
pemahaman (
comprehention )
·
penerapan ( aplication )
·
analisa (
analisis )
·
sintesa (
sinthesis )
·
evaluasi ( evaluation ).
Kognitif
berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuanrasional ( akal ).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda denganteori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
2.3 Prinsip Dasar Teori Jean Piaget
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang
menyeluruh, yangmencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi &
psikologis ( perkembangan jiwa ).Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri
sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh: manusia tidak mempunyai
mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusiatidak mempunyai
kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyaikeahlian
dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk
memproduksipakaian & kendaraan untuk transportasi.Faktor yang berpengaruh
dalam perkembangan kognitif, yaitu :
1. Fisik Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontakdengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensiindividu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
2. KematanganKematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaatsecara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untukperkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secarakognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifatkontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.
Pengaruh sosialLingkungan sosial termasuk peran bahasa
dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu ataumenghambat perkembangan
struktur kognitif.
4. Proses pengaturan diri ( ekuilibrasi )Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu denganlingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan jasmani yangmenyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.
2.4 Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Teori perkembangan kognitif Jean Piaget secara kuat mempengaruhi cara kita melihat bagaimana individu belajar dan proses individu membangun pengetahuan mereka sendiri. Hal ini terutama berlaku dalam disiplin ilmu matematika. Konsep matematika dibangun satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan teori Jean Piaget menganggap langkah-langkah melalui proses yang terjadi.
Setiap tahap perkembangan kognisi Piaget akan digambarkan dan ditandai, tahap perkembangan matematika dapat dijadikan dasar yang kokoh untuk pembelajaran matematika di masa depan. Kesimpulannya akan dapat mengahsilkan implikasi umum mengenai pengetahuan tentang tahap perkembangan untuk instruksi matematika.
Asumsi yang mendasari yaitu Piaget percaya bahwa perkembangan anak terjadi melalui transformasi terus-menerus proses pemikiran. Suatu tahap perkembangan terdiri dari periode bulan atau tahun pada saat pengembangan tertentu mengambil tempat. Piaget percaya bahwa pengembangan anak-anak yang tetap dan secara bertahap terus menerus sepanjang tahapan yang bervariasi dan pengalaman akan membentuk fondasi untuk gerakan selanjutnya. Semua orang melewati setiap tahap sebelum memulai satu tahapan berikutnya; tidak ada yang melompat setiap tahap.
2.5 Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Piaget berpendapat bahwa ada empat tahap yang kita lalui ketika memahami dunia.Setiap tahap memiliki kaitan dengan usia dan mengandung cara brpikir tertentu,cara yamg berbeda dalam memahami dunia.Dengan demikian,menurut Piaget kognisi anak di sebuah tahap saling berbeda secara kualitatif yaitu :
1.
Tahap sensorimotor
Tahap pertama pengembangan yang diidentifikasi
Piaget adalah tahap sensorimotor. Ini umumnya terjadi antara kelahiran sampai dua tahun. Pada titik ini, anak-anak
belajar menggunakan pancaindra mereka dan perlu pengalaman nyata untuk memahami
konsep dan ide-ide. Tahap ini ditandai dengan perolehan progresif keabadian dalam objek anak
menjadi mampu untuk menemukan benda setelah diganti, bahkan
jika benda-benda telah dibawa keluar sudut pandangnya. Sebagai contoh, percobaan Piaget pada
tahap ini yaitu
menyembunyikan objek dibawah bantal untuk melihat apakah bayi dapat menemukan
objek. Karakteristik tambahan
anak-anak ini tahap adalah kemampuan mereka untuk menghubungkan nomor ke objek
(Piaget, 1977) (misalnya, satu anjing, dua kucing, tiga babi, empat kudanil).
Untuk mengembangkan kemampuan matematika anak
ditahap ini, kemampuan anak mungkin akan meningkat jika diberikan banyak
kesempatan untuk bertindak terhadap lingkungan yang tidak terbatas (namun aman)
sebagai cara untuk mulai membangun konsep. Bukti
menunjukkan bahwa anak-anak pada tahap sensorimotor memiliki beberapa pemahaman
tentang konsep angka dan menghitung. Pendidik dalam tahap pengembangan anak harus
meletakkan pondasi matematika yang kuat
dengan menyediakan kegiatan yang menggabungkan menghitung dan dengan
demikian meningkatkan pengembangan konseptual anak-anak mengenai angka. Misalnya, guru dan orangtua dapat membantu anak-anak menghitung
jari-jari mereka, mainan, dan permen. Kegiatan lain yang bisa meningkatkan
perkembangan matematis anak-anak pada tahap ini yaitu menghubungkan
matematika dan bahasa. Ada banyak buku anak-anak yang berisi matematika. Karena anak-anak pada tahap ini dapat
menghubungkan angka ke objek, didapat manfaat dari melihat gambar benda dan angka mereka
masing-masing secara bersamaan. Seiring dengan manfaat matematika, buku
anak-anak dapat berkontribusi untuk pengembangan keterampilan membaca dan
pemahaman. .
Piaget
berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan
pemahamanspatial atau persepsi penting dalam enam sub-tahapan :
a) Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubunganterutama dengan refleks.
b) Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan danberhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan – kebiasaan.
c) Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulandan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d) Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelasbulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanenwalau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e) Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belasbulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f) Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awalkreativitas.
2. Tahap preoperasional
Tahap kedua perkembangan kognitif diidentifikasi
oleh Jean Piaget adalah tahap preoperasional, selama 2-7 tua tahun. Selama periode ini, anak-anak dapat melakukan satu langkah mengenai masalah logika, mengembangkan
bahasa, operasi egosentris dan terbatas pada logika. Pengembangan anak-anak
terus berlanjut, dan tahap ini menandai awal memecahkan masalah yang lebih
matematis berdasarkan seperti penambahan dan pengurangan.
Persepsi anak dalam tahap pengembangan umumnya terbatas pada satu aspek atau dimensi
objek dengan mengorbankan aspek lain. Mengajar siswa dalam tahap pengembangan ini harus
menggunakan kuisioner yang efektif tentang karakteristik objek. Misalnya,
ketika siswa menyelidiki bentuk-bentuk geometris, guru bisa meminta siswa untuk
berkelompok sesuai dengan bentuk dengan
karakteristik yang
sama. Terlibat dalam diskusi atau interaksi dengan anak-anak dapat
menimbulkan penemuan anak-anak dari berbagai cara untuk kelompok suatu objek,
sehingga membantu anak-anak berpikir tentang kuantitas dalam cara baru.
3. Tahap Operasional Konkret
Tahap berikutnya pengembangan kognitif Piaget adalah tahap operasional konkret yaitu anak antara usia 7-11 tahun. Seorang anak akan mampu berpikir logis dan mulai mengelompokkan berdasarkan beberapa ciri dan karakteristik daripada hanya berfokus pada representasi visual. Secara matematis, tahap ini merupakan tahap pengembangan baru yang luar biasa untuk anak. Karena anak sekarang dapat mengklasifikasikan berdasarkan beberapa fitur. Sementara anak-anak sebelumnya terbatas sudut pandang mereka sendiri, mereka sekarang dapat mempertimbangkan sudut pandang lain. Mereka juga dapat mulai memahami ide-ide dan klasifikasi lebih menyeluruh dan mengembangkan cara menyajikan solusi dalam berbagai cara. Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak pada menyajikan beberapa solusi, diskusi di kelas bisa sangat membantu.
Tahap ketiga
adalah ditandai dengan pengembangan
kognitif yang luar biasa, yaitu ketika pengembangan dan penguasaan keterampilan
dasar anak-anak mengenai
bahasa mempercepat secara signifikan. Pengalaman dan berbagai cara
dari solusi matematika dapat cara membina pengembangan tahap kognitif. Pentingnya kegiatan ini memberikan siswa
jalan untuk membuat gagasan abstrak, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh ide-ide
matematika dan konsep sebagai alat yang berguna untuk memecahkan masalah.Proses-proses
penting selama tahapan operasional konkret adalah :
a) Pengurutankemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, biladiberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar keyang paling kecil.
b) Klasifikasikemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya,ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapatmenyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasanlogika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
c) Decenteringanak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisamemecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendeklebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
d) Reversibilityanak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali kekeadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
e) Konservasimemahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungandengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anakdiberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan kegelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkirlain.
f) Penghilangan sifat Egosentrismekemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebutberpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Sitimenyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkanboneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasikonkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotakwalau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.d. Tahapan operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget.
g) Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampaidewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak,menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini,seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segalasesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihatdari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besarlainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral,perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnyamencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikirsebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
4. Tahap Operasi Formal
Tahap terakhir pengembangan kognitif Piaget adalah tahap operasional formal, yaitu anak-anak yang berusia antara 11-16 tahun dan terus sepanjang masa dewasa. Ini menandai perubahan yang berbeda pada proses berpikir anak, berpikir lebih logis dan abstrak. Anak pada tahap ini mampu membentuk hipotesis dan konsekuensi yang mungkin menyusun kesimpulan, memungkinkan anak untuk membangun matematika sendiri. Selain itu, biasanya mulai berkembang pola pikir abstrak dimana penalaran menggunakan simbol-simbol murni tanpa perlu gambaran data. Misalnya, peserta didik operasional formal dapat memecahkan x + 2x = 9 tanpa harus mengacu pada situasi konkret yang disajikan oleh guru, seperti, "Toni makan permen dengan jumlah tertentu. Kakaknya makan dua kali lebih banyak. Mereka makan bersama-sama sembilan permen. Berapa banyak permen yang dimakan Tony?"
Keterampilan penalaran dalam tahap ini mengacu pada proses mental yang terlibat dalam generalisasi dan evaluasi argumen yang meliputi klarifikasi, inferensi, evaluasi, dan aplikasi. Klarifikasi mengharuskan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur masalah, yang memungkinkan mereka untuk menguraikan informasi yang dibutuhkan dalam memecahkan suatu masalah. Inferensia mengharuskan untuk membuat kesimpulan induktif dan deduktif dalam matematika. Evaluasi mengharuskan kriteria menilai kecukupan solusi masalah. Aplikasi melibatkan siswa menghubungkan konsep-konsep matematika ke kehidupan nyata.
Dalam pandangan Piaget, anak-anak secara aktif membangun dunia kognitif mereka dengan menggunakan skema untuk menjelaskan hal-hal yang mereka alami. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas seseorang menggunakan dan mengadaptasi skema mereka:
1. Asimilasi adalah proses
menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat
subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau
informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada
sebelumnya.
2. Akomodasi adalah bentuk penyesuaian
lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi
baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula
terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.
2.6 Contoh Penerapan Teori Kognitif Piaget
Untuk memudahkan Anda memahami teori
kognitif Piaget berdasarkan ketiga tahapan di atas, maka ditampilkan contohnya.
Jika seorang siswa SD kelas satu sudah belajar dan mengenal jenis-jenis huruf.
Lalu gurunya memperkenalkan cara menggabungkan huruf hingga dapat dibaca dalam
bunyi kata, maka proses penyatuan antara jenis huruf nan ada di benak si murid
dengan proses penggabungan huruf hingga dapat dibaca dalam bentuk (informasi
baru). Inilah nan dinamakan dengan asimilasi.
Sedangkan akomodasinya, jika siswa diberi soal latihan membaca kata demi kata lalu ia dapat menerapkan ilmu nan dimilikinya dan sukses menjawabnya. Adapun equilibrasinya terletak pada kemampuannya dengan proses penggabungan huruf hingga dapat dibaca menjadi bunyi kata dan ia bisa terus mengembangkan dan menambah ilmunya. Tak hanya itu, ia sekaligus bisa menjaga stabilitas mental di dalam dirinya.
Pendapat Piaget Tentang Pendidikan
Menurut Piaget, pengalaman
pendidikan harus dibangun di seputar struktur kognitif pembelajar. Anak-anak
berusia sama dan dari kultur nan sama cenderung memiliki struktur kognitif nan
sama, tetapi ialah mungkin bagi mereka buat memiliki struktur kognitif nan
berbeda dan karenanya membutuhkan jenis materi belajar nan berbeda pula.
Di satu sisi, materi pendidikan nan
tak dapat diasimilasikan ke struktur kognitif anak tak akan bermakna bagi anak.
Jika, di sisi lain, materi dapat diasimilasi secara komplek, tak akan ada
proses belajar nan terjadi. Agar belajar terjadi, materi perlu sebagiannya
sudah diketahui dan sebagian laginya belum diketahui. Bagian nan sudah
diketahui akan diasimilasi, dan bagian nan belum diketahui akan menimbulkan
modifikasi dalam struktur kognitif anak. Modifikasi ini disebut akomodasi, nan
bisa disamakan dengan belajar.
Jadi, menurut Piaget, pendidikan nan
optimal membutuhkan pengalaman nan menantang bagi si pembelajar sehingga proses
asimilasi dan akomodasi bisa menghasilkan pertumbuhan intelektual. Untuk
menciptkaa jenis pengalaman ini, guru harus tahu level fungsi struktur kognitif
siswa.
Dapat ditarik pemahaman, baik Piaget maupun kaum behavoris telah mendapatlan konklusi nan sama dalam pendidikan, yaitu pendidikan harus diindividualisasikan. Piaget mendapatkan konklusi ini dengan menyadari bahwa kemampuan buat mengasimilasi akan bervariasi dari satu anak ke anak nan lain dan bahwa materi pendidikan harus disesuaikan dengan struktur kognitif anak.
2.7 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pengembangan kognitif dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut :
·
Faktor Hereditas/Keturunan
Teori hereditas atau nativisme pertama kali dipelopori oleh seorang ahli
filsafat. Dia berpendapat bahwa manusia lahir sudah membawa potensi-potensi
tertentu yang tidak dapat dipengaruhi lingkungan. Berdasarkan teorinya, taraf
intelegensi sudah ditentukan sejak anak dilahirkan, sejak faktor lingkungan tak
berarti pengaruhnya.
Para ahli psikologi Loehlin, Lindzey dan Spuhler berpendapat bahwa taraf
intelegensi 75-80% merupakan warisan atau faktor keturunan. Pembawaan
ditentukan oleh ciri-ciri yang dibawa sejak lahir (batasan kesanggupan).
·
Faktor Lingkungan
Teori lingkungan atau empirisme dipelopori oleh Jhon Locke. Dia berpendapat
bahwa manusia dilahirkan sebenarnya suci atau tabularasa. Menurut pendapatnya,
perkembangan manusia sangatlah ditentukan oleh lingkungannya. Berdasarkan
pendapat Jhon Locke tersebut perkembangan taraf intelegensi sangatlah
ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan
hidupnya.
·
Kematangan
Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika telah
mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan
berhubungan erat dengan usia kronologis (usia kalender)
·
Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi. Pembentukan dapat dibedakan menjadi pembentukan
sengaja (sekolah/formal) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam
sekitar/informal), sehingga manusia berbuat intelejen karena untuk
mempertahankan hidup ataupun dalam bentuk penyesuaian diri.
·
Minat Dan Bakat
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Apa yang menarik minat seseorang mendorngnya untuk berbuat lebih
giat dan lebih baik lagi. Sedangkan bakat diartikan sebagai kemampuan bawaan,
sebagai potensi yang masih perlu dikembangan dan dilatih agar dapat terwujud.
Bakat seseorang akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Artinya, seseorang
yang memiliki bakat tertentu, maka akan semakin mudah dan cepat mempelajari hal tersebut.
·
Kebebasan
Kebebasan yaitu kebebasan manusia berpikir divergen (menyebar) yang berarti
bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang etrtentu dalam memecahkan
masalah-masalah, juga bebas dalam memilih masalah sesuai kebutuhannya.
2.8 Pengertian Psikososial
Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia
dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial
ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti
Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa
tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson
adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui
interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan
pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan
orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan
dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson
disebut sebagai teori perkembangan psikososial.
Erikcson
memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8
(delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya
bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat
berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan
dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika
tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika
tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan
perasaan tidak selaras.
.
2.9
Teori Perkembangan
Psikososial
Erik
Erikson
Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan Erik Erikson merupakan
salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan
Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini
dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga
lanjut usia; satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Selain itu karena Freud
lebih banyak berbicara dalam wilayah ketidaksadaran manusia, teori Erikson yang
membawa aspek kehidupan sosial dan fungsi budaya dianggap lebih realistis.
Teori
Erikson dikatakan sebagai salah satu teori yang sangat selektif karena
didasarkan pada tiga alasan, antara lain :
Ø teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki
hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian
manusia.
Ø menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi
pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan.
Ø menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya
dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang
dapat memberikan kekuatan atau kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam
sebuah lingkungan.
Melalui teorinya Erikson memberikan
sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan
suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang
dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu,
teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian
yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia.
Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya
sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat
dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. . Bagi Erikson,
dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan
dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak
dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini
dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti
bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh
pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi
matang secara fisik dan psikologis. Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan
dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan
genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga
dimasukkannya cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan
sekaligus dibentuk oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.
Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah
sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap
yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses
yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah
dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu
bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigenetic. Di mana Erikson dalam
teorinya mengatakan melalui sebuah rangkaian kata yaitu :
·
Pada
dasarnya setiap perkembangan dalam kepribadian manusia mengalami keserasian
dari tahap-tahap yang telah ditetapkan sehingga pertumbuhan pada tiap individu
dapat dilihat/dibaca untuk mendorong, mengetahui, dan untuk saling
mempengaruhi, dalam radius soial yang lebih luas
·
Masyarakat,
pada prinsipnya, juga merupakan salah satu unsur untuk memelihara saat setiap
individu yang baru memasuki lingkungan tersebut guna berinteraksi dan berusaha
menjaga serta untuk mendorong secara tepat berdasarkan dari perpindahan didalam
tahap-tahap yang ada.
Dalam bukunya yang berjudul “Childhood
and Society” tahun 1963, Erikson membuat sebuah bagan untuk mengurutkan
delapan tahap secara terpisah mengenai perkembangan ego dalam psikososial, yang
biasa dikenal dengan istilah “delapan tahap perkembangan manusia”. Erikson
berdalil bahwa setiap tahap menghasilkan epigenetic. Epigenetic berasal dari
dua suku kata yaitu epi yang artinya “upon” atau sesuatu yang sedang
berlangsung, dan genetic yang berarti “emergence” atau kemunculan.
Gambaran dari perkembangan cermin mengenai ide dalam setiap tahap lingkaran
kehidupan sangat berkaitan dengan waktu, yang mana hal ini sangat dominan dan
karena itu muncul , dan akan selalu terjadi pada setiap tahap perkembangan
hingga berakhir pada tahap dewasa, secara keseluruhan akan adanya
fungsi/kegunaan kepribadian dari setiap tahap itu sendiri.
Selanjutnya, Erikson berpendapat bahwa tiap tahap psikososial juga disertai
oleh krisis. Perbedaan dalam setiap komponen kepribadian yang ada didalam
tiap-tiap krisis adalah sebuah masalah yang harus dipecahkan/diselesaikan.
Konflik adalah sesuatu yang sangat vital dan bagian yang utuh dari teori Erikson,
karena pertumbuhan dan perkembangan antar personal dalam sebuah lingkungan
tentang suatu peningkatan dalam sebuah sikap yang mudah sekali terkena serangan
berdasarkan fungsi dari ego pada setiap tahap.
2.9 Tahap Perkembangan Hidup Manusia
Delapan tahap/fase perkembangan kepribadian menurut
Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat
biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis
diantara dua polaritas. Adapun tingkatan dalam delapan tahap perkembangan yang
dilalui oleh setiap manusia menurut Erikson adalah sebagai berikut :
Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel
berikut ini :
|
Developmental Stage |
Basic Components |
|
Infancy
(0-1 thn) Early
childhood (1-3 thn) Preschool
age (4-5 thn) School
age (6-11 thn) Adolescence
(12-10 thn) Young
adulthood ( 21-40 thn) Adulthood
(41-65 thn) Senescence (+65 thn) |
Trust vs
Mistrust Autonomy vs
Shame, Doubt Initiative vs
Guilt Industry vs
Inferiority Identity vs
Identity Confusion Intimacy vs
Isolation Generativity
vs Stagnation Ego Integrity vs Despair |
1.
Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust –
mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak
mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya,
tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu
kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia
bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda
asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau
menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi
pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah
menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk
hadirnya suatu ketidakpercayaan. Kepercayaan ini akan terbina dengan baik
apabila dorongan oralis pada bayi terpuaskan, misalnya untuk tidur dengan
tenang, menyantap makanan dengan nyaman dan tepat waktu, serta dapat membuang
kotoron (eliminsi) dengan sepuasnya. Oleh sebab itu, pada tahap ini ibu
memiliki peranan yang secara kwalitatif sangat menentukan perkembangan
kepribadian anaknya yang masih kecil. Apabila seorang ibu bisa memberikan rasa
hangat dan dekat, konsistensi dan kontinuitas kepada bayi mereka, maka bayi itu
akan mengembangkan perasaan dengan menganggap dunia khususnya dunia sosial
sebagai suatu tempat yang aman untuk didiami, bahwa orang-orang yang ada
didalamnya
dapat
dipercaya dan saling menyayangi. Kepuasaan yang dirasakan oleh seorang bayi
terhadap sikap yang diberikan oleh ibunya akan menimbulkan rasa aman, dicintai,
dan terlindungi. Melalui pengalaman dengan orang dewasa tersebut bayi belajar
untuk mengantungkan diri dan percaya kepada mereka. Hasil dari adanya
kepercayaan berupa kemampuan mempercayai lingkungan dan dirinya serta juga
mempercayai kapasitas tubuhnya dalam berespon secara tepat terhadap
lingkungannya.
Sebaliknya,
jika seorang ibu tidak dapat memberikan kepuasan kepada bayinya, dan tidak
dapat memberikan rasa hangat dan nyaman atau jika ada hal-hal lain yang membuat
ibunya berpaling dari kebutuhan-kebutuhannya demi memenuhi keinginan mereka
sendiri, maka bayi akan lebih mengembangkan rasa tidak percaya, dan dia akan
selalu curiga kepada orang lain.
Hal
ini jangan dipahami bahwa peran sebagai orangtua harus serba sempurna tanpa ada
kesalahan/cacat. Karena orangtua yang terlalu melindungi anaknya pun akan
menyebabkan anak punya kecenderungan maladaptif. Erikson menyebut hal ini
dengan sebutan salah penyesuaian indrawi. Orang yang selalu percaya tidak akan
pernah mempunyai pemikiran maupun anggapan bahwa orang lain akan berbuat jahat
padanya, dan akan memgunakan seluruh upayanya dalam mempertahankan cara pandang
seperti ini. Dengan kata lain,mereka akan mudah tertipu atau dibohongi.
Sebaliknya, hal terburuk dapat terjadi apabila pada masa kecilnya sudah
merasakan ketidakpuasan yang dapat mengarah pada ketidakpercayaan. Mereka akan
berkembang pada arah kecurigaan dan merasa terancam terus menerus. Hal ini ditandai dengan munculnya frustasi, marah, sinis,
maupun depresi.
Pada dasarnya setiap manusia pada tahap ini tidak dapat
menghindari rasa kepuasan namun juga rasa ketidakpuasan yang dapat menumbuhkan
kepercayaan dan ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal inilah yang akan menjadi
dasar kemampuan seseorang pada akhirnya untuk dapat menyesuaikan diri dengan
baik. Di mana setiap individu perlu mengetahui dan membedakan kapan harus
percaya dan kapan harus tidak percaya dalam menghadapi berbagai tantangan
maupun rintangan yang menghadang pada perputaran roda kehidupan manusia tiap
saat.
Adanya perbandingan yang tepat atau apabila keseimbangan
antara kepercayaan dan ketidakpercayaan terjadi pada tahap ini dapat
mengakibatkan tumbuhnya pengharapan. Nilai lebih yang akan berkembang di dalam
diri anak tersebut yaitu harapan dan keyakinan yang sangat kuat bahwa kalau
segala sesuatu itu tidak berjalan sebagaimana mestinya, tetapi mereka masih
dapat mengolahnya menjadi baik.
Pada aspek lain dalam setiap tahap
perkembangan manusia senantiasa berinteraksi atau saling berhubungan dengan
pola-pola tertentu (ritualisasi). Oleh sebab itu, pada tahap ini bayi pun
mengalami ritualisasi di mana hubungan yang terjalin dengan ibunya dianggap
sebagai sesuatu yang keramat (numinous). Jika hubungan tersebut terjalin dengan
baik, maka bayi akan mengalami kepuasan dan kesenangan tersendiri. Selain itu,
Alwisol berpendapat bahwa numinous ini pada akhirnya akan menjadi dasar
bagaimana orang menghadapi/berkomunikasi dengan orang lain, dengan penuh
penerimaan, penghargaan, tanpa ada ancaman dan perasaan takut. Sebaliknya,
apabila dalam hubungan tersebut bayi tidak mendapatkan kasih sayang dari
seorang ibu akan merasa terasing dan terbuang, sehingga dapat terjadi suatu
pola kehidupan yang lain di mana bayi merasa berinteraksi secara interpersonal atau sendiri dan
dapat menyebabkan adanya idolism (pemujaan). Pemujaan ini dapat
diartikan dalam dua arah yaitu anak akan memuja dirinya sendiri, atau
sebaliknya anak akan memuja orang lain.
- Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya
kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas
tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan,
bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di
pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat,
sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular
stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia
18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini
adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan
ragu-ragu. Apabila dalam menjalin suatu relasi antara anak dan orangtuanya
terdapat suatu sikap/tindakan yang baik, maka dapat menghasilkan suatu
kemandirian. Namun, sebaliknya jika orang tua dalam mengasuh anaknya bersikap
salah, maka anak dalam perkembangannya akan mengalami sikap malu dan ragu-ragu.
Dengan kata lain, ketika orang tua dalam mengasuh anaknya sangat memperhatikan
anaknya dalam aspek-aspek tertentu misalnya mengizinkan seorang anak yang
menginjak usia balita untuk dapat mengeksplorasikan dan mengubah lingkungannya,
anak tersebut akan bisa mengembangkan rasa mandiri atau ketidaktergantungan.
Pada usia ini menurut Erikson bayi mulai belajar untuk mengontrol tubuhnya,
sehingga melalui masa ini akan nampak suatu usaha atau perjuangan anak terhadap
pengalaman-pengalaman baru yang berorientasi pada suatu
tindakan/kegiatan yang dapat menyebabkan adanya sikap untuk mengontrol
diri sendiri dan juga untuk menerima control dari orang lain. Misalnya, saat
anak belajar berjalan, memegang tangan orang lain, memeluk, maupun untuk
menyentuh benda-benda lain.
Di lain pihak, anak dalam perkembangannya pun dapat
menjadi pemalu dan ragu-ragu. Jikalau orang tua terlalu membatasi ruang
gerak/eksplorasi lingkungan dan kemandirian, sehingga anak akan mudah menyerah
karena menganggap dirinya tidak mampu atau tidak seharusnya bertindak
sendirian.
Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu
mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata
lain, keseimbanganlah yang diperlukan di sini. Ada sebuah kalimat yang
seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya
yakni “tegas namun toleran”. Makna dalam kalimat tersebut ternyata benar
adanya, karena dengan cara ini anak akan bisa mengembangkan sikap kontrol diri
dan harga diri. Sedikit rasa malu dan ragu-ragu, sangat diperlukan bahkan
memiliki fungsi atau kegunaan tersendiri bagi anak, karena tanpa adanya
perasaan ini, anak akan berkembang ke arah sikap maladaptif yang disebut
Erikson sebagai impulsiveness (terlalu menuruti kata hati), sebaliknya
apabila seorang anak selalu memiliki perasaan malu dan ragu-ragu juga tidak
baik, karena akan membawa anak pada sikap malignansi yang disebut
Erikson compulsiveness. Sifat inilah yang akan membawa anak selalu
menganggap bahwa keberadaan mereka selalu bergantung pada apa yang mereka
lakukan, karena itu segala sesuatunya harus dilakukan secara sempurna. Apabila
tidak dilakukan dengan sempurna maka mereka tidak dapat menghindari suatu
kesalahan yang dapat menimbulkan adanya rasa malu dan ragu-ragu.
Jikalau dapat mengatasi krisis antara kemandirian dengan
rasa malu dan ragu-ragu dapat diatasi atau jika diantara keduanya terdapat
keseimbangan, maka nilai positif yang dapat dicapai yaitu adanya suatu kemauan
atau kebulatan tekad. Meminjam kata-kata dari Supratiknya yang menyatakan bahwa
“kemauan menyebabkan anak secara bertahap mampu menerima peraturan hukum dan
kewajiban”.
Ritualisasi yang dialami oleh anak pada tahap ini yaitu
dengan adanya sifat bijaksana dan legalisme. Melalui tahap ini anak
sudah dapat mengembangkan pemahamannya untuk dapat menilai mana yang salah dan
mana yang benar dari setiap gerak atau perilaku orang lain yang disebut sebagai
sifat bijaksana. Sedangkan, apabila dalam pola pengasuhan terdapat penyimpangan
maka anak akan memiliki sikap legalisme yakni merasa puas apabila orang lain
dapat dikalahkan dan dirinya berada pada pihak yang menang sehingga anak akan
merasa tidak malu dan ragu-ragu walaupun pada penerapannya menurut Alwisol
mengarah pada suatu sifat yang negatif yaitu tanpa ampun, dan tanpa rasa belas
kasih.
- Inisiatif vs
Kesalahan
Masa
pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty.
Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan
kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi
karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami
kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan
bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
Tahap
ketiga ini juga dikatakan sebagai tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor
stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode
tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus
diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan
(inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan. Masa-masa bermain
merupakan masa di mana seorang anak ingin belajar dan mampu belajar terhadap
tantangan dunia luar, serta mempelajari kemampuan-kemampuan baru juga merasa
memiliki tujuan. Dikarenakan sikap inisiatif merupakan usaha untuk menjadikan
sesuatu yang belum nyata menjadi nyata, sehingga pada usia ini orang tua dapat
mengasuh anaknya dengan cara mendorong anak untuk mewujudkan gagasan dan
ide-idenya. Akan tetapi, semuanya akan terbalik apabila tujuan dari anak pada
masa genital ini mengalami hambatan karena dapat mengembangkan suatu sifat yang
berdampak kurang baik bagi dirinya yaitu merasa berdosa dan pada klimaksnya
mereka seringkali akan merasa bersalah atau malah akan mengembangkan sikap
menyalahkan diri sendiri atas apa yang mereka rasakan dan lakukan.
Ketidakpedulian (ruthlessness) merupakan hasil dari maladaptif yang
keliru, hal ini terjadi saat anak memiliki sikap inisiatif yang berlebihan
namun juga terlalu minim. Orang yang memiliki sikap inisiatif sangat pandai
mengelolanya, yaitu apabila mereka mempunyai suatu rencana baik itu mengenai
sekolah, cinta, atau karir mereka tidak peduli terhadap pendapat orang lain dan
jika ada yang menghalangi rencananya apa dan siapa pun yang harus dilewati dan
disingkirkan demi mencapai tujuannya itu. Akan tetapi bila anak saat berada
pada periode mengalami pola asuh yang salah yang menyebabkan anak selalu merasa
bersalah akan mengalami malignansi yaitu akan sering berdiam diri (inhibition).
Berdiam diri merupakan suatu sifat yang tidak memperlihatkan suatu usaha untuk
mencoba melakukan apa-apa, sehingga dengan berbuat seperti itu mereka akan
merasa terhindar dari suatu kesalahan.
Kecenderungan atau krisis antara keduanya dapat diseimbangkan, maka akan lahir suatu kemampuan psikososial adalah tujuan (purpose). Selain itu, ritualisasi yang terjadi pada masa ini adalah masa dramatik dan impersonasi. Dramatik dalam pengertiannya dipahami sebagai suatu interaksi yang terjadi pada seorang anak dengan memakai fantasinya sendiri untuk berperan menjadi seseorang yang berani. Sedangkan impersonasi dalam pengertiannya adalah suatu fantasi yang dilakukan oleh seorang anak namun tidak berdasarkan kepribadiannya. Oleh karena itu, rangakain kata yang tepat untuk menggambarkan masa ini pada akhirnya bahwa keberanian, kemampuan untuk bertindak tidak terlepas dari kesadaran dan pemahaman mengenai keterbatasan dan kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya
- Kerajinan
vs Inferioritas
Masa
Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority.
Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak
sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk
mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak
lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya
kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan
kegagalan. Hambatan dan
kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
Tahap keempat ini dikatakan juga sebagai tahap laten yang
terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah
satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan
kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri. Saat
anak-anak berada tingkatan ini area sosialnya bertambah luas dari lingkungan
keluarga merambah sampai ke sekolah, sehingga semua aspek memiliki peran,
misalnya orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman
harus menerima kehadirannya, dan lain sebagainya.
Tingkatan ini menunjukkan adanya pengembangan anak terhadap rencana yang pada
awalnya hanya sebuah fantasi semata, namun berkembang seiring bertambahnya usia
bahwa rencana yang ada harus dapat diwujudkan yaitu untuk dapat berhasil dalam
belajar. Anak pada usia ini dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya
berhasil, apakah itu di sekolah atau ditempat bermain. Melalui tuntutan
tersebut anak dapat mengembangkan suatu sikap rajin. Berbeda kalau anak tidak
dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas),
sehingga anak juga dapat mengembangkan sikap rendah diri. Oleh sebab itu,
peranan orang tua maupun guru sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang
menjadi kebutuhan anak pada usia seperti ini. Kegagalan di bangku sekolah yang
dialami oleh anak-anak pada umumnya menimpa anak-anak yang cenderung lebih
banyak bermain bersama teman-teman dari pada belajar, dan hal ini tentunya
tidak terlepas dari peranan orang tua maupun guru dalam mengontrol
mereka.Kecenderungan maladaptif akan tercermin apabila anak memiliki rasa giat
dan rajin terlalu besar yang mana peristiwa ini menurut Erikson disebut sebagai keahlian sempit.
Di sisi lain jika anak kurang memiliki rasa giat dan rajin maka akan tercermin
malignansi yang disebut dengan kelembaman. Mereka yang mengidap sifat ini oleh
Alfred Adler disebut dengan “masalah-masalah inferioritas”. Maksud dari
pengertian tersebut yaitu jika seseorang tidak berhasil pada usaha pertama,
maka jangan mencoba lagi. Usaha yang sangat baik dalam tahap ini sama seperti
tahap-tahap sebelumnya adalah dengan menyeimbangkan kedua karateristik yang
ada, dengan begitu ada nilai positif yang dapat dipetik dan dikembangkan dalam
diri setiap pribadi yakni kompetensi.
Dalam lingkungan yang ada pola perilaku yang dipelajari pun berbeda dari tahap
sebelumnya, anak diharapkan mampu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan
mempergunakan cara maupun metode yang standar, sehingga anak tidak terpaku pada
aturan yang berlaku dan bersifat kaku. Peristiwa tersebut biasanya dikenal
dengan istilah formal. Sedangkan pada pihak lain jikalau anak mampu
mengerjakan segala sesuatu dengan mempergunakan cara atau metode yang sesuai
dengan aturan yang ditentukan untuk memperoleh hasil yang sempurna, maka anak
akan memiliki sikap kaku dan hidupnya sangat terpaku pada aturan yang berlaku.
Hal inilah yang dapat menyebabkan relasi dengan orang lain menjadi terhambat.
Peristiwa ini biasanya dikenal dengan istilah formalism.
- Identitas
vs Kekacauan Identitas
Tahap
kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan
berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya
kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan
didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan
yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas
diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan
identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan
berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai
penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di
satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap
kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian
peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada
masing-masing anggota
Pencapaian identitas pribadi dan menghindari
peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini.
Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena
melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam
pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana
cara seseorang terjun ke tengah masyarakat. Lingkungan dalam tahap ini semakin
luas tidak hanya berada dalam area keluarga, sekolah namun dengan masyarakat
yang ada dalam lingkungannya. Masa pubertas terjadi pada tahap ini, kalau pada tahap
sebelumnya seseorang dapat menapakinya dengan baik maka segenap identifikasi di
masa kanak-kanak diintrogasikan dengan peranan sosial secara aku, sehingga pada
tahap ini mereka sudah dapat melihat dan mengembangkan suatu sikap yang baik
dalam segi kecocokan antara isi dan dirinya bagi orang lain, selain itu juga
anak pada jenjang ini dapat merasakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dalam
kehidupan orang lain. Semuanya itu terjadi karena mereka sudah dapat menemukan
siapakah dirinya. Identitas ego merupakan kulminasi nilai-nilai ego sebelumnya
yang merupakan ego sintesis. Dalam arti kata yang lain pencarian identitas ego telah dijalani
sejak berada dalam tahap pertama/bayi sampai seseorang berada pada tahap
terakhir/tua. Oleh karena itu, salah satu point yang perlu diperhatikan yaitu
apabila tahap-tahap sebelumnya berjalan kurang lancar atau tidak berlangsung
secara baik, disebabkan anak tidak mengetahui dan memahami siapa dirinya yang
sebenarnya ditengah-tengah pergaulan dan struktur sosialnya, inilah yang
disebut dengan identity confusion atau kekacauan identitas.
Akan
tetapi di sisi lain jika kecenderungan identitas ego lebih kuat dibandingkan
dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak menyisakan sedikit ruang
toleransi terhadap masyarakat yang bersama hidup dalam lingkungannya. Erikson
menyebut maladaptif ini dengan sebutan fanatisisme. Orang yang berada dalam
sifat fanatisisme ini menganggap bahwa pemikiran, cara maupun jalannyalah yang
terbaik. Sebaliknya, jika kekacauan identitas lebih kuat dibandingkan dengan
identitas ego maka Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan pengingkaran.
Orang yang memiliki sifat ini mengingkari keanggotaannya di dunia orang dewasa
atau masyarakat akibatnya mereka akan mencari identitas di tempat lain yang
merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang
mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam
kelompoknya.
Kesetiaan
akan diperoleh sebagi nilai positif yang dapat dipetik dalam tahap ini, jikalau
antara identitas ego dan kekacauan identitas dapat berlangsung secara seimbang,
yang mana kesetiaan memiliki makna tersendiri yaitu kemampuan hidup berdasarkan
standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan,
kelemahan, dan ketidakkonsistennya.
Ritualisasi
yang nampak dalam tahap adolesen ini dapat menumbuhkan ediologi dan totalisme.
- Keintiman
vs Isolasi
Tahap
pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki
jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30
tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy
– isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat
dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai
longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya
dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan
untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang
akrab atau renggang dengan yang lainnya.
Jenjang
ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha
menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan
spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna
memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana
muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja
sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki
pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai
kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan
tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan
maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang
sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan
merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan
sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun.
Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan,
yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta,
persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam
sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
Oleh
sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan
seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks
teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk
perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan
di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan
orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.
Ritualisasi
yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi
menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk
mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih, dan lain-lain.
Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh
curiga terhadap orang lain.
- Generativitas
vs Stagnasi
Masa
dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh
orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood)
ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya
masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan
segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas,
kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat.
Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak
mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap
pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia
mengalami hambatan.
Apabila
pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai,
demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat
mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu
(generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah
perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi
yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap
memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata
stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan
dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Maladaptif
yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak punya
waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah
penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan
kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area
kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.
Harapan
yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara
generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik
yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan
otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan
yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada
usia dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang
dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka
alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara
memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan
berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
- Integritas
vs Keputusasaan
Tahap
terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh
orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence)
ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu
telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan
didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu
pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki
beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia,
hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini
individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi
pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut,
sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya
Dalam
teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil
melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini
adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap
ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang
dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan
kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa
lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri
orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat
integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena
itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini akan
bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana
sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya
integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan
maladaptif yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka
tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika
kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara
malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai
sikap sumaph serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan
antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja
guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.
BAB
III
3.1 Penutup
Perkembangan
kognitif adalah tahap-tahap perkembangan kognitif manusia mulai dari usia
anak-anak sampai dewasa; mulai dari proses-proses berpikir secara konkret
sampai dengan yang lebih tinggi yaitu konsep-konsep anstrak dan logis. Jean
Piaget seorang pakar yang banyak melakukan penelitian tentang perkembangan
kemampuan kognitif manusia, mengemukakan dalam teorinya bahwa kemampuan
kognitif manusia terdiri atas 4 tahap dari lahir hingga dewasa. Tahap dan
urutan berlaku untuk semua usia tetapi usia pada saat seseorang mulai memasuki
tahap tertentu tidak sama untuk setiap orang.
Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf LN, H. Syamsu, Dr., M.pd. 2006. Psikoogi
perkembangan anak dan remaja. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya
Rita L Atkinson. 1991.Pengantar Psikologi Jilid I, Jakarta, Airlangga:Jakarta
John, W. Santrock. 2002. LIFE-SPAN DEVELOPMENT (Perkembangan Masa Hidup). Jakarta: ERLANGGA.
Komentar