Psikologi Faal (Sensasi, Atensi, Persepsi)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sensori/sensasi adalah proses menangkap stimuli dan tahap paling awal dalam penerimaan informasi. Atensi adalah pemrosesan secara sadar sejumlah besar informasi dari sejumlah besar informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Persepsi adalah  proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. Dengan kata lain persepsi mengubah sensasi menjadi informasi.
Kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsikan, mengatensikan, dan memsensasikan sesuatu stimulus. Hasil sensasi, atensi, dan persepsi mungkin akan berbeda antara individu lain. Karena sensasi, atensi, dan persepsi bersifat individual.
1.2  Tujuan
Mengetahui secara global tentang sensasi, atensi, dan persepsi dilihat dari segi sosial, psikologi maupun yang lainnya
1.      Mengetahui pengertian dari sensasi, atensi, dan persepsi
2.      Mengetahui macam-macam dari sensasi, atensi, dan persepsi
3.      Mengetahui perbedaan dari sensasi, atensi, dan persepsi



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sensori/Sensasi
Sensasi atau sensori adalah proses mendeteksi keberadaan stimuli dari lingkungan luar melalui indra (Eksoreseptor) atau proses menerima energy rangsangan dari lingkungan luar.  Rangsangan terdiri atas energy fisik seperti cahaya, suara, dan panas. Rangsangan Pada manusia terdapat lima sistem sensori (pengindraan) eksoreseptor, yaitu sistem visual (penglihatan), sistem auditori (pendengaran), sistem somatosensori (perabaan), sistem olfactory (penciuman), dan sistem gustatory (pengecapan). Rangsangan dideteksi oleh sel reseptor khusus pada organ indra mata, telinga, kulit, hidung, dan lidah.
Reseptor Sensoris dan Otak
Seluruh sensasi dimulai dari reseptor sensoris, sel terspesialisasi yang mendeteksi dan memancarkan informasi mengenai rangsangan ke neuron dan otak. Reseptor sensoris bersifat selektif dan memiliki jalur sifat yang berbeda. Tiga kelas utama organ indra dan  sel reseptor adalah photoreception, mechanoreception, dan chemoreception.
Reseptor yang berfungsi untuk mengenali stimuli yang berasal dari lingkungan dalam tubuh, seperti nyeri, kadar oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut interoreseptor. Sel-sel interoreseptor terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan sebagainya. Pada dasarnya interoreseptor terdapat di seluruh tubuh manusia. Terdapat juga Interoreseptor yang membantu koordinasi dalam sikap tubuh dan disebut kinestesis.
Ketika sel-sel reseptor mencatat adanya rangsangan, energi tersebut dikonversi menjadi impuls kimia listrik.proses perubahan energi fisik menjadi energi kimia listrik yang disebut transduksi (transduction). Transduksi adalah konversi rangsangan lingkungan, seperti cahaya, panas, atau getaran menjadi sinyal listrik yang dapat dikenali oleh sistem saraf. Transduksi menghasilkan potensial aksi yang mengalirkan informasi mengenai rangsangan melalui sistem saraf ke otak. Ketika rangsangan ini sampai ke otak, informasi bergerak ke bagian yang berhubungan pada korteks serebrum.
Organ indra dan reseptor sensoris dimasukkan dalam beberapa kelas utama berdasarkan tipe energi yang dipancarkan. Termasuk:
·         Resepsi cahaya (photoreception)              : mendeteksi cahaya, dipersepsikan sebagai penglihatan
·         Resepsi mekanik (mechanoreception)       : mendeteksi tekanan, getaran, dan pergerakan, dipersepsikan sebagai peraba, pendengaran dan keseimbangan
·         Kemoreseptor (chemoreception)               : mendeteksi rangsangan kimiawi, dipersepsikan sebagai pengecap dan penciuman
Di dalam otak, hampir seluruh sinyal sensoris melewati talamus. Talamus merupakan stasiun pemancar kembali otak. Dari talamus, sinyal diteruskan ke daerah sensoris pada korteks serebrum, dimana sinyal ini kemudian dimodifikasi dan didistribusikan melalui jaringan neuron yang luas.
Daerah tertentu pada korteks serebrum terspesialisasi untuk menangani fungsi sensoris yang berbeda. Informasi visual diproses terutama pada lobus oksipital, pendengaran pada lobus temporal, dan rasa sakit, sentuhan, dan suhu di lobus parietal. Yang perulu diingat adalah interaksi dan jalur informasi sensori sangat kompleks dan sering kali otak harus mengoordinasikan informasi ekstensif dan menginterpretasikan. Penglihatan dan indra lain berevolusi untuk membantu binatang menyelesaikan masalah yang penting, seperti mengetahui kapan harus lari dan memahami bagaimana membangun sarang. Hal ini dimungkinkan dengan adanya sejumlah besar neuron sensoris. Hal tersebut juga memungkinkan kita untuk memersepsikan dunia dengan cara yang seragam.
Sistem sensori diatur oleh otak pada daerah-daerah sensori korteks yang terdiri dari tiga tipe yang berbeda yaitu primer, sekunder, dan asosiasi.
1.      Korteks sensori primer adalah sebuah sistem yang mencakup daerah korteks sensori yang menerima sebagian besar inputnya secara langsung dari nuklei penghantar talamik sistem tersebut.
2.      Korteks sensori sekunder adalah sebuah sistem yang mencakup daerah-daerah korteks sensori primer atau dari korteks sensori sekunder lainnya.
3.      Korteks asosiasi adalah semua daerah korteks yang menerima input lebih dari satu sistem sensori. Sebagian besar input di daerah korteks asosiasi berasal dari daerah korteks sekunder.
Interaksi di antara ketiga tipe korteks sensori ditandai dengan tiga prinsip utama, yaitu organisasi hierarkis, segregasi fungsional, dan pemrosesan paralel.
1.      Organisasi Hierarkis
Sistem sensori terorganisasi dalam suatu struktur hierarki organisasi berdasarkan pada spesifikasi dan kompleksitas fungsinya. Struktur hierarki sistem sensori dimulai dari reseptor, nuklei talamus, korteks sensori primer, korteks sensori sekunder dan korteks asosiasi. Masing-masing tingkat hierarki sensori akan menerima sebagian besar inputnya dari tingkat yang lebih rendah dan menambahkan sebuah analisis lain sebelum meneruskannya ke hierarki yang lebih tinggi, lihat Rees, Kreimen dan Koch pada tahun 2002. (Pinel, 2009).

2.2 Bagan Organisasi Hierarkis Sistem Sensori (Pinel, 2009)
Korteks Asosiasi

Korteks Sensori Sekunder

Korteks Sensori Primer

Nuklei Thalamus

Reseptor

Semakin tinggi tingkat kerusakan pada organisasi hierarkis sistem sensori, maka akan semakin spesifik dan kompleks pula kerusakannya, misalkan saja kerusakan pada reseptor akan menyebabkan kebutaan atau tuli, sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian korteks sensori sekunder atau korteks asosiasi akan menimbulkan kerusakan yang kompleks dan spesifik seperti kasus laki-laki yang mengira istrinya sebuah topi walaupun reseptor penglihatannya tidak bermasalah.
Kasus laki-laki yang salah mengira istrinya adalah sebuah topi
Dr. P adalah laki-laki yang cerdas dan tampan, ia seorang musisi dan guru. Ia dirujuk ke neurolog (Dr. Sacks) karena sering melakukan berbagai kesalahan berkaitan dengan penglihatannya.
Saat diperiksa matanya tidak ada masalah bahkan ia bisa menemukan peneti kecil di atas lantai. Masalah baru muncul saat ia akan mengenakan sepatunya, ia mengira kakinya adalah sepatunya, kemudian saat Dr. Sacks memakai sarung tangan, Dr. P mengiranya sebagai sebuah wadah yang terbagi menjadi lima bagian.
Saat ia mau pulang, ia memegang istrinya dan mencoba meletakkan di atas kepalanya sendiri, Dr. P mengira istrinya sebuah topi, tapi istrinya tidak kaget karena sudah sering terjadi. (Pinel, 2009)

2.      Segregasi Fungsional
Segregasi fungsional menjadi karakteristik organisasi dari sistem sensori saat ini, masing-masing tingkat korteks serebral primer, sekunder maupun asosiasi pada masing-masing sistem sensori terdiri dari daerah-daerah yang sangat berbeda fungsi serta spesifikasinya dengan berbagai macam analisis. Berbeda dengan sebelumnya, bentuknya homogen secara fungsional yang berarti pada tingkat hierarki sensori manapun bekerja bersama-sama dan menjalankan fungsi yang sama pada daerah korteks yang sama.
3.      Pemrosesan Paralel
Dahulu diyakini bahwa tingkat yang berbeda dalam hierarki sensori terhubung secara serial, yaitu sistem yang informasinya mengalir di antara komponen-komponen hanya di sepanjang jalur yang sama. Namun, saat ini, sistemnya berupa sistem paralel, yaitu sistem yang informasinya mengalir melalui berbagai komponen banyak jalur dalam jaringan neural. Terdapat dua jenis arus paralel yang berbeda dalam sistem sensori manusia, yaitu:
a.       Sebuah arus yang dapat memengaruhi perilaku tanpa diketahui secara sadar.
b.      Sebuah arus yang dapat memengaruhi perilaku dengan diketahui secara sadar.
Adaptasi Sensoris
Adaptasi sensoris adalah perubahan keresponsifan sistem sensoris berdasarkan tingkat rata-rata rangsangan lingkungan.
Korteks Asosiasi Sensorimotor
Berada di puncak hierarki sensorimotor. Terdapat 2 daerah korteks asosiasi sensorimotor utama:
1.      Korteks parietal posterior
2.      Korteks prefrontal dorsolateral
Masing-masing terdiri atas beberapa daerah yang berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula
1.      Korteks parietal posterior
Merupakan porsi neokorteks parietal yang letaknya posterior terhadap korteks somatosensori primer. Berperan penting dalam mengintegrasikan kedua macam informasi ini dan dalam mengarahkan perhatian. Banyak output korteks parietal posterior pergi ke daerah-daerah korteks motorik, yang berlokasi di korteks frontal: ke korteks asosiasi prefrontal dorsolateral, ke berbagai daerah korteks motorik sekunder, dan ke medan mata frontal-senuah daerah kecil korteks prefrontal yang mengontrol gerakan-gerakan mata.
Bagian korteks ini terdiri atas mosaik daerah daerah-daerah kecil, yang masing-masing terspesialiasasi untuk memandu gerakan mata, kepala, lengan, atau tangan tertentu.
Kerusakan pada bagian korteks ini akan menyebabkan berbagai defisit sensorimotor, termasuk defisit dalam persepsi dan ingatan akan hubungan-hubungan spasial, defisit dalam meraih dan memegang secara benar, defisit dalam meraih dan memegang secara benar, defisit dalam pengontrolan gerakan mata dan defisit dalam pemusatan perhatian.
Dampak kerusakan paling berat pada bagian korteks ini adalah apraksia (gangguan gerakan disengaja yang tidak dapat distribusikan pada sebuah defisit motorik sederhana misalnya kelumpuhan/kelemahan) atau pada defisit apapun dalam komprehensi atau motivasi) dan collateral neglect (gangguan pada kemampuan pasien untuk merespons stimuli pada satu sisi tubuh yang berlawanan dengan sisi lesi otak, tanpa disertai adanya defisit sensorik atau defisit motorik sederhana)
2.      Korteks Asosiasi Prefrontal Dorsolateral
Bagian korteks ini menerima proyeksi-proyeksi dari korteks parietal posterior dan mengirimkan proyeksi-proyeksi ke daerah-daerah korteks motorik sekunder, ke korteks motorik primer dan ke medan mata frontal.
Bagian korteks ini berperan dalam evaluasi stimuli eksternal dan inisiasi reaksi-reaksi yang disengaja terhadapnya. Properti-properti respons neuron prefrontal dorsolateral menunjukkan bahwa keputusan untuk menginisiasi gerakan yang disengaja dapat diambil didaerah korteks ini, tetapi keputusan-keputusan ini bergantung pada interaksi kritis dengan korteks parietal posterior.
Korteks Motorik Sekunder
Daerah-daerah di korteks ini adalah daerah-daerah yang menerima banyak inputnya dari korteks asosiasi dan mengirimkan banyak outputnya ke korteks motorik primer. Terdapat 2 daerah korteks motorik sekunder yang diketahui yaitu daerah motorik suplementer dan korteks premotorik. Kedua daerah besar ini terlihat dengan jelas di permukaan lateral lobus frontal, tepat pada posisi anterior terhadap korteks motorik primer. Studi-studi pencitraan otak fungsional mutakhir menunjukkan bahwa korteks motorik sekunder manusia mirip dengan yang ditemukan pada primata-primata lainnya.
Secara umum, daerah-daerah korteks ini diduga terlibat dalam pemrograman pola-pola gerakan tertentu setelah menerima instruksi umum dari korteks prefrontal dorsolateral. Mirror neurons adalah neuron-neuron yang menembak ketika seseorang individu melakukan gerakan tangan tertentu yang mengarah ke tujuan atau ketika ia melihat gerakan mengarah tujuan yang sama yang dilakukan oleh orang lain.
Mirror neurons ini diidentifikasi berkaitan dengan mekanisme untuk kognisi sosial (pengetahuan tentang persepsi, ide dan itensi orang lain) memetakan tindakan orang lain ke dalam repertoar tindakan sendiri akan memfasilitasi pemahaman sosial, kerjasama dan imitasi/peniruan.
Korteks Motorik Primer
            Korteks ini terletak di girus prefrontal lobus frontal. Korteks ini merupakan titik konvergensi utama dari sinyal-sinyal sensorimotor kortikal dan merupakan titik awal utama, tetapi bukan satu-satunya, dari sinyal-sinyal sensorimotor dari korteks serebral.
Sebagian besar korteks ini digunakan untuk mengontrol bagian-bagian tubuh yang mampu melakukan gerakan-gerakan ruwet seperti tangan dan mulut. Setiap lokasi dalam korteks ini menerima umpan balik sensori dari reseptor-reseptor dalam otot dan persendian yang dipengaruhi oleh lokasi tersebut.
            Masing-masing neuron dalam korteks ini diduga mengode arah gerakan adanya penemuan bahwa setiap neuron di daerah lengan korteks motorik primer menembak secara maksimal saat lengan menjangkau kearah tertentu, masing-masing neuron memiliki arah prefrensi yang berbeda-beda.
Kerusakan ekstensif pada korteks ini dapat mendisrupsi kemampuan pasien untuk menggerakan salah satu bagian tubuhnya secara independen, yang dapat mengakibatkan astereognosia (defisit dalam stereognosis) dan dapat mengurangi kecepatan, keakuratan, dan kekuatan gerakan pasien.
Sirkuit-sirkuit sumsum tulang belakang sensorimotor
            Sirkuit-sirkuit sumsum tulang belakang sensorimotor menunjukkan kompleksitas yang cukup tinggi dalam fungsinya, terlepas dari sinyal-sinyal yang datang dari otak.
Otot-otot
            Unit-unit motorik adalah unit-unit terkecil aktivitas motorik. Setiap unit motorik terdiri atas sebuah neuron motorik tunggal dan semua serabut otot seperti benang yang dipersatukan dalam sebuah selaput kuat dan dilekatkan pada tulang oleh sebuah tendon. Banyak otot skeletal yang tidak jelas menjadi bagian dari mana fleksor atau ekstensor. Fleksor bekerja untuk membengkokkan atau melenturkan sendi, dan ekstenor bekerja untuk meluruskan atau mengulurkannya.
            Otor bisep dan trisep masing-masing adalah fleksor dan ekstensor sendi siku. Untuk memahami bagaimana otor bekerja, penting untuk disadari bahwa otot memiliki properti-properti mirip kabel yang elastis, bukan tidak fleksibel. Aktivitas-aktivitas otor skeletal dipantau oleh 2 jenis reseptor yaitu organ-organ tendon Golgi dan gelendong otot.
Berikut perbedaannya:

2.3 Aspek Pembeda Organ Tendon Golgi dan Gelendong Otot
Perlekatan       : melekat pada tendon yang menghubungkan setiap otot skeletal ke tulang
                          Melekat pada jaringan otot itu sendiri
Kontraksi otot
Merespon peningkatan ketegangan otot yaitu penarikan otot di tendon yang bersangkutan
Tidak merespon ketegangan otot
Perubahan panjang otot
Tidak sensitif terhadap perubahan panjang otot
Merespon ketegangan otot
2.4 Fungsi:
            Memberikan informasi kepada sistem saraf pusat tentang ketegangan otot dan menjalankan fungsi protektif.
            Merespon perubahan-perubahan kecil pada panjang otot ekstrafusalnya.

2.5 Pengertian Atensi
Deruiter & Wansart (1982) serta Lerner (1989) mendefinisikan atensi sebagai proses menyaring (scanning), memfokuskan perhatian atau dikenal dengan istilah konsentrasi (focusing), mempertahankan fokus perhatian pada objek yang relevan dan mengabaikan objek yang tidak relevan dengan tujuan dalam waktu tertentu (sustaning  in focus) serta mengubah fokus perhatian dari kegiatan yang satu ke kegiatan selanjutnya (shifting in focus). Atensi atau perhatian selektif memiliki dua ciri,yaitu:
1.      Dapat meningkatkan persepsi kita terhadap stimuli yang menjadi fokusnya.
2.      Dapat mengurangi persepsi stimuli yang tidak menjadi fokusnya.
Contohnya adalah walaupun kita berada di bandara yang bising, bila kita memfokuskan perhatian pada pengumuman yang terdengar penting, maka pemahaman kita akan meningkat, tetapi untuk memahami apa yang dibicarakan orang sekitarnya akan menurun karena tidak terlalu fokus.
Contoh lain tentang atensi selektif adalah fenomena pesta koktail, yaitu suatu fakta bahwa ketika sedang memfokuskan perhatian dalam percakapan, Anda tidak mengetahui isi percakapan lain di sekitar Anda, kemudian tiba-tiba ada orang yang membicarakan nama Anda, maka secara sadar tiba-tiba Anda akan menengok kea rah orang yang membicarakan Anda. Hal ini menunjukkan bahwa otak dapat memblokir semua stimuli dari kesadaran Anda kecuali stimuli jenis tertentu yang masih tetap memantau secara tidak sadar stimuli yang diblokir jika sesuatu yang membutuhkan perhatian muncul.
Atensi dapat difokuskan dengan dua cara yaitu berikut ini.
1.      Proses kognitif internal (atensi endogen), yaitu atensi karena berasal dari dalam diri (internal), seperti barang yang  sedang dicari di dalam laci, maka kita akan fokus untuk mencari kuci tersebut di dalam laci.
2.      Proses kejadian eksternal (atensi eksternal), yaitu atensi karena ada stimulus dari luar diri atau dari lingkungan, seperti atensi kita pada suara yang berisik atau ada barang yang jatuh pada saat kita sedang fokus belajar.
Gerakan mata sering berperan penting dalam atensi visual, tetapi penting  untuk diketahui bahwa atensi visual dapat dipindahkan tanpa memindahkan arah fokus visualnya.
Penelitian terhadap atensi mencakup lima aspek utama:
1.      Kapasitas pembrosesan dan atensi selektif
2.      Tingkat rangsangan
3.      Pengendalian atensi
4.      Kesadaran
5.      Neuorosains kognitif
Kapasitas neurologis kita terlalu terbatas untuk mendeteksi jutaan stimuli eksternal, dan seandainya pun seluruh stimuli tersebut dapat terdeteksi, otak kita tidak akan sanggup memproses jutaan stimuli, sebab kapasitas pembrosesan informasi pun terbatas. Lima isu terkait atensi di ilustrasikan sebagai berikut:
a.       Kapasitas pembrosesan dan selektifitas. Kita memperhatikan sejumlah stimuli eksternal, namun kita tidak dapat memperhatikan seluruh stimuli yang ada
b.      Kendali. Kita memiliki kendali terhadap pilihan stimuli yang kita perhatikan.
c.       Pemrosesan otomatis. Sejumlah besar proses rutin telah menjadi proses yang amat familiar sehingga memerlukan hanya sedikit atensi sadar dan dapat dilakukan secara otomatis.
d.      Neurosains kognitif. Otak dan sistem saraf pusat adalah pendukung anatomis bagi atensi, sebagai mankognisi.
e.       Kesadaran. Atensi membawa peristiwa-peristiwa ke alam kesadaran.
Beberapa bidang penting terkait atensi:
v  Kesadaran-kesadaran mempengaruhi pikiran dan persepsi, sedangkan ketidaksadaran mempengaruhi ketakutan dan hasrat tidak senonoh.
v  Persepsi subliminal “di bawah ambang batas sensorik”, atau tidak dapat diindra. Persepsi subliminal sering kali mengacu pada stimuli yang berada diatas limen (artinya dapat dideteksi oleh indra), namun tidak memasuki kesadaran.
v  Lokasi filter model-model atensi kontemporer berfokus pada tempat informasi diseleksi dalam proses kognitif. Teori-teori filter umumnya berisi gagasan bahwa manusia tidak menyadari keberadaan sinyal-sinyal pada tahap-tahap awal pemrosesan informasi, namun setelah melalui sejumlah keputusan atau penyeleksian, sejumlah sinyal dikirimkan ketahap pemrosesan selanjtunya.
       Kapasitas Pembrosesan dan Atensi Kolektif
            Fakta bahwakita secara selektif memilih hanya sebagian kecil stimuli dari seluruh stimuli yang ada di sekeliling kita. Selektifitas ini dipandang sebagai akibat kurangnya kapasitas saluran, yakni ketidakmampuan kita memproses seluruh stimuli sensorik secara bersamaan. Gagasan ini menyarankan bahwa terdapat suatu kondisi “kemacetan” (bottleneck) pada suatu tahap pemrosesan informasi, yang sebagian diakibatkan oleh keterbatasan neurologis.
            Atensi selektif yaitu mengarahkan atensi kita, memproses informasi yang paling kita perhatikan, dan mengabaikan informasi yang lain.
      


       2.6 Faktor yang Mempengaruhi Atensi:
·         Eksternal         : intensitas dan ukuran, contrast dan novelty, repentition/pengulangan, movement/gerakan.
·         Internal            : Motives/needs, preparatory set (kesiapan untuk berespon),interest (menaruh perhatian pada yang diminati)
      
      
       2.7 Sinyal-Sinyal Auditori
            Berbeda dengan mata yang mengirimkan informasi ke kedua hemisfer kontralateral (telinga kiri menyampaikan informasi ke hemisfer kanan dan sebaliknya). Meskipun kedua telinga kita menerima informasi secara bersamaan, otak secara otomatis menyesuaikan perbedaan tentang rentang waktu tersebutdengan menggabungkan kedua input pendengaran tersebut menjadi sebuah sinyal tunggal.
            Kebutuhan untuk memusatkan perhatian pada satu pesan adalah kebutuhan yang kuat, dan dengan kecualian pesan-pesan yang spesial, orang umumnya memusatkan perhatian hanya pada satu pesan dan mengabaikan pesan lainnya. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kedua telinga tidak mendapatkan stimulasi seimbang dalam tataran sensorik (kedua telinga memiliki kemampuan yang seimbang dalam menerima sinyal-sinyal sensorik)
       2.8 Model-Model Atensi Selektif
Ø  Penyaringan         : Broad bant. Model penyaringan ini berhubungan dengan teori saluran tunggal yang menyatakan bahwa pemrosesan informasi dibatasi oleh kapasitas saluran yang tersedia. Broad bant memberikan argument bahwa pesan-pesan yang dikirimkan melalui saraf tertentu dibedakan berdasarkan:
a.       Serabut saraf yang distimulasi
b.      Jumlah inpuls syaraf yang dihasilkan Broad bant dan rekan-rekannya berjasa mengembangkan konsep tentang memori. Kita semua menyimpan memori tentang peristiwa-peristiwa masa lalu misalnya ingatan tentang anggota keluarga, pengalaman masa lalu dan sebagainya. Meskipun demikian, dalam setiap waktu kita hanya mampu mengingat sebagian kecil memori tersebut.
Ø  Atenuasi               : Treisman. Treismant mengajukan gagasan bahwa dalam “kamus” partisipan (penyimpanan kata dalam memori), beberapa data atau kalimat memiliki ambang aktifasi yang lebih rendah. Beberapa kata atau bunyi penting, seperti nama diri sendiri atau tangisan anak, dapat dikenalin jauh lebih mudah daripada sinyal-sinyal yang kurang penting. Penyaringan tingkat pertama mengevaluasi sinyal berdasarkan karakteristik fisik kasar dan selanjutnya penyaringan-penyaringanyang lebih canggih mengevaluasi sinyal berdasarkan makna.
      Atensi Visual
            Treismant dan Julesz mengajukan hipotesis bahwa dua proses yang berbeda bekerja dalam atens visual. Dalam tahap pertama, terdapat proses awal, proses praantentive yang memindai medan penglihatan dan dengan cepat mendeteksi ciri-ciri utama objek, seperti ukuran, warna, aurentasi (arah), gerakan. Kemudian, menurut treismant ciri-ciri yang berbeda tersebut disandikan dalam peta fiktur yang terletak di area-area berbeda di korteks.
       Atensi Selektif
            Selektif attention (atensi/perhatian selektif) adalah proses memersepsi secara sadar sejumlah kecil subset dari banyak stimuli yang membangkitkan organ-organ sensori pada suatu saat dan mengabaikan sisanya.
            Dua ciri-ciri dari atensi selektif:
1.      Meningkatkan persepsi terhadap stimuli yang menjadi fokusnya.
2.      Menginterferensi persepsi stimuli yang tidak menjadi fokusnya.
            Contohnya adalah jika anda memfokuskan perhatian anda pada pengumuman yang terdengar penting di bandara yang bising, peluang anda untuk memahami komentar simultan dari sesama penumpang menjadi berkurang.
            Atensi/perhatian dapat difokuskan dengan 2 cara:
1.      Proses-proses kognitif internal (atensi endogen)
      Atensi endogen diduga dimediasi oleh mekanisme-mekanisme neural dari atas ke bawah (dari tingkat yang lebih rendah), sebagai contohnya adalah atensi kita dapat difokuskan pada bagian atas meja karena kita sedang mencari kunci kita.
2.      Kejadian eksternal (atensi eksternal)
      Atensi eksternal atau biasa disebut atensi endogen diduga dimediasi oleh mekanisme-mekanisme neural dari bawah ke atas (dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi), sebagai contohnya adalah ketika kita fokus pada satu titik (kunci di atas meja) tanpa sadar kita tertarik melihat kucing yang sedang menjatuhkan lampu di atas meja.
       Perubahan atensi visual yang melibatkan perpindahan pandangan disebut overt attention.
           
2.9 Beberapa gangguan pada atensi selektif:
1.      Change blindness
Kebutaan terhadap perubahan. Change blindness terjadi karena berlawanan dengan impresi kita, ketika kita melihat sebuah scene, kita sama sekali tidak memiliki ingatan akan bagian-bagian scene yang tidak menjadi fokus perhatian kita.
2.      Simultanagnosia
Kesulitan dalam memerhatikan secara visual lebih dari satu objek pada saat yang sama. Oleh karena arus dorsal bertanggung jawab untuk objek-objek dalam ruang yang dilokalisasikan secara visual. Kerusakan yang berhubungan dengan simultanagnosia biasanya bilateral.


       Pemrosesan Otomatis
            Setiap orang menghadapi stimuli tak terhitung jumlahnya saat secara bersamaan melakukan beberapa tugas sekaligus. Aktivitas-aktivitas yang telah kita latih (sering kita lakukan) akhirnya menjadi otomatis sehingga memerlukan sedikit atensi.
            Pemrosesan informasi secara otomatis diteliti oleh posner dan snyder yang menyebutkan 3 karakteristiknya:
ü  Pemrosesan otomatis terjadi tanpa ada niat sadar
ü  Pemrosesan otomatis tersembunyi dari kesadaran
ü  Pemrosesan otomatis menggunakan hanya sedikit/bahkan tidak ada sumber daya sadar.
       2.10 Pandangan Neurosains Kognitif tentang Atensi
Atensi dan Otak Manusia
            Hubungan antara atensi dan otak manusia pada mulanya diselidiki melalui studi terhadap definisi atensi yang terjadi karena cidera otak. Lebih jauh lagi, terdapat sejumlah teknik yang dapat dipilih oleh psikologi kognitif dan ilmu otak, yang tidak mengharuskan subjek penelitiannya berada dalam keadaan tidak bernyawa dan sebagainya. Fokus dari upaya modern tersebut berada di bidang penelitian dan diagnosis.
            Ada upaya menemukan korelasi antara struktur biografi otak dan proses-proses atensi. Teknik-teknik yang dikembangkan di laboratorium kognitif digunakan sebagai alat uji diagnostik dan digunakan untuk menyelidiki senyawa farmakologis yang berperan mempengaruhi proses atensi.
2.11Atensi dan PET
Penelitian masa kini tentang atensi dilakukan menggunakan teknologi pencitraan otak terutama PET/CT. Positron Emission Tomography (PET) adalah pemeriksaan non invasive yang dapat menggambarkan fungsi metabolisme molekuler dari tubuhpasien secara tiga dimensi dengan menggunakan cairan radiofarmaka FDG (Fluorodeoxyglucose). PET scan dengan radiofarmaka FDG akan mendeteksi aktivitas metabolic dari sel-sel tubuh, seperti sel-sel kanker yang mempunyai aktivitas metabolic berlebih. Cara kerja PET, adalah dengan menggunakan kontras yang mengandung glukosa digabung dengan radiasi F18, radioaktif yang paling aman untuk manusia.
Menurut Barsalou (1992) Ada 2 tipe attention yaitu:
1.      Focused Attention (selective attention), kita memilih satu aliran informasi diantara banyak informasi diantara banyak informasi yang perlu kita perhatian.
2.      Divided Attention (atensi terbagi), mengikuti percakapan sambil mengamati orang yang berbicara menyetir mobil sambil menelepon Tingkah laku para ahli (expert) memungkin devide attention.

Proses stimulus dalam mendapatkan atensi manusia dibagi 2 yaitu (Barsalou, 1992):
1.      Voluntary        : Ada usaha untuk memperhatikan sesuatu.
2.      Involuntary     : Beberapa rangsangan (stimuli) menarik perhatikan kita, memaksa
masuk dalam kesadaran kita.

Dari pendekatan pemrosesan informasi, kita dapat mengkonsepkan perhatian selektif sebagai serangkaian tahap atau proses yang dimulai dengan pengenalan indrawi kejadian visual (input), kemudian melalu jalur kapasitas terbatas memutuskan informasi apa yang akan disaring keluar, dan berakhir pada pengalaman sadar kita akan kejadian visual tersebut.
Keterbatasan kapasitas dan atensi selektif mengimplikan adanya kemacetan (bottleneck) structural dalam pemrosesan informasi. Sebuah model menempatan kemacetan itu pada, atau persis sebelum analisis perseptual. Model atenuasi tentang atensi selektif mengajukan gagasan mengenai keberadaan penyaring (filter) perceptual, yang terletak di antara sinyal dan analisis verbal yang berfungsi menyaring input dengan dengan secara selektif mengendalikan volume pesan. Stimuli memiliki ambang aktivitasi yang berbeda-beda, sebuah gagasan yang menjelaskan mengapa kita dapat mendengar suatu percakapan meskipun tidak memusatkan perhatian kepada percakapan itu.
2.12 Pengertian Pesepsi
Proses Persepsi tidak lepas dari sistem sensori karena proses persepsi didahului oleh sistem sensori (pengindraan). Pengertian persepsi adalah proses mengintegrasikan, mengenali, dan menginterprestasikan informasi yang diterima oleh sistem sensori, sehingga menyadari dan mengetahui apa yang di indra sebagai bentuk respons dari individu (Walgito, 2003 & Pinel, 2009).
Tujuan persepsi, Kita dapat memperoleh pemahaman mendalam tentang persepsi dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana “Apa Tujuannya?” menurut parah ahli terkemuka di bidang ini, David Marr(1982), tujuan persepsi adalah perwakilan internal dari dunia luar. Contohnya, tujuan penglihatan adalah membentuk perwakilan tiga dimensi dari dunia di otak. Bagian penting dari persepsi adalah mengetahui apa maksud dari pesan sensoris (Blake & Sekuler,2006).
Bagaimana manusia memersepsi gerakan? Pertama, kita memiliki neuron yang terspesialisasi untuk mendeteksi gerak. Kedua, umpan balik dari tubuh kita mengatakan pada kita apakah kita bergerak atau orang objek lain yang bergerak. Sebagai contoh, anda menggerakan otot mata Anda ketika Anda melihat bola yang bergerak ke arah Anda, Ketiga, Lingkungan yang kita lihat memberikan isyarat yang kaya mengenai informasi pergerakan. Sebagai contoh, ketika kita lari, sekeliling kita terlihat seperti bergerak.
Para psikolog tertarik mengenai pergerakan yang nyata dan pergerakan yang tampak (apparent movement), yaitu ketika sebuah ojek diam, tapi kita memersepsikannya bergerak. Dua pergerakan bentuk yang tampak adalah pergerakan stroboscopic dan pergerakan pascapencitraan. Gerakan strobocopic (strobocopic motion) adalah ilusi pergerakan yang diciptakan ketika rangsangan yang cepat pada bagian retina yang berbeda (Sokolof & Pavlova, 2006). Gambar bergerak adalah salah satu bentuk pergerakan strobocopic pergerakan pasca pencitraan terjadi kita melihat pergerakan yang terus menerus melihat ke permukaan yang lain, yang akan muncul adalah pergerakan ke arah berlawanan (Bulakowski, Koldewyn, & Whitney, 2007; Shim & Cavanaugh, 2006).

       2.13 Faktor yang Berperan dalam Persepsi
Berikut ini adalah beberapa faktor yang berperan dalam persepsi.
1.      Adanya objek yang di persepsi.
Objek menimbulkan stimulus yang masuk melalui indra atau reseptor. Stimulus bisa berasal dari dalam diri manusia sendiri yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor, tetapi sebagian besar stimulus berasal dari luar individu.
2.      Adanya alat indra (sistem sensori) dan sistem saraf pusat.
Alat indra merupakan alat untuk menerima stimulus. Setelah stimulus diterima reseptor, maka stimulus selanjutnya akan dikirim ke sistem saraf pusat, yaitu otak yang merupakan pusat kesadaran melalui sel-sel saraf sensori, sedangkan untuk menghasilkan suatu respons diperlukan adanya sel-sel saraf motoris.
3.      Atensi (perhatian selektif).

Memersepsikan Bentuk, Kedalaman, Gerakan, dan Konstanta
      Memersepsikan rangsangan visual berarti mengorganisasi dan menginterpretasi potongan-potongan informasi yang dikirim mata ke korteks visual. Informasi mengenai dimensi dari apa yang kita lihat sangat penting dalam proses ini. Salah satu dimensinya antara lain yaitu bentuk, kedalaman, gerakan, dan konstanta.
      Bayangkan mengenai dunia yang terlihat dan bentuknya bangunan di antara langit, kapal di kejauhan, atau huruf pada halaman ini. Kita dapat melihat bentuk-bentuk ini, karena mereka memiliki tanda yang berbeda dari lainnya dengan adanya kontur (contour), lokasi adanya perubahan tingkat kecerahan yang tiba-tiba.
      Salah satu aliran psikologi yang tertarik dengan bagaimana kita memersepsikan benda adlah Psikologi Gestalt (gestalt psychology). Menurut aliran ini orang biasanya mengatur persepsi mereka berdasarkan pola tertentu (gestalt adalah bahasa Jerman untuk “penyusunan” atau “bentuk”). Satu prinsip utama psikologi gestalt adalah sebuah keseluruhan sangat berbeda dari jumlah total bagian-bagiannya. Sebagai contoh, ketika kita menonton film, “gerakan” yang kita lihat pada film tidak bisa ditemukan pada film itu sendiri, jika kita memerhatikan film tersebut, kita hanya melihat bingkai-bingkai terpisah. Akan tetapi, ketika kita menonton film tersebut setiap detiknya, kita memersepsikan keseluruhan itu sangat berbeda dari bingkai berbeda pada film tersebut yang merupakan bagian dari film. Sehingga, ribuan titik kecil (bagian) menghasilkan gambar (keseluruhan) di surat kabar atau layar komputer.
      Hubungan bentuk latar juga merupakan salah satu prinsip gestalt. Tiga prinsip gestalt yang lain adalah pelengkapan, kedekatan, dan kesamaan. Prinsip pelengkapan (closure) menyatakan bahwa ketika individu melihat bentuk yang tidak lengkap atau terpisah, mereka akan mengisi ruang yang kosong dan melihat bentuk yang lengkap. Prinsip kedekatan (proximity), menyatakan bahwa ketika objek-objek terletak berdekatan, orang akan cenderung mengelompokkannya menjadi satu. Prinsip kesamaan (similarity) menyatakan ketika objek-objek memiliki bentuk yang sama, individu cenderung mengelompokkannya bersama.
      Persepsi kedalaman (depth perception) adalah kemampuan memersepsi objek secara tiga dimensi. Lihat sekitar Anda. Anda tidak melihat sekitar Anda sebagai sesuatu yang datar. Anda melihat sebagian objek lebih jauh dan lebih dekat. Sebagian objek saling tumpang tindih. Pemandangan dan objek yang Anda lihat memiliki kedalaman. Bagaimana Anda melihat kedalaman? Untuk melihat kedalaman dunia, kita menggunakan dua macam informasi atau isyarat binokular dan monocular.
      Karena kita memiliki dua mata, kita memiliki dua sudut pandang terhadap dunia, satu dari setiap mata. Isyarat binokular adalah isyarat kedalaman yang bergantung pada kombinasi gambar pada mata kiri dan mata kanan dan cara kedua mata bekerja sama. Gambar yang dihasilkan sedikit berbeda karena kedua mata berada pada posisi yang berbeda. Coba angkat tangan Anda sekitar 10 inci dari mata Anda. Secara bergantian tutup mata kiri dan mata kanan Anda, sehingga hanya ada satu mata yang terbuka. Gambar tangan Anda akan terlihat bergerak maju mundur karena gambar mata Anda berada pada tempat yang sedikit berbeda pada retina kiri dan kanan. Disparitas atau perbedaan antara gambar dari kedua mata adalah isyarat binokular yang digunakan otak untuk menentukan kedalaman atau jarak sebuah objek. Kombinasi dri dua gambar di otak dan disparitas di antara keduanya di mata memberikan kita informasi mengenai ketigadimensian dunia.
      Selain menggunakan isyarat binokular untuk memperoleh ide mengenai kedalaman objek, kita juga menggunakan isyarat monokular (monocular cue), atau isyarat kedalaman, yang tersedia pada gambar dari satu mata, baik kiri maupun kanan. Isyarat yang sangat kuar ini dalam situasi normal dapat memberikan kesan kedalaman yang sangat kuat. Coba tutup mata Anda. Persepsi Anda mengenai dunia masig mempertahankan kualtias tiga dimensinya. Beberapa contoh isyarat monokular adalah sebagai berikut:
1.      Ukuran yang familier                         : Isyarat mengenai kedalaman dan jarak objek berdasarkan apa yang telah kita pelajari dari pengalaman mengenai ukuran standar objek. Kita mengetahui seberapa besar kecenderungan ukuran jeruk, sehingga kita dapat mengira seberapa jauh sebuah jeruk dari ukurannya pada retina.
2.      Tinggi pada medan penglihatan        : Jika seluruh hal lain sama, maka objek yang berada pada posisi yang lebih tinggi pada gambar akan dilihat sebagai lebih jauh.
3.      Sudut pandang linier                          : Objek yang lebih jauh mengambil ruang yang lebih sedikit pada retina.
4.      Tumpang tindih                                  : Objek yang menutupi atau hanya menunjukkan sebagian objek lain dipersepsikan lebih dekat.
5.      Bayang-bayang                                  : Isyarat ini mengubah persepsi berdasarkan posisi cahaya dan posisi pengamat. Coba bayangkan telur dibawah lampu meja. Jika Anda berjalan mengelilingi meja, Anda akan melihat pola baying-bayang yang berbeda pada telur.
6.      Perubahan tekstur                              : Tekstur akan menjadi lebih rapat dan lebih halus jik semakin jauh dari pengamat.
       Persepsi kedalaman adalah hal yang sangat menarik bagi seniman yang berusaha melukis dunia tiga dimensi pada kanvas dua dimensi. Seniman sering kali menggunakan isyarat monokular untuk memberikan kesan kedalaman pada lukisan mereka. Bahkan, isyarat monokular digunakan secara luas oleh seniman sehingga mereka juga disebut isyarat pictorial (pictorial cue).
       Persepsi kedalaman adalah adaptasi yang sangat kompleks. Seseorang hanya memiliki satu mata yang berfungsi tidak akan melihat kedalaman seperti yang dialami oleh orang dengan dua mata yang normal. Kelainan mata yang lain juga dapat mengakibatkan kurangnya persepsi kedalaman.
       Konstanta persepsi (perceptual constancy) adalah pengenalan bahwa objek bersifat konstan, meskipun masukan sensoris mengenai benda tersebut berubah. Kita mengalami tiga tipe konstanta persepsi:


1.      Konstanta ukuran (size constancy) adalah pengenalan bahwa objek akan berukuran sama meskipun gambar retina objek tersebut kita berubah.
2.      Konstanta bentuk (shape constancy) adalah pengenalan bahwa objek tetap mempertahankan bentuk yang sama meskipun orientasinya terhadap kita berubah.
3.      Konstanta kecerahan (brightness constancy) adalah pengenalan bahwa objek mempertahankan derajat kecerahannya, meskipun jumlah cahaya yang berbeda jatuh di permukaannya.

2.14                 Proses Persepsi

1.      Halusinasi
Penerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun.
2.      Ilusi
Interpretasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang sungguh terjadi pada panca indera. Misalnya: bunyi angin didengarnya seperti dipanggil nama, bayangan daun dilihat seperti orang.
3.      Depersonalisasi
Perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tidak sperti biasa lagi. Misalnya: pengalaman diluar tubuh, salah satu bagian tubuhnya bukan kepunyaannya lagi.
4.      Derealisasi
Perasaan aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya: merasakan segala sesuatu seperti dalam mimpi.
5.      Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi. Misalnya: anastesi, parastesi, penglihatan, perasaan nyeri, makropsia/mikropsia
6.      Gangguan psikofisologik
Gejala atau gangguan pada bagian tubuh yang disebabkan oleh gangguan emosi. Misalnya: pada pernafasan timbul sesak/asma, pada jantung terjadi palpitasi, dan pencernaan mual/muntah diare.
7.      Agnosia
Ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan pencerapan sebagai akibat kerusakan otak.




2.15  Pengertian Persepsi Menurut Para Ahli
·         Menurut Slameto        : persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
·         Menurut Robbins        : persepsi adalah kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian di analisa dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna.
·         Menurut Purwodarminto : persepsi adalah tanggapan langsung dari suatu serapan atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pengindraan.




BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
       Sensasi atau sensori adalah proses mendeteksi keberadaan stimuli dari lingkungan luar melalui indra (Eksoreseptor) atau proses menerima energy rangsangan dari lingkungan luar.  
       Persepsi adalah integrasi sensasi, integrasi dari pengalaman yang ditimbulkan oleh stimulus sederhana.
       Atensi adalah pemusatan pikiran terhadap sejumlah objek stimulant atau sekelompok pikiran. Faktor yang mempengaruhinya terdiri dari faktor internal dan eksternal.
       Manusia menerima informasi dan menginterpretasikan melalui beberapa tahap yaitu melalui sistem sensori, proses atensi, dan proses persepsi.
       Sistem sensori untuk menerima informasi atau stimulus, kemudian dilanjutkan dengan proses atensi untuk memfokuskan perhatian pada stimulus yang menarik perhatian individu dari sekian banyak stimulus yang ada, selanjutnya proses persepsi untuk mengintegrasikan, mengenali, dan menginterspretasikan stimuli yang menjadi fokus perhatian.




DAFTAR PUSTAKA

Hapsari, Indri Iriani, M.Psi, et.al. 2012. Psikologi faal. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya.
King, Laura A. 2010. Psikologi Umum. Marswendy B. Penerjemah. Penerbit: Salemba
Humanika.
Solso, Robert L, dkk. 2009. Psikologi Kognitif. Jakarta: Erlangga.
Pinel, John P.J. 2009. Biopsikologi: edisi ketujuh (Terj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barsalou, L. (1992). Cognitive Psychology An Overview For Cognitive Scientists. Lawrence Erlbaum Association: Ney Jersey.
Kalat, James W (2009). Biopsikologi: edisi kesembilan (Terj). Jakarta: Salemba Humanika

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSELING EKLEKTIK

MAKALAH EMPLOYEE ENGAGEMENT DAN MODAL PSIKOLOGI