Sigmund Freud
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
Menurut
asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunanai Kuno :
“ψυχή” (Psychē yang berarti jiwa) dan “-λογία” (-logia yang
artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan
dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Kepribadian adalah keseluruhan cara di
mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.
Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur
yang ditunjukkan oleh seseorang.
Psikoanalisis adalah gerakan yang mempopulerkan
teori bahwa motif tidak sadar mengendalikan sebagian besar perilaku. Freud
tertarik pada hipnotis dan penggunaannya untuk membantu penderita penyakit
mental. Ia kemudian meninggalkan hipnotis untuk asosiasi bebas dan analisis
mimpi guna mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai “obat dengan
berbicara”. Hal-hal seperti ini menjadi unsur inti Psikoanalisis. Sebagai
aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian,
khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.
Jadi, Psikologi Kepribadian Psikoanalisis adalah bidang studi psikologi yang
mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan
psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu
sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi
sosial dengan lingkungannya. Yang dipengaruhi oleh bawah alam sadar, sehingga
tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti
keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan
tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk
dipuaskan.
1.2.Rumusan
Masalah
1.
Mengetahui apa itu psikologi?
2.
Mengetahui apa itu kepribadian?
BAB II
ISI
2.1.
Pengertian Kepribadian
Kepribadian
adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam diri
dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan
baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan
kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut
bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan
mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin
matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).
Dalam
bahasa latin asal kata personaliti dari persona (topeng), sedangkan dalam ilmu
psikologi menurut, Gordon W.Allport : suatu organisasi yang dinamis dari sistem
psiko-fisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara
khas. Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia.
Kepribadian
adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan
dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari
bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari
keluarga pada masa kecil dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi
yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang
bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik.
Teori Freud
mengenai kepribadian dapat diikhtiarkan dalam rangka struktur, dinamika dan
perkembangan kepribadian.
2.2. Struktur
kepribadian
Struktur kepribadian merupakan
unsur-unsur atau komponen yang membentuk diri seseorang secara psikologis.
Salah satu contoh struktur kepribadian yang paling tua gagasannya adalah
menurut Sigmund Frued tokoh psikoanalisa. Berdasarkan beberapa penelitian pada
klien yang mengalami masalah kejiwaan ia menyimpulkan bahwa diri manusia dalam
membentuk kepribadianya terdiri atas 3 komponen utama yaitu Das es (the
id), yaitu aspek biologis, das ich(the ego), yaitu
aspek psikologis, das Uber Ich (the
super ego) yaitu aspek sosiologis. Istilah lainnyaid, ego, super
ego. Untuk memudahkan pemahaman, Id artinya nafsu atau
dorongan-dorongan kenikmatan yang harus dipuaskan, bersifat alamiah pada
manusia. Ego dapat dianalogikan sebagai kemampuan otak atau akal yang
membimbing manusia untuk mencari jalan keluar terhadap masalah melalui
penalarannya. Sedangkan Super Ego sebagai norma, aturan, agama, norma
sosial.
Kendatipun ketiga aspek itu
masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika
sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan dengan rapatnya sehingga sukar
(tidak mungkin) untuk meisah-misahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku
manusia, tingkah laku selalu merupakan hasil sama dari ketiga aspek itu.
1.
Das Es
Das Es atau dalam bahasa inggris the id disebut juga oleh Freud System der Unbewussten. Aspek ini adalah
aspek biologis dan merupakan system yang original didalam kepribadian; dari
aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas
psikis sebenar-benarnya. (The
true psychic reality), oleh karena das Es situ merupakan dunia
batin atau subjektif manusia dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia
objektif.
Id adalah system kepribadian bawaan
atau yang paling asli dari manusia. Pada saat dilahirkan, seseorang hanya
memiliki id saja. Unsur kepribadian ini merupakan tempat bersemayamnya
naluri-naluri yang sifatnya buta dan tidak terkendali. Ia hanya menuntut dan
mendesak dipuaskannya naluri-naluri tersebut.id dapat diumpamakan sebagai kawah
gunung berapi yang terus menerus menindih dan bergolak. Ia tidak dapat
menoleransi ketegangan serta ketidaknyamanan atau ketegangan itu sesegera
mungkin.
Asas
yang mengatur bekerjanya id ini adalah asas kesenangan (pleasure principle)
yang diarahkan bagi pengurangan ketegangan atau ketidaknyamanan guna mencapai
kepuasan atau kebahagiaan naluriah karena bekerjanya hanya didorong oleh asas
kesenangan semata, maka id tidak bersifat logis, amoral dan hanya memiliki satu
tujuan semata: memuaskan kebutuhan-kebutuhan naluriah sesuai dengan asas
kesenangan tersebut. Id tidak pernah menjadi dewasa dan selalu menjadi unsur
anak manja dalam kepribadian manusia. Id ini bersifat tidak sadar.
Seorang
bayi yang menangis keras-keras saat lapar dan atau tidak nyaman didorong oleh
id ini. Tangisan yang dilakukannya semata-mata untuk melepaskan diri dari rasa
lapar dan tidak nyaman itu.
Das Es berisikan hal-hal yang
dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis) termasuk instink-instink; das Es
merupakan “reservoir” energi
psikis yang menggerakkan Das Ich dan Das Ueber Ich. Energi psikis didalam das Es
itu dapat meningkat olehkarena perangsang; baik perangsang dari luar maupun
perangsang dari dalam. Apabila energi
itu meningkat, maka lalu
menimbulkan ketegangan, dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak
menyenangkan) yang oleh das Es tidak dapat
dibiarkan; karena itu apabila energy meningkat, yang berarti ada tegangan,
segeralah das Es mereduksi energy itu untuk menghilangkan rasa tidak enak itu.
Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya das Es ialah menghindarkan diri
dari ketidakenakan dan mengejar keenakan; pedoman ini disebut Freud “prinsip
kenikmatan” atau ”prinsip keenakan” (Lust prinzip, the pleasure principle).
Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai kenikmatan itu das Es mempunyai
dua cara (alat proses), yaitu :
a.
Reflex dan
reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip dan sebagainya
b.
Proses primer (primair
vorgang) seperti orang yang lapar membayangkan makanan (wishfullfillment,
wensvervulling).
Akan tetapi jelas bahwa cara “ada”
yang demikian itu tidak memenuhi kebutuhan; orang yang lapar tidak akan menjadi
kenyang dengan membayangkan makanan. Karena itu maka perlulah (merupakan
keharusan kodrati) adanya system lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia
obyektif. System yang demikian itu ialah das Ich.
2.
Das Ich
Das Ich atau dalam bahasa inggris
the ego disebut juga System der
Bewussten-Vorbewussten. Aspek ini adalah aspek psikologis daripada
kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik
dengan dunia kenyataan (Realitat). Orang yang lapar mesti perlu makan untuk
menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya; ini berarti organisme harus
dapat membedakan antar khayalan tentang makanan atau kenyataan tentang makan.
Disinilah letak perbedaan yang pokok antara das Es dan das Ich, yaitu kalau das
Es situ hanya mengenal
dunia subyektif (dunia batin) maka das Ich dapat membedakan sesuatu yang hanya
ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di luar (dunia obyektif, dunia
realitas).
Unsur kepribadian ini timbul
setelah terjadi kontak dengan dunia nyata yang realistis. Ia berfungsi untuk
mengendalikan serta mengatur segenap tindakan yang dilakukan dengan
berlandaskan pada asas kenyataan. Dengan demikian ego akan berlaku realistis
berfikir logis, serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan
kebutuhan-kebutuhan. Ego berfungsi untuk mengendalikan kesadaran dan
melaksanakan sensor. Jika demikian,
apakah hubungan antara ego dan id? Berbeda dengan id, ego merupakan tempat
bersemayamnya intelegensi serta pola pkir rasional yang mengendalikan serta
mengawasi dorongan-dorongan keinginan buta dari id.
Sebelumnya seorang bayi hanya ingin
menangis dikala lapar atau mengalami ketidaknyamanan. Kini bila bayi tersebut
tumbuh menjadi seorang anak, maka ia tidak lagi menangis pada saat lapar. Ia
akan sedapat mungkin berusaha mencari cara dala memuaskan rasa laparnya itu. Ia
akan mencari dan memanggil makanan apa saja yang dijumpaiya tanpa memikirkan
siapakah yang sesungguhnya memiliki makanan itu. Tindakan yang dilakukan sang
anak merupakan tanda bekerjanya ego yang tidak lagi hanyabersifat menuntut
seperti id. Ia kini dapat merumuskan dan mencai cara untuk memuaskan
keinginannya. Bagi kita orang dewasa, tentu saja tindakan semacam itu
(mengambil makanan orang lain atau tanpa mencari terlebih dahulu siapa
pemiliknya) tidak dapat dibenarkan dan dikategorikan sebagai tindakan
pencurian. Oleh karena itu agar ini tidak terus menerus terjadi kita memerlukan
satu lagiunsur kepribadian yang disebut superego.
Di dalam berfungsinya das Ich
berpegang pada “Prinsip Kenyataan” atau “Prinsip Realitas” (Realitatsprinzip, the reality principle)
dan beraksi dengan proses sekunder (Sekunder
Vorgang, secondary process). Tujuan Realitatsprinzip itu adalah mencari
objek yang tepat/serasi untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam
organisme. Proses sekunder itu adalah proses berpikir realistis; dengan
mempergunakan proses sekunder das Ich merumuskan suatu rencana untuk pemuasan
kebutuhan dan mengujinya atau men-test-nya (biasanya dengan sesuatu tindakan)
untuk mengetahui apakah rencana itu berhasil atau tidak. Misalnya : orang lapar
merencanakan dimana dia dapat makan, lalu pergi ke tempat tersebut untuk
mengetahui apakah rencana tersebut berhasil (cocok dengan realitas) atau tidak.
Perbuatan ini secara teknis disebut reality testing.
Das ich dapat pula dipandang
sebagai aspek eksekutif kepribadian, oleh karena das Ich ini mengontrol
jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi
serta cara-cara memenuhinya, serta memilih objek-objek yang dapat memenuhi
kebutuhan; di dalam menjalankan fungsi ini seringkali das Ich harus
mempersatukan pertentangan pertentangan antar das Es dan das Ueber Ich dan
dunia luar. Namun harus selalu di ingat, bahwa das Ueber Ich adalah derivate
dari das Es dan bukan untuk merintanginya; peran utamanya ialah menjadi
perantara antara kebutuhan- kebutuhan instinktif dengan keadaan lingkungan,
demi kepentingan adanya organisme.
3.
Das Ueber Ich
Das Ueber Ich adalah aspek
sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta
cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan
orangtua kepada anak-anaknya
yang diajarkan denga berbagai perintah dan larangan. Das Ueber Ich lebih
merupakan kesempurnaan daripada kesenangan; karena itu Das Ueber Ich dapat pula
dianggap sebagai aspek moral
kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau
salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat
bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
Das Ueber Ich diinternalisasikan
dalam perkembangan anak sebagai response terhadap hadiah dan hukuman yang diberikan
oleh orang tua ( dan pendidik-pendidik yang lain). Dengan maksud untuk
melaporkan hadiah dan menghindari hukuman anak mengatur tingkah lakunya sesuai
dengan garis-garis yang dikehendaki oleh orang tuanya. Apapun juga yang
dikatakannya sebagai tidak baik dan bersifat menghukum akan cenderung untuk
menjadi “Conscientia” anak, apapun juga yang disetujui dan membawa hadiah
cenderung untuk menjadi Ich-ideal anak. Mekanisme yang menyatukan system
tersebutkepada pribadi tersebut introjeksi.
Jadi, das Ueber Ich itu berisikan dua hal, ialah “conscientia” dan
Ich-ideal” Conscientia menghukum orang dengan memberikan rasa dosa, sedangkan
Ich-ideal menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya. Dengan
terbentuknya das Ueber Ichini maka control terhadap tingkah laku yang dulunya
dilakukan oleh orangtuanya/wakilnya menjadi dilakukan oleh pribadi sendiri,
moral yang dulunya heteronom lalu menjadi otonom.
Adapun fungsi pokok das Ueber Ich
itu dapat dilihat dalam hubungan dengan ketiga aspek kepribadian itu, yaitu :
(a)
Merintangi
impuls-impuls das Es, terutama impuls-impuls seksualdan agresif yang
pertanyaannya sangat ditentang oleh masyarakat;
(b)
Mendorong das Ich untuk
lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada yang realistis;
(c)
Mengejar kesempurnaan
Jadi das Ueber Ich itu cenderung
untuk menentang baik das Ich maupun das Esyang membuat dunia menurut konsepsi
yang ideal.
Demikianlah struktur kepribadian
menurut Freud, terdiri atas tiga aspek. Harus selalu diingat bahwa aspek-aspek
tersebut hanya nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang berlangsung
dengan prinsip yang berbeda satu sama lain. Dalam keadaan biasa ketiga sistem
itu bekerja sama dengan
diatur oleh das Ich; kepribadian berfungsi sebagai kesatuan.
2.3. Dinamika
Kepribadian
Menurut
Freud, dinamika kepribadian adalah bagaimana energi psikis didistribusikan dan
dipergunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Menurut Freud, mekanisme
pertahanan ego (ego defence mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu
untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan das Es maupun untuk
menghadapi tekanan das Ueber ich atas das Ich, dengan tujuan kecemasan yang
dialami individu dapat dikurangi atau diredakan (Koeswara, 1991:46).
7 macam
mekanisme pertahanan ego menurut Freud adalah sebagai berikut :
1) Represi, yaitu mekanisme yang dilakukan ego
untuk meredakan kecemasan dengan cara menekan dorongan-dorongan yang menjadi
penyebab kecemasan tersebut ke dalam ketidaksadaran;
2) Sublimasi, untuk mencegah atau meredakan
kecemasan dengan cara mengubah dan menyesuaikan dorongan primitif das
Es yang menjadi penyebab kecemasan kedalam bentuk tingkah laku yang
bisa diterima dan bahkan dihargai masyarakat;
3) Proyeksi, pengalihan dorongan, sikap, atau
tingkah laku yang menimbulkan kecemasan kepada orang lain;
4) Displacement, pengungkapan dorongan yang
menimbulkan kecemasan kepada objek atau individu yang kurang berbahaya
dibanding individu semula;
5) Rasionalisasi, upaya individu memutarbalikan
kenyataan yang mengancam ego melalui dialih tertentu yang seakan-akan masuk akal;
6) Pembentukan reaksi, upaya mengatasi kecemasan karena
individu memiliki dorongan yang bertentangan dengan norma, dengan cara
sebaliknya;
7) Regresi, upaya mengatasi kecemasan dengan
bertingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya
Freud sangat
terpengaruh oleh filsafat determinisme dan positivisme pada abad XIX dan
menganggap organisme manusia sebagai suatu kompleks sistem energi, yang
memperoleh energinya dari makanan serta mempergunakannya untuk bermacam-macam
hal: sirkulasi, pernafasan, gerakan otot-otot, mengamati, mengingat, berpikir,
dan sebagainya. Sebagaimana ahli-ahli ilmu alam abad XIX yang mendefinisikan
energi berdasarkan lapangan kerjanya, maka Freud menamakan energi dalam bidang
psike ini energi psikis (Psychic energy). Menurut hukum penyimpangan tenaga
(Concervation of Energy) maka energi dapat berpindah dari satu tempat ke lain
tempat, tetapi tak dapat hilang. Berdasar pada pemikiran itu Freud berpendapat,
bahwa energi psikis dapat dipindahkan ke energi fisiologis dan sebaliknya.
Jembatan antara energi tubuh dengan kepribadian ialah das Es dengan
instink-instinknya.
1)
Instink
Ada tiga istilah yang banyak persamaannya, yaitu instink,
keinginan (wish) dan kebutuhan (need). Instink adalah sumber perangsang somatis
dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan adalah perangsang psikologis.
Seadangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani. Jadi, lapar misalnya, dapat
digambarkan secara fisiologis sebagai kekurangan akan makanan atau secara
psikologis sebagai keinginan akan makanan. Keinginan itu menjadi alasan (motif)
tingkah laku: misalnya orang lapar mencari makanan.
Dalam pada itu organisme juga dapat dirangsang dari luar;
kendatipun demikian Freud beranggapan, bahwa sumber-sumber perangsang dari luar
ini memainkan perana yang kurang penting jika dibandingkan dengan instink; pada
umumnya perangsang dari luar lebih sedikit pengaruhnya terhadap individu
daripada perangsang dari dalam; orang dapat menghindarkan diri dari perangsang
dari luar, tetapi tak akan dapat melarikan diri dari perangsang dari dalam.
Suatu instink adalah sejumlah energi psikis; kumpulan
dari semua instink-instink merupakan keseluruhan daripada energi psikis yang
dipergunakan oleh kepribadian. Sebagaimana telah disebutkan di muka das Es
adalah reservoir energi ini, serta merupakan tempat kedudukan instink-instink
pula. Das Es dapat dimisalkan sebagai dinamo yang memberikan tenaga penggerak
kepada kepribadian; tenaga itu diasalkan dari proses metabolisme di dalam
tubuh. Suatu instink itu mempunyai empat macam sifat, yaitu:
a)
Sumber instink,
Yang menjadi sumber instink yaitu kondisi jasmaniah, jadi
kebutuhan.
b)
Tujuan instink
Adapun tujuan instink ialah
menghilangkan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidakenakan yang timbul karena
adanya tegangan yang disebabkan oleh meningkatnya energi dapat ditiadakan.
Misalnya: tujuan instink lapar (makan) ialah menghilangkan keadaan kekurangan
makanan, dengan cara makan.
c)
Obyek instink
Objek instink ialah segala
aktivitas yang mengantarai keiginan dan terpenuhinya keinginan itu. Jadi tidak
hnaya terbatas pada bendanya saja, tetapi termasuk pula cara-cara memenuhi
kebutuhan yang timbul karena instink itu.
d)
Pendorong atau
penggerak instink
Pendorong atau penggerak
instink adalah kekuatan instink itu, yang tergantung kepada intensitas (besar
kecilnya) kebutuhan. Misalnya: makin lapar orang (sampai batas tertentu)
penggerak instink makannya makin besar.
Sumber dan tujuan instink itu tetap
selama hidup, sedangkan obyek beserta cara-cara yang dipaki orang untuk
memenuhi kebutuhannya selalu berubah-ubah. Hal ini disebabkan karena energi
psikis itu dapat dipindah-pindahkan, dapat digunakan dalam berbagai jalan;
akibatnya apabila sesuatu obyek tidak dapat dipergunakan maka lalu dicari obyek
yang lain, dan apabila obyek yang kedua ini juga tak dapat dipergunakan, dicari
lagi obyek yang lain, begitu seterusnya sampai diketemukan obyek yang cocok.
Dengan kata lain obyek instink dapat disubstitusikan. Apabila energi instink
dipergunakan secara tetap pada substitusi obyek yang sebenarnya tidak asli,
maka tingkah laku yang timbul dan didorong oleh energi itu disebut derivat
instink itu (instinct derivative). Misalnya: pemuasan instink seksual baby
adalah dengan cara mempermainkan alat kelaminnya sendiri; apabila ini diubah
dan anak menggantinya dengan mengisap ibu jari itu merupakan derivat instink
seksual. Tujuannya tidak berubah, yaitu kepuasan seksual.
Salah satu masalah yang banyak
dibicarakan oleh para ahli ialah jumlah dan mcam-macamnya instink. Untuk
menyebutkan beberapa macam saja misalnya James mengemukakan 32 macam instink,
McDougall mengemukakan 14 dan kemudian 18 macam instink, Thorndike mengemukakan
40 macam atau lebih, Warren mengemukakan 26 macam atau lebih, Angel
mengemukakan 16 macam. Freud tidak berusaha memberikan jumlah serta
macam-macamnya instink itu sebab dia beranggapan abhwa keadaan tubuh tenpat
bergantungnya instink itu tidak cukup dikeanl. Mengenal keadaan tubuh bukanlah
tugas ahli psikologi, mealinkan tugas ahli fisiologi. Walaupun demikian Freud
menerima bahwa beramcam-macam instink itu dapat dikelompokan menjadi dua
kelompok, yaitu:
1)
Instink-instink
hidup
Fungsi instink-instink hidup
ialah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memperpanjang ras.
Bentuk-bentuk utama daripada instink ini ialah instink-instink makan, minum,
dan seksual. Bentuk energi yang dipakai oleh instink-instink hidup itu disebut
“libido”. Walaupun Freud mengakui adanya bermacam-macam bentuk instink hidup,
namun dalam kenyataannya yang paling diutamakan adalah instink seksual
(terutama pada masa-masa permulaan, sampai kira-kira tahun 1920). Dalam pada
itu sebenarnya instink seksual bukanlah hanya untuk satu instink saja,
mealinkan sekumpulan instink-instink, karena ada bermacam-macam kebutuhan
jasmaniah yang menimbulkan keinginan-keinginan erotis.
2)
Instink-instink
mati
Instink-instink mati disebut
juga instink-instink merusak (destruktif). Instink-instink ini berfungsinya
kurang jelas jika dibanfingkan dengan instink-instink hidup, karenanya tidak
begitu dikenal. Akan tetapi adalah suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri,
bahwa tiap orang itu pada akhirnya akan mati juga. Inilah yang menyebabkan
Freud merumuskan bahwa “Tujuan semua hidup adalah mati” (1920). Freud
berpendapat bahwa tiap orang mempunyai keinginan yang tidak disadarinya untuk
mati. Pendapat tentang adanya keinginan mati itu didasarkan kepada prinsip
konstansi yang dirumuskan oleh Fechner, yaitu bahwa semua proses kehidupan itu
cenderung untuk kembali kepada ketetapan dunia tiada kehidupan (anorganis).
Dalam bukunya yang
berjudul Jenseits des Lust prinzips (1920) Freud membuat alasan tentang adanya
keinginan untuk mati itu demikian:
Kehidupan itu
ditimbulkan oleh aksi tenaga kosmis terhadap benda anorganis. Lambat laun
karena perubahan evolusi lamanya masa hidup itu bertambah, tetapi keadaan tak
stabil (dalam hidup) itu selalu kembali ke keadaan stabil benda-benda tak
berkehidupan. Dengan berkembangnya mekanisme reproduksi benda-benda hidup dapat
mereproduksi jenisnya sendiri dan tak tergantung kepada diciptakan dari alam
tak berkehidupan; tetapi walaupun demikian individu-individu tak dapat tiada
mesti mengikuti prinsip konstansi, karena prinsip inilah yang menguasainya
ketika ia dihidupi. Menurut Freud hidup itu tidak lain hanya perjalanan ke arah
mati. Keinginan mati pada manusia adalah pernyataan psikologis prinsip
konstansi.
Suatu derivatif
instink-instink mati yang terpenting adalah dorongan agresif. Sifat agresif
adalah pengrusakan diri yang diubah dengan obyek substitusi. Seseorang
berkelahi dengan orang lain dan bersifat destruktif, karena keinginan matinya
dirintangi oleh kekuatan lain dalam kepribadian yang berlawanan dengan
keinginan mati.
Instink-instik
hidup dan instink-instink mati dapat saling bercampur, saling menetralkan.
Makan misalnya merupakan campuran dorongan makan dan dorongan destruktif, yang
dapat dipuaskan dengan menggigit, mengunyah dan menelan makanan.
2)
Disitribusi dan
Penggunaan Energi Psikis
Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi
psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber
Ich. Oleh karena jumlah atua banyaknya energi itu terbatas, maka akan terjadi
semacam persaingan di antara ketiga aspek itu dalam mempergunakan energi
tersebut: kalau sesuatu aspek banyak mempergunakan energi (jadi menjadi kuat),
maka kedua spek yang lain harus (dengan sendirinya) menjadi lemah.
Karena das Ich tidak mempunyai energi sendiri, maka dia harus meminjamnya
dari das Es. Jadi harus ada perpindahan energi dari das Es ke das Ich;
perpindahan energi dari das Es ke das Ich ini terjadi karena suatu mekanisme
yang disebut: identifikasi.
Pengertian identifikasi ini adalah pengertian yang sangat penting dalam
psikologi Freud, tetapi juga sangat sukar untuk dimengerti. Jadi dengan
demikian, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya manusia harus belajar
membandingkan dan membedakan apa yang hanya ada dalam batinnya dengan apa yang
benar-benar ada dalam kenyataan; alat untuk ini ialah proses sekunder (Sekunder
Vorgang). Pembandingan dan pembedaan antara apa yang hanya ada dalam batin
dengan apa yang benar-benar ada dalam kenyataan inilah yang dsebut identifikasi.
Karena das Es tidak membeda-bedakan apa yang dihadapi:
apakah itu pengamatan, ingatan, tanggapan, pengertian, ataukah halusinasi, maka
pemilihan obyek (cathexis) dapat
terjadi baik terhadap pengamatan realistis maupun tanggapan ingatan yang
memenuhi keinginan (wishfulfillment,
wensvervulling). Karena hal yang demikian itu, maka energi lalu dipindahkan
dari proses-proses psikologis das Es yang austistis ke proses pengertian das
Ich yang realisitis dan logis. Pada kedua hal itu energi dipergunakan untuk
proses-proses psikologis, tetapi: kalau pada das Es tak ada pembedaan antara
lambang mental dan kenyataan fisis yang dilambangkan, sedangkan dalam das Ich
pembedaan itu ada. Jadi identifikasi ini memungkinkan proses sekunder untuk
melebihi proses primer. Karena proses sekunder jauh lebih berhasil dalam
mengurangi tegangan, maka pemilihan obyek yang dilakukan oleh das Ich makin
terbentuk, sehingga lambat laun das Ich seakan-akan memonopoli energi psikis.
Tetapi monopoli ini sifatnya relatif, sebab apabila das Ich gagal dalam
memuaskan instink, das Es akan menguasai kembali energi psikis itu.
Sekali das Ich telah menguasai energi dia dapat
mempergunakannya d\kecuali untuk memuaskan instink dengan proses sekunder, jga
untuk tujuan-tujuan lain. Sebagian energi dipergunakan untuk berbagai proses
psikologis seperti mengamati, mengingat, membeda-bedakan, mengabstraksikan,
berpikir, dan sebagainya; sebagian lagi harus dipergunakannya untuk mengekang
das Es jangan sampai bertindak impulsif dan irrasional. Kekuatan pengekang ini
disebut anti-chathexis (dilawankan
dengan kekuatan pendorong yang disebut cathexis),
apabila das Es menjadi terlalu berbahaya (mengancam), maka das Ich lalu
membentuk pertahanan terhadapnya; pertahanan ini berlangsung secara mekanis dan
disebut mekanisme pertahanan (Abwehrmechanismen,
mechanism of defence).
Kecuali untuk hal-hal seperti yang tersebut di atas itu
energi das Ich itu juga dipergunakan untuk membentuk pemilihan obyek yang baru;
dengan demikian maka perhatian, sikap, kegemaran, dan sebagainya yang merupakan
derivat Instink dibentuk dalam das Ich.
Selanjutnya sebagai aspek eksekutif kepribadian das Ich mempergunakan juga energi
yang dikuasainya untuk mengintegrasikan ketiga aspek kepribadian itu. Tujuan
fungsi integrasi ini adalah untuk menimbulkan keselarasan batin. Sehingga
hubunga-hubungan antara pribadi dengan dunia luar dapat berlangsung dengan baik
dan efektif.
Mekanisme identifikasi ini juga meliputi pemberian energi
kepada das Ueber Ich. Adapun jalannya sebagai berikut: cathexis oleh das Ueber
Ich ini mula-mula sekali berkembang karena bayi dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya sama sekali tergantung kepada orang tua atau substitusi
orang tua. Dalam hubungan ini orang tua memainkan peranan sebagai pendisiplin ,
orang tua mengajar anak-anak tentang moral , nilai-nilai tradisional dan
cita-cita masyarakat di mana dia dibesarkan.
Jadi anak belajar mengidentifikasikan, yaitu belajar
membanding-bandingkan atau mencocokkan tingkah lakunya dengan sanksi dan
larangan yang diberikan oleh orang tua. Anak mengintroyeksikan keharusan moral
dari orang tua sebagai cara untuk memuaskan kebutuhannya, anak memilih
cita-cita orang tuanya menjadi Ich idealnya; anak memilih larangan orang tuanya
sebagai pantangan, dan ini menjadi conscientian-nya. Jadi das Ueber Ich
memperoleh energinya dari das Es dengan jalan identifikasi anak terhadap orang
tuanya.
Dala analisis terakhir dinamika kepribadian itu mungkin
terdiri dari saling pengaruh antara kekuatan-kekuatan pendorong (cathexis) dan
kekuatan-kekuatan penahan atau penghambat (anti-cathexis). Apakah cathexis das
Ich bertentangan dengan anti-cathexis das Ueber Ich, itu akibatnya sama saja,
yaitu ketegangna di dalam diri atau pribadi manusia. Menurut Freud psikanalisis
adalah konsepsi dinamis yang mereduksikan kehidupan jiwa menjadi saling
pengaruh antara kekuatan pendorong dan kekuatan penahan.
3)
Kecemasan atau
Ketakutan
Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan
dan pengrusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Orang
yang merasa terancam umumnya adalah orang yang penakut. Kalau das Ich
mengontrol soal ini, maka orang lalu menjadi dikejar oleh kecemasan atau
ketakutan.
Freud mengemukakan adanya tiga macam kecemasan, yaitu:
·
Kecemasan realistis
Dari ketiga macam kecemasan itu
yang paling pokok adalah kecemasan atau ketakutan yang realisitis, atau takut
akan bahaya-bahaya di dunia luar; kedua kecemasan yang lain diasalkan dari
kecemasan yang realsistis ini.
·
Kecemasan neurotis
Kecemasa neurotis adalah
kecemasan kalau-kalau instink-instink tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan
orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. Kecemasan ini sebenarnya mempunyai
dasar di dalam realitas, karena dunia sebagaimana diwakili oleh orang tua dan
lain-lain orang yang memegang kekuasaan itu menghukum anak yang melakukan
tindakan impulsif.
·
Kecemasan moral
atau perasaan berdosa
Orang yang das Ueber Ichnya berkembang
baik cenderung untuk merasa dosa apabila dia melakukan atau bahkan berpikir
untuk melakukan sesuatu yang bertentnagan dengan norma-norma moral. Kecemasan
moral ini juga mempunyai dasar dalam realitas; karena di mas ayang lampau orang
telah mendapatkan hukuman sebagai akibat dari perbuatan yang melanggar kode
moral, dan mungkin akan mendapat hukuman lagi.
Adapun
fungsi kecemasan atau ketakutan itu ialah untuk memperingatkan orang akan
datangnya bahaya; sebagai isyarat bagi das Ich, bahwa apabila tidak dilakukan
tindakan-tindakan yang tepat bahaya itu akan meningkat sampai das Ich
dikalahkan. Kecemasan adalah juga pendorong seperti halnya lapar dan seks;
bedanya: kalau lapar dan seks itu adalah keadaan dari dalam, maka kecemasan itu
asalnya disebabkan oleh sebab-sebab dari luar.
Kecemasan
atau ketakutan yang tidak dapat dikuasai dengan tindakan-tindakan yang efektif
disebut ketakutan traumatis. Ketakutan yang demikian itu akan membawa orang
kepada ketidakberdayaan yang infantil. Apabila das Ich tidak dapat menguasai
kecemasan dengan jalan dan cara yang rasional, maka dia akan menghadapinya
dengan jalan yanng tidak rasional, maka dia akan menghadapinya dengan jlan yang
tidak realistis. Inilah mekanisme pertahanan das Ich.
Perkembangan
Kepribadian
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan kepribadian
·
Kematangan, adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia.
·
Cara mengatasi ketegangan, ketegangan timbul karena adanya
frustasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan melalui cara
identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego.
Tahap-tahap
perkembangan kepribadian
1) Fase oral (oral stage) : usia 0-18 bulan. Bagian tubuh yang
sensitif terhadap rangsangan adalah mulut;
2) Fase anal (anal stage) : usia 18 bulan - 3 tahun. Bagian
tubuh yang sensitif adalah anus;
3) Fase laten (latencystage) : usia 6 tahun - masa pubertas. Pada
fase ini dorongan seks cenderung bersifat laten atau tertekan;
4) Fase genital (genital stage) : masa pubertas - selanjutnya. Pada
masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi.
Psikopatologi
Psikoanalisis memahami psikopatologi sebagai masalah
perkembangan, akibat gangguan semasa melewati tahap- tahap psikoseksual.
Perkembangan kepribadian dipandang sebagai sesuatu yang kumulatif, sehingga pada
masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa trumatik yang pengaruhnya terasa
sampai dewasa. Orang dewasa yang fondasi kepribadiannya lemah bisa menjadi
mengalami psikopatologi. Berikut dinam,ika jiwa menurut psikoanalisis pada
beberapa jenis psikopatologi :
1. Hysteria,
disebut juga conversion disorder:
kelumpuhan tanpa sebab-sebab fisik, menurut psikoanalisis ini akibat adanya
transformasi dari konflik- konflik psikis
menjadi malfungsi fisik. Remaja yang menjaadi tuli karena keluarga
–terutama ayahnya – sangat keras dalam mengkritik atau memarahidirinya tanpa
alasan yang jelas.
2. Fobia
: kekuatan yang sangat dan tidak pada tempatnya, oleh Freud dianalisis sebagai
dampak dari kecemasan yang di alihkan, bisa kecemasan yang berkaitan dengan
impuls seksual/ kecemasan akibat peristiwa traumatic. Wanita yang fobia naik
kapal, karena pernah mengalami perkosaan di sebuah kapal.
3. Obsesi-kompilsi,
mempunyai tema yang sangat bervariasi. Tema kebersihan, penyakit, kekejaman,
dilator belakangi oleh konflik seksual pada fase anal. Karena kencing
sembarangan seorang ayah menakut-nakuti anaknya dengan pisau yang kebetulan
berada dibawahnya. Sesudah dewasa dia
menjadi ayah yang terobsesi membunuh anak yang dicintainya. Dia sembunyikan
semua senjata tajam di tempat tertentu, dan terus-menerus diceknya
(kompulsi)apakah pisau itu masih berada disana.
4. Depresi
: perasaan tidak mampu, tidak kompeten, kehilangan harga diri, dan merasa
bertaanggung jawab terhadap semua kejadian buruk (pada dirinya dan lingkuannya).
Menurut Freud, akar masalahnya adalah kehilangan cinta pada Oedipus complex,
yang membuat orang marah, karena dia kehilangan cinta dari orang tua, dari
teman, bahkan dari negaranya.
5. Ketagihan
obat / alcohol : interpretasi psikoanalisis terhadap ketagihan obat/alcohol bervariasi.
Freud mengganggap adiksi dilatarbelakangi oleh insting mati. Pakar
psikoanalisis lain mengatakan adiksi menjadi salah satu cara mengalahkan
control superego. Orang menjadi bebas memperoleh apa yang diinginkannya (walau
hanya sebentar) ada juga yang menganalisis botol minuman sebagai representasi
dari buah dada ibu pada fase oral.
Aplikasi
psikoanalisis yang terpenting adalah psikoterapi. Ini bisa dipahami karena pada
dasarnya freud mengembangkan teori psikoanalisisnya dari praktek psikoterapi
yang dilakukannya. Psikoterapi tradisional sangat memakan waktu. Biasanya
pertemuan teraputik dilakukan 4 atau 5 kali seminggu ( 1-2 jam setiap pertemuan
), selama 2-3 tahun.
TUJUAN
Bukan
semata-mata menghilangkan syndrome yang tidak dikehandaki, tetapi terutama bertujuan
memperkuat ego sehingga mampu mengontrol impuls insting, dan memperbesar
kapasitas individu untuk mencintai dan berkarya. Klien belajar begaimana
mensublimasi impuls agresi dan impuls seksual, belajar bagaimana mengarahkan
keinginan dan bukan malahan diarahkan keinginan.
TEKNIK YANG
DIPAKAI – penerapan psikoanalisa Freud
1. Asosiasi
bebas : klien selama sesi terapi mengatakan apa saja yang terlintas dalam
fikirannya, tidak peduli hal itu remeh, memalukan, tidak logis, dan atau kabur.
Dari ungkapan kesadaran tanpa sensor ini, terapi mecoba memahami masalah
kliennya. Ada 3 asumsi yang menjadi dasar free association :
a. Apa
saja yang dikatakan dan dilakukan seseorang sekarang, mempunyai makna dan
berhubungan dengan perkatan dan perbuatannya di masa lalu.
b. Materi
tak sadar berpengaruh penting terhadap tingkah laku, dan
c. Materi
tak sadar dapat dibawa ke kesadaran dengan mendorong ekspresi bebas setiap kali
mereka muncul kedalam fikiran.
Asumsi
ini mengganggap dengan teknik asosiasi bebas, terjadi asosiasi antara event
nyata dengan gambaran mental ( ingatan dan mimpi) yang dapat mengungkapn materi
yang di refresh. Jadi asosiasi bebas tidak benar-benar bebas, tapi secara
khusus membuat hubungan-hubungan, dan alurnya ditentukan oleh proses tak sadar
yang aktif saat itu. Menurut freud, walaupun pasien menghalangi topik tertentu
dan berusaha menyembunyikannya, suatu ketika terbentuk rantai asosiasi yang
menbuat terapis dapat memahami konflik mental dan emosional pasien itu.
2. Analisis
mimpi : ketika tidur, control kesadaran menurun, dan mimpi adalah ungkapan
isi-isi tak sadar karena turunnya control kesadaran itu. Klien melaporkan apa
yang diimpikannya dalam asosiasi bebas, menjadi bahan yang kaya untuk
dianalisis terapis.
3. Freudian
slip meliputi : salah ucap, salah membaca, salah dengar, salah meletakkan
objek, dan tiba-tiba lupa. Semua itu menurut freud bukan kejadian kebetulan,
tetapi kejadian yang dipengaruhi oleh insting ketidaksadaran. Analisis akan
dapat mengungkapkan gambaran mental yang ada di balik slip itu.
4. Interpretasi
: mengenalkan kepada klien makna yang tidak disadarinya dari fikiran, perasaan
dan keinginannya.
5. Analisis
resistensi : resistensi adalah mekanisme pertahanan klien, dan analisis akan
mengungkap unsur yang penting dari masalah yang ingin disembunyikan klien.
6. Transference
: mengungkapkan isi-isi ketidak sadaran yang tersimpan sejak anak-anak, dengan
memakai terapi sebagai medianya.
7. Working
through : terus-menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien,
mengulang resistensi dan transferensi, pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan.
Kekurangan
dan Kelemahan Teori Psikoanalisi
Kekurangan:
1.
Pandangannya yang terlalu deterministik di nilai terlalu
merendahkan martabat manusia.
2.
Terlalu banyak menekankan kepada pengalaman kanak-kanak, dan
menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya ditentukan masa lalu. Hal ini
memberikan gambaran seolah-olah sepenuhnya tanggung jawab individu sekarang.
3.
Terlalu menekankan pada libido, padahal tidak semua hal dapat dijelaskan dengan libido
Kelebihan:
1. Konseling psikoanalisa
merupakan penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik.
2. Adanya penyesuaian antara teori dan
teknik.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
- Makna perkembangan kepribadian
menurut freud adalah belajar tentang cara-cara baru untuk mereduksi
ketegangan dan memperolehkepuasan. Ketegangan itu terjadi bersumber kepada
empat aspek yaitu pertumbuhan fisik, frustasi, konflik, dan ancaman
•Perkembangan kepribadian berlangsung melalui tahapan-tahapanperkembangan
psikoseksual yaitu periode perkembangan seksual yang sangat mempengaruhi
kepribadian masa dewasa. •Perkembangan manusia dalam psikoanalitik
merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan
psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori
Freud setiapmanusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam
prosesmenjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan
sifat- sifat kepribadian yang bersifat menetap
DAFTAR
PUSTAKA
Suryabrata, Sumadi. 2012. PSIKOLOGI KEPRIBADIAN. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada
Komentar