MATERI EMPATI

BAB I
Urgensi Kecerdasan Moral

Pentingnya Kecerdasan Moral Dalam Kehidupan
Setiap manusia yang ada di dunia ini tidak dapat terlepas dari permasalahan kehidupan. Berbagai peristiwa yang terjadi yang mengindikasikan sulitnya manusia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya yang akhirnya membawa manusia  melakukan tindak-tindak yang tidak sepantasnya hingga tindak kriminal bahkan sampai bunuh diri. Permasalahan ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa namun juga dialami oleh anak-anak. Pemberitaan saat ini baik media cetak dan media elektronik sering menyajikan pemberitaan mengenai tindak criminal khususnya anak-anak seperti pelecehan seksual, pembunuhan, pencurian, perdagangan anak, anak putus sekolah, meroko,menyontek dan lain sebagainya.
Faktor pendukung lainya adalah tampilan dari media pemberitaan yang menampilkan kekerasan, pornogafi dan pornoaksi yang menjadi bahan tontonan bagi orang banyak, kemudian yang semakin mengkahwatirkan bahwa pelaku criminal tidak jarang dilakukan oleh kaum muda yang merupakan generasi muda. beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya tindak kriminal baik terutama pada kaum muda yaittu lingkungan, kurangnya pendidikan mral sejak dini, dan kurangnya perhatian dari orang tua untuk itu diperlukan solusi  untuk permasalahan ttersebut adalah dengan memiliki kecerdasan moral. Sesorang  yang memiliki kemampuan untuk dapat berfikir dan bertindak dengan baik dan benar sehinggga dapat bermanfaat untuk dirinya dan orang lain atau dengan kata lain memiliki kecerdasan moral (Coles dalam Azhar & Putri, 2009).
Kecerdasan moral sangat penting untuk setiap orang sebagai modal menjalani hidup yang lebih baik. Kecerdasan moral merupakan kemampuan sesorang untuk dapat membedakan hal baik dan hal yang buruk yang terjadi di dalam kehidupanya sehingga dapat memahami serta menyadari baik dan buruk serta etika sehingga dalam memiliki pengangan untuk dapat bertindak yang benar dan terhormat ( Borba, 2008). Sedangkan menurut Coles bahwa kecerdasan moral merupakan kecerdasan kalbu dimana berhubungan dangan manusia dan juga sekitar yaitu alam semesta., dengan memiliki kecerdasan moral maka akan mengarahkan seseorang untuk dapat bertindak dengan baik, kemudian kurang memiliki perasaan iri hati dengki, dendam dan angkuh (Azhar & Putri, 2009).
Membangun kecerdasan moral terdapat tujuh kebajikan utama yang di butuhkan untuk mengenalkan dan mengajarkan kebenaran dan juga menghadapai persoalan tekanan yang berkaitan dengan etika yang ada. Adapun tujuh kebajikan tersebut adalah ( Borba, 2008):
1.      Empati yaitu seseorang dapat memahami dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain.
2.      Nurani yaitu mengetahui dan menerapkan sesuatu dengan melakukan tindakan yang benar dan sesuai. Bertindk sesui dengan kata hati.
3.      Kontrol diri yaitu dapat mengendalikan pikiran dan perbuatan agar dapat menahan keinginan dari dalam maupun dari luar untuk dapat mampu  berbuat yang baik dan benar.
4.      Kebaikan hati yaitu seseorang dapat memberikan keedulian terhadap apa yang dialami orang lain contohnya kesejahteraan dan perasaan rang lain.
5.      Rasa hormat yaitu memerikan penghargaan kepada orang lain dengn berlaku baik dan juga sopan.
6.      Toleransi yaitu menghargai dan menghormati oran lain, walau dengan erbedaan yang ada.
7.      Keadilan yaitu seimbang sehingga dapat berpikiran terbuka dan benar.
Kecerdasan moral sangatlah penting untuk dikembangkan terutama anak-anak agar dapat tumbuh menjadi pribadi ang memiliki kecerdasan moral sehingga dapat bertindak dengan benar untuk itu di  perukan adanya dukungan dari keluarga, dan lingkunangan dan yang terpenting memenuhi tujuh kebajikan utama kecerdasan moral.




BAB II
Urgensi Empati
Pentingnya Empati dalam Kehidupan
Andai saja setiap orang memahami betapa pentingnya empati dalam kehidupan sehari-hari, pasti setiap orang akan berusaha meningkatkan empati mereka. Tak hanya penting dalam menciptakan hubungan yang lebih baik dengan orang lain, bahkan empati dapat menciptakan suatu kedamaian dalam kehidupan.
Namun sayangnya tak banyak orang yang mengetahui pentingnya empati dalam kehidupan. Bahkan di era global sekarang ini, empati justru telah semakin hilang dan menipis serta terganti dengan rasa individualisme yang tinggi. Padahal empati memiliki peranan penting dalam kehidupan.
Begitu pentingnya empati dalam kehidupan. Untuk itu sudah seharusnya Anda meningkatkan empati Anda. Jika Anda bertanya seberapa pentingkah empati dalam kehidupan hingga Anda harus meningkatkan empati Anda? Berikut pentingnya empati dalam kehidupan yang bisa Anda ketahui.
Pentingnya empati dalam kehidupan:
·         Empati membuat Anda lebih bisa menghargai orang lain
·         Empati meningkatkan rasa cinta kasih dari dalam diri Anda
·         Empati membuat Anda bisa ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain
·         Empati akan membuat orang ingin saling membantu
·         Empati membuat orang lebih mudah berhubungan dengan orang lain
·         Empati memudahkan setiap orang untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
Setelah mengetahui pentingnya empati dalam kehidupan, sudah seharusnya Anda meningkatkan empati Anda. Sebagian besar orang berpendapat bahwa empati merupakan sifat bawaan seseorang sejak lahir, namun sebenarnya empati bisa ditumbuhkan dan bisa ditingkatkan. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan empati dalah terapi.

A.    KRISIS DALAM PENGEMBANGAN EMPATI

Empati, kebajikan penting pertama kecerdasan moral, adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan keprihatinan orang lain. Ini adalah emosi kuat yang menghentikan perilaku kekerasan dan kejam dan mendorong kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Karena empati muncul secara alami dan cukup awal, anak-anak kita lahir dengan besar built-in keuntungan bagi pertumbuhan moral mereka. Tapi apakah anak-anak kita akan mengembangkan kapasitas yang luar biasa ini merasa orang lain jauh dari terjamin. Walaupun anak-anak dilahirkan dengan kapasitas untuk berempati, itu harus benar dipelihara, atau akan tetap terbengkalai. Dan di situlah letak krisis: selama beberapa tahun terakhir, banyak faktor lingkungan yang penelitian yang telah ditemukan menjadi penting untuk peningkatan empati menghilang, diganti dengan yang lebih negatif. Meskipun tentu ada kondisi lain yang menghambat kapasitas anak-anak merasa orang lain, lima faktor berikut ini masih mematikan di squelching empati, dan arahkan ke krisis dalam perkembangannya.

Ø  Tidak tersedianya emosional Orangtua

Studi menemukan bahwa ketika datang untuk meningkatkan empati anak-anak, bukan sembarang orang tua akan melakukan. Studi tonggak oleh John Gottman dari University of Washington menemukan bahwa orang tua yang terbaik untuk mengembangkan empati pada anak-anak mereka adalah mereka yang baik secara aktif terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka dan secara emosional. Itulah mengapa itu sangat mengganggu bahwa total waktu satu-satu antara orang tua dan anak-anak mereka telah menyusut secara dramatis selama beberapa dekade terakhir. Sebuah studi universitas menemukan bahwa ibu saat ini yang bekerja di luar rumah menghabiskan rata-rata sebelas menit sehari di waktu interaksi kualitas eksklusif dengan anak-anak mereka pada hari kerja dan sekitar tiga puluh menit pada akhir pekan. Data untuk ayah hanya delapan dan empat belas menit, masing-masing. ibu nonworking tidak tarif jauh lebih baik, mencurahkan rata-rata tiga belas menit per hari. Sebuah jajak pendapat terbaru yang diambil dari anak-anak berumur sembilan tahun mengungkapkan bahwa hanya 40 persen dari anak laki-laki dan 50 persen anak perempuan menghabiskan hampir sepanjang akhir pekan dengan orang tua mereka, dan 25 persen dari anak laki-laki dilaporkan menghabiskan ada jam dengan keluarga mereka. Ketersediaan emosional orang tua berkurang untuk sejumlah alasan, termasuk penyakit orangtua, kematian, pekerjaan, kelelahan, dan perceraian. Apapun penyebabnya, saat empati-bangunan penting untuk anak-anak yang hilang juga.

Ø  Tidak adanya ayah Mendukung

Penelitian menegaskan apa yang banyak dikenal selama ini: terlibat ayah dapat memberikan kontribusi besar untuk membesarkan anak-anak empatik. Sebuah studi jangka panjang dimulai pada 1950-an, misalnya, menemukan bahwa anak-anak yang ayahnya yang positif terlibat dalam perawatan mereka ketika mereka berusia lima tahun ditemukan tiga puluh tahun kemudian menjadi dewasa lebih empatik daripada mereka yang ayahnya tidak hadir. Studi lain yang melibatkan kelas pertama anak laki-laki dalam keluarga utuh mengungkapkan bahwa anak-anak yang ayahnya mengambil tanggung jawab lebih untuk disiplin dan sekolah anak-anak mereka 'dan lebih terlibat dalam masalah pribadi anak-anak mereka memiliki tingkat signifikan lebih tinggi dari empati. Dan ini benar terlepas dari tingkat ayah sendiri empati.
Selain dari banyak ayah yang tidak mengambil peran pengasuhan aktif, ada nomor mengganggu yang telah dipilih untuk menjadi benar-benar absen dari kehidupan anak-anak mereka. Sebuah laporan Gedung Putih baru-baru ini menemukan bahwa kurang dari 25 persen dari anak laki-laki dan perempuan mengalami rata-rata minimal satu jam sehari kontak yang relatif individual dengan ayah mereka. Angka-angka sangat mengejutkan bagi anak-anak Afrika Amerika: pada tahun 1994, 60 persen anak-anak kulit hitam tinggal di rumah salah satu orang tua. Jadi pengasuh penting lain dari empati-baik tua ayah-tidak di rumah untuk mengajarkan pelajaran kasih sayang dan benar dan salah.

Ø  Rentetan Images Media Kejam

Selama dekade terakhir, anak-anak kita telah dibombardir dengan televisi, film, musik, video dan arcade game, dan konten Internet yang menekankan kekerasan, nastiness, dan kekejaman. Hal ini mempengaruhi anak-anak kita. Berikut ini alasannya: perilaku umumnya belajar dengan meniru pengalaman yang diamati, sehingga lebih banyak contoh merawat anak-anak kita menyaksikan, semakin besar kesempatan bahwa mereka akan menjadi jenis perilaku mereka menyalin. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa menonton program televisi dengan pesan prososial meningkatkan kerjasama, sensitivitas, dan peduli pada anak-anak dan bahwa anak-anak akan cenderung meniru perilaku mereka baik. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang-orang perilaku prososial secara substansial ditingkatkan ketika orang tua menonton dengan anak-anak mereka dan mendiskusikan atau bermain peran mereka perilaku baik.
Tentu saja, sebaliknya juga benar: rentetan terus-menerus gambar kejam mengajarkan anak-anak kita perilaku kejam yang melumpuhkan kemampuan mereka untuk berempati. Sebagai negara Madeline Levins dalam bukunya Lihat No Evil, "Ada tubuh besar penelitian berfokus pada efek kekerasan media pada anak-anak prasekolah. Hampir tanpa kecuali, penelitian telah menemukan bahwa menonton kekerasan membuat anak-anak lebih agresif, lebih gelisah, lebih takut, kurang kreatif, dan kurang intuitif. " The American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa lebih dari seribu studi sangat menyimpulkan bahwa melihat hiburan kekerasan dapat meningkatkan nilai agresif dan perilaku pada anak-anak. Mereka lebih lanjut menyatakan bahwa melihat kekerasan dapat menurunkan rasa mudah terpengaruh anak-anak untuk empati karena dapat mengurangi kemungkinan bahwa mereka akan mengambil tindakan atas nama korban ketika kekerasan terjadi.

Ø  Budidaya Anak laki-laki ke Mask Perasaan mereka

Studi menemukan bahwa ketika datang ke emosi, orang tua membesarkan anak-anak yang sangat berbeda daripada yang mereka lakukan putri. Orang tua mendiskusikan perasaan lebih dan menggunakan array yang lebih besar dari kata-kata untuk emosi dengan anak perempuan mereka daripada yang mereka lakukan dengan anak-anak mereka. Mereka juga mendorong anak perempuan mereka untuk berbagi perasaan mereka, sedangkan anak laki-laki biasanya diberitahu untuk menutupi rasa sakit emosional mereka. Menimbang bahwa penentu utama apakah seorang anak mengembangkan kemampuan untuk merasakan orang lain adalah seberapa baik ia mengerti dan dapat mengungkapkan perasaannya sendiri, mudah untuk melihat bahwa sikap orang tua terhadap ekspresi emosi anak mereka dapat menghambat perkembangan empati anak laki-laki.
William Pollack, penulis Real Boys, menjelaskan, "Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki memulai kehidupan mereka dengan rasa alami dari empati, yang bertentangan dengan kekerasan. Dengan kelas dua anak laki-laki tampak jauh lebih selaras dengan perasaan sakit hati dan sakit pada orang lain dan mulai kehilangan kapasitas mereka untuk mengekspresikan emosi dan kekhawatiran dalam kata-kata mereka sendiri. " Bahkan, anak-anak belajar bahwa satu-satunya emosi yang dapat diterima secara sosial bagi mereka untuk mengekspresikan kemarahan; perasaan lain harus tertahan. Dan sebagai kemarahan mereka perlahan-lahan semakin intensif, potensi mereka untuk empati berkurang. Hasilnya, catatan Pollack, dapat mematikan: "Ini adalah proses yang mendorong anak-anak untuk memakai masker dari keberanian Dan ini, sebagian besar, adalah apa yang membuat mereka kekerasan.."

Ø  Penyalahgunaan di Cradle

Menarik penelitian baru oleh Bruce Perry dari Baylor College of Medicine menemukan bahwa tiga tahun pertama kehidupan anak adalah penting dalam membangun kapasitas untuk berempati atau menanam benih kekerasan. Sebuah penentu besar untuk cara yang perkembangan moral anak pergi adalah bagaimana dia diperlakukan oleh pengasuh utamanya. Perry menyatakan bahwa empati dapat sangat terganggu pada orang-orang pertama tiga puluh enam bulan akibat berulang stres penyalahgunaan, penelantaran, dan trauma. Mark Barnett dari Kansas State University menjelaskan bahwa jika anak-anak muda "tidak memiliki kebutuhan emosional mereka puas, mereka tidak menyadari bahwa mereka perlu khawatir tentang atau sensitif terhadap kebutuhan emosional orang lain." Mengingat angka mengejutkan kasus kekerasan terhadap anak, kita terpaksa menyimpulkan bahwa banyak warga termuda Amerika mungkin memiliki masa depan moral yang suram.
AS Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan memperkirakan bahwa hampir tiga juta anak dilaporkan lembaga pelayanan perlindungan anak untuk kekerasan dan penelantaran pada tahun 1997; satu dari tiga korban kekerasan fisik adalah bayi berusia kurang dari dua belas bulan. Perlindungan Anak melaporkan bahwa tiga perempat dari kematian anak melibatkan anak di bawah usia tiga tahun. Meskipun kasus yang dilaporkan dari penyalahgunaan dan penelantaran anak bervariasi per lembaga, mereka tampak menurun. Tapi itu tentu saja tidak ada alasan untuk merayakan: setiap laporan pelecehan anak merupakan salah satu kasus terlalu banyak. Meskipun anak Anda mungkin tidak akan terpengaruh oleh masalah ini, kemungkinan besar dia akan bergaul dengan anak-anak lain yang. Karena rekan-rekan yang pengaruh moral, pada akhirnya semua anak-anak kita yang terpengaruh.
Banyak faktor lingkungan diidentifikasi sebagai penting untuk pertumbuhan empati berkurang. Meskipun tidak ada salah satu faktor predisposisi dengan sendirinya anak untuk kekejaman, peneliti menekankan bahwa interaksi faktor mungkin cukup untuk memicu perilaku antisosial. Oleh karena itu penting bahwa kita melakukan segala yang kami bisa untuk melawan pengaruh-pengaruh negatif dengan memelihara emosi moral yang inti empati. Selama kita membiarkan pengaruh-pengaruh negatif terus, kapasitas banyak anak-anak merasa orang lain akan padam, dan kehidupan emosional mereka akan kosong.

B.     MEMBANGUN EMPATI PADA ANAK USIA DINI
Metode yang dapat digunakan oleh guru dalam menumbuhkan dan menanamkan empati pada anak antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Keteladanan
Menjadikan diri kita teladan bagi anak-anak didik kita dalam bersikap dan berperilaku serta menjadikan mereka menjadi saksi dari tingkah laku kita. Saksi tentang bagaimana cara kita bergaul, bersikap pada orang lain dengan mengembangkan sikap yang baik dan empati. Dengan demikian diharapkan mereka bisa memahami, menghayati dan mengkristalkan ke dalam pribadinya tentang nilai-nilai budi pekerti, nilai-nilai kebaikan/moral yang sesungguhnya (nilai-nilai sikap apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang harus kita lakukan dan tak boleh kita lakukan).
2.      Kisah/cerita yang berkaitan dengan empati /moral
Kisah/cerita yang diambil adalah kisah yang dapat menumbuhkan sikap empati anak-anak terhadap tokoh-tokoh atau pun peristiwa yang terjadi dalam kisah/cerita tersebut. Kisah/cerita yang menggambarkan tentang penderitaan/kemalangan seseorang dalam kehidupannya. Dalam kisah ini perlu ditanamkan pada anak bahwa peristiwa/keadaan itu pun mungkin juga bisa menimpa pada diri kita. Bahwa kita pun bisa mengalami nasib yang sama seperti orang lain yang menderita akibat perbuatan jahat kita. Bagaimana penderitaan yang menimpa orang lain itu jika menimpa kita, bukankah kita akan butuh empati dan perhatian dari orang lain Oleh sebab itu kita pun harus selalu mencoba memperhatikan penderitaan orang lain.
Kisah/cerita yang berkaitan dengan empati ini berguna untuk mengembangkan daya imajinasi moral anak. Dengan kisah/cerita tersebut, diharapkan anak akan berimajinasi dalam pikirannya untuk selalu melakukan sikap empati kepada orang lain.
Anak yang mempunyai rasa empati yang sudah cukup tinggi, biasanya akan ikut terhanyut dalam cerita tersebut, dan tak jarang mereka bisa ikut sedih atau menangis. Pada saat suasana seperti ini, terjadilah tanggapan dalam diri mereka tentang konsep orang baik dan orang yang tidak baik atau jahat, serta konsep perlunya sikap empati. Sebagai guru kita bisa meminta tanggapan penafsiran perenungan dari anak terhadap cerita tersebut ( terhadap sikap dan perbuatan prilaku tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut, atau tentang persetujuan terhadap sikap yang mereka ambil dan apa alasannya) Dalam metode cerita ini, ada juga anak yang tak terpengaruh oleh cerita tersebut, atau menjadi sinis, tak tersentuh perasaannya, atau anak yang berhati batu. Menghadapi anak seperti itu kita bisa menjadikan diri kita contoh bagaimana kita menyesal, bahwa kita pun pernah gagal dalam menanggapi suatu cerita yang diceritakan orang lain kepada diri kita. Setelah itu kita baru bisa memulai suatu kisah cerita dan kemudian menyuruh anak untuk memaknai cerita tersebut, tentang apa yang akan kita lakukan ketika mereka menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Dan apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka kelak jadi orang tua, untuk menanamkan sikap empati ini.
3.      Penggunaan kata-kata verbal dalam menegur anak yang nakal
Sebagai contoh penggunaan kata-kata verbal untuk menegur anak didiknya yang salah adalah semisal ketika ada anak yang nakal dan usil sehingga membuat temannya menangis, maka teguran yang baik adalah dengan kata-kata: “ Lihat kamu telah membuatnya amat sedih. Kasihan dia kan kalau sedih. “ Sedangkan penggunaan kata yang kurang mendidik adalah teguran yang secara langsung memarahi anak yang nakal seperti : “ Nakalnya kamu, nanti Ibu jewer, lho. “

4.      Pengalaman langsung
Anak kita ajak berkunjung dan melakukan kegiatan sosial ke panti asuhan anak yatim piatu, kita latih untuk memberi sedekah pada fakir miskin dan anak kita latih untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan atau pertolongan.
5.      Kebersamaan dalam bermain
Kita tanamkan pada anak untuk bisa bermain bersama-sama dengan teman-temannya dan mau berbagi/meminjamkan mainan pada teman-temannya yang belum atau tidak mempunyai alat permainan agar teman kita tidak merasa sedih karena tidak memiliki mainan seperti kita. Anak kita ajak berempati kepada temannya yang tidak memiliki alat permainan.
6.      Pembentukan Empati lewat Pembiasaan
Pada kehidupan setiap hari anak kita biasakan, selalu kita bimbing dan arahkan untuk bersikap empati kapan pun dan dimana pun. Bila suatu ketika kita temukan, anak kita sedang berebut mainan misalnya harus langsung kita tanamkan pada masing-masing anak tersebut sikap empati dalam perasaan mereka. Kita latih anak memahami kelelahan orang tua di rumah dan mengajaknya untuk selalu membantu orang tuanya dirumahnya dengan rajin menjaga kebersihan rumah. Di sekolah kita latih anak untuk antri dengan cara berbaris di depan kelas pada saat awal akan dimulainya proses belajar, dan masuk ke kelas satu demi satu. Dengan empati terhadap teman yang antri duluan di depan kita, maka kita tak akan menyerobot antrian tersebut.



BAB III
TEORI
1.      Definisi
Empati yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi dengan dan merasa orang lain kekhawatiran-adalah dasar dari kecerdasan moral. kebajikan moral pertama ini adalah apa yang peka anak-anak kita untuk sudut pandang yang berbeda dan meningkatkan kesadaran mereka tentang ide dan pendapat orang lain. Empati adalah apa yang meningkatkan kemanusiaan, kesopanan, dan moralitas. Empati adalah emosi yang memberitahu anak untuk penderitaan orang lain dan membangkitkan hati nuraninya. Ini adalah apa yang menggerakkan anak-anak untuk menjadi toleran dan penuh kasih, untuk memahami kebutuhan orang lain, untuk cukup peduli untuk membantu mereka yang terluka atau bermasalah. Seorang anak yang belajar empati akan jauh lebih memahami dan peduli, dan biasanya akan lebih mahir dalam menangani kemarahan.
Anak-anak kita sering terkena dunia meresahkan kekerasan, obat-obatan, kekejaman, dan ketidaksopanan; empati mungkin penawar terbaik. Dengan belajar untuk menunjukkan empati kepada orang lain, anak-anak kita dapat membantu menciptakan lebih toleran, dunia yang damai. Bab ini menunjukkan Anda terbukti cara untuk membangun empati pada anak Anda sehingga ia akan mengembangkan kebajikan yang meletakkan dasar penting untuk non-kekerasan dan untuk melakukan apa yang benar karena dia merasa dalam hatinya.

Empati berasal kata pathos (dalam bahasa Yunani) yang berarti perasaan yang mendalam. Empati pada awalanya di gunakan untuk menggambarkan suatu pengalaman estetika ke dalam bagian bentuk kesenian. Empati berbeda dengan simpati. Perasaan simpati sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan perasaan seseorang kepada orang lain. Beda antara empati dan simpati adalah, bahwa simpati lebih memusatkan perhatian pada perasaan diri sendiri bagi orang lain, sementara itu perasaan orang lain atau lawan bicaranya kurang diperhatikan. Sedangkan empati lebih memusatkan perasaanya pada kondisi orang lain atau lawan bicaranya. Empati juga hubungan dengan bagaimana orang lain merasakan diri saya, baik masalah saya maupun lingkungan saya.
Istilah empati pertama kali digunakan oleh Carl Rogers (dalam Pangribuan, 1998) seorang tokoh psikologi humanistic. Istilah-istilah seperti kehangatan (warmth), kepedulain (compassion), rasa hormat (respect), penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard), ketulusan (genuineness), dan pemahaman (understanding) di dalam teorinya banyak digunakan oleh para peneliti. Istilah-istilah tersbut digunakan untuk mengkomunikasikan pemahaman terhadap perasaan, pikiran, dan motif-motif orang lain.
Kata empati mengandung makna bahwa seseorang mencoba untuk mengerti keadaan orang lain sebagaimana orang tersebut mengertinya dan menyampaikan pengertian itu kepadanya (Hansen, dkk, 1982). Empati berarti masuk ke dalam diri seseorang dan melihat keadaan diri sisi orang tersebut, seolah-olah ia dalah orang itu. Menurut Dahlan, seseorrang dikatakan memiliki empati jika ia dapat menghayati keadaan perasaan orang lain serta dapat melihat keadaan luar menurut pola acuan orang tersebut, dan mengkomunikasikan penghayatannya bahwa dirinya memahami perasaan, tingkah laku, dan pengalaman orang tersebut secara pribadi (Pangaribuan, 1993).
Carkhluff mengartikan empati sebagai kemampuan untuk mengenal, mengerti dan merasakan perasaan orang lain dengan ungkapan verbal dan perilaku, dan mengkomunikasikan pemahaman tersebut kepada orang lain. Empati merupakan dimensi yang penting dalam proses pemberian bantuan. Brammer mengertiakan empati sebagai cara seseorang untuk memahami persepsi orang lain dari kerangka intelnya. Sedangkan menurut Rogers empati merupakan cara mempersepsikan kerangka internal dari referensi orang lain dengan keakuratan dan komponen emosional, seolah-olah seseorang menjadi orang lain, tetapi masih menyadari kondisinya yang seolah-olah tadi (Pangaribudi, 1998). Empati dikatakan akurat jika pemahaman individu terhadap keadaan orang lain benar, dalam arti sesuai dengan penghayatan oaring yang benar empati.
Berempati tidak hanya dilakukan dalam memahami perasaan orang lain semata, tetapi harus dinyatakan secara verbal dan dalam bentuk tingkah laku. Tiga tahap dalam berempati menurut Garda, dkk., (1991) adalah:
·         Tahap pertama, mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan orang lain, bagaimana perasaannya, apa yang terjadi pada dirinya.
·         Tahap kedua, menyusun kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan perasaan dan situasi orang tersebut.
·         Tahap ketiga, menggunakan susunan kata-kata tersebut untuk mengenai orang lain dan berusaha memahami perasaan serta situasinya.

Ø  Bagaimana Empati Berkembang?
Menurut Daniel Goleman (1997), akar empati itu sudah ada pada seseorang sejak mereka masih bayi atau sejak mereka lahir. Tanda-tanda awal empati ini dicontohkan sebagaimana bayi akan menangis ketika mereka mendengar bayi lain menangis. Seorang anak umur satu tahun akan mengulum jarinya sendiri untuk mengetahui apakah ia juga terluka, ketika melihat bayi lain terluka jarinya. Dan seorang anak akan menghapus matanya meskipun ia tak menangis, ketika melihat ibunya menangis. Pengamatan Daniel Goleman menunjukkan bahwa kepekaan empati anak ini akan mulai lenyap saat anak berusia sekitar dua setengah tahun, ketika mereka mulai menyadari bahwa kepedihan orang lain berbeda dengan kepedihan mereka sendiri, dan mereka sudah pintar mencari penghiburan. Pada tahap ini dalam perkembangannya, anak-anak mulai berbeda kepekaan empatinya terhadap orang lain. Ada anak-anak yang amat peduli terhadap kondisi orang lain, namun anak-anak lain tidak demikian.
Berdasarkan serangkaian studi oleh Marian Radke-Yarrow dan Carrolyn Zahn-Waxler pada National Institute of Mental Health sebagaimana dikutip dalam Daniel Goleman (1997), adanya perbedaan dalam kepekaan empati pada anak ini, ada kaitannya dengan pola asuh orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak-anaknya. Anak-anak akan menjadi lebih empatik bila kedisiplinan juga mencakup pemberian perhatian dengan sungguh-sungguh atas kemalangan yang disebabkan oleh kenakalan anak mereka. Kata-kata verbal yang diucapkan orang tua dalam mendisplinkan anak-anaknya yang nakal akan berpengaruh pada perkembangan tingkat kepekaan empati anak. Sebagai contoh penggunaan kata-kata verbal “ lihat, kamu membuatnya amat sedih” akan lebih memupuk kepekaan empati anak, daripada penggunaan kata verbal “ Nakalnya kamu”.

Ø  Macam Empati Yang Perlu Ditumbuhkan dan Dikembangkan
Macam empati yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan pada anak yaitu antara lain:
1.      Empati terhadap sesama manusia
Sejak dini anak dididik untuk memperhatikan dan ikut merasakan apa yang dirasakan teman atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Anak kita ajak membayangkan kesedihan dan penderitaan orang lain itu menimpa teman/orang lain itu terjadi pada diri kita. Apa yang akan kita lakukan? Dalam empati terhadap sesama manusia ini juga perlu ditanamkan pada anak bahwa sifat tidak mau meminjamkan mainannya kepada teman yang tidak memilikinya, mementingkan diri sendiri, merugikan orang lain, menang sendiri, serakah, keinginan untuk memiliki dan mengambil benda milik orang lain adalah dapat melukai perasaan dan membuat orang lain sedih atau pun menderita. Dengan demikian pada diri anak akan tumbuh sifat kasih sayang, adil, bijaksana, sopan-santun kepada teman maupun orang lain.
2.      Empati terhadap kehidupan binatang
Perlu ditanamkan pada anak bahwa binatang adalah juga makhluk ciptaan Tuhan. Dia juga mempunyai rasa sakit dan sedih. Bila binatang tersebut tidak dipelihara dengan baik oleh manusia dia akan sakit, sedih, menderita, dan juga menangis. Oleh sebab itu kita tidak boleh menyakiti atau menyiksa binatang. Karena itu kita juga harus menyayangi binatang seperti kita juga menyayangi sesama manusia.
3.      Empati terhadap kehidupan tumbuh-tumbuhan
Kepada anak kita ajarkan bahwa tumbuhan bisa sakit dan mati bila tidak kita pelihara dengan baik. Tumbuhan seperti bunga misalnya akan menderita dan mati kalau tidak pernah kita sirami dengan air setiap hari dan tidak pernah kita beri pupuk sebagai makanan. Karena tumbuhan juga butuh makan dan minum seperti halnya manusia. Tumbuhan juga bermanfaat bagi manusia, seperti hutan misalnya, adalah bermanfaat untuk membuat agar udara yang kita hirup terasa segar dan nyaman, serta mengurangi pencemaran udara yang dapat membuat sesak nafas kita. Hutan juga dapat menyimpan air hujan, sehingga manusia dapat terhindar dari kekeringan karena tidak ada air. Oleh sebab itu jika kita menebangi hutan dengan seenaknya, tumbuhan hutan akan menderita dan sedih karena tidak bisa menjaga keseimbangan alam, yang berguna juga bagi manusia.
4.      Empati terhadap kelestarian dan keindahan lingkungan
Tanamkan pada anak bahwa lingkungan yang ada di sekitar kita juga perlu kita pelihara kebersihannya dan keindahannya. Kita jangan mencoret-coret dinding rumah dan sekolah misalnya, agar dinding tersebut tidak sedih dan menangis. Lingkungan yang kotor juga harus selalu kita bersihkan agar lingkungan di sekitar kita berbahagia dan gembira seperti juga kita.
\


2.      Aspek-aspek Empati
Baron dan Byrne (2005: 111) menyatakan bahwa dalam empati juga terdapat aspekaspek, yaitu:
a.       Kognitif
Individu yang memiliki kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal tersebut dapat terjadi pada orang tersebut.
b.      Afektif
Individu yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan.
Batson dan Coke (Watson, 1984: 290) menyatakan bahwa di dalam empati juga terdapat aspek-aspek:
·         Kehangatan
Kehangatan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat terhadap orang lain.
·         Kelembutan
Kelembutan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap maupun bertutur kata lemah lembut terhadap orang lain.
·         Peduli
Peduli merupakan suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memberikan perhatian terhadap sesama maupun lingkungan sekitarnya.
·         Kasihan
Kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap iba atau belas kasih terhadap orang lain.

3.      Indikator
Davis (dalam Dewi, 2013) mengelompokkan indicator menjadi 3 bagian, yaitu:
a.       Perhatian (Emphatic Concern)
Cerminan dari perasaan kehangatan yang erat kaitannya dengan kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain, termasuk perasaan simpati yang berorientasi pada orang lain dan perhatian terhadap kemalangan orang lain.
b.      Pengambilan Perspektif (Perspective Taking)
Kecenderungan untuk mengambil sudut pandang psikologis orang lain secara spontan. Pengambilan perspektif berhubungan dengan reaksi emosional dan perilaku menolong pada remaja, meliputi proses self identification dan self positioning.
c.       Fantasi (Fantasy)
Kemampuan untuk mengubah diri secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan dari orang lain di sekitarnya. Fantasi sangat mempengaruhi intensitas empati seseorang, contoh konkritnya seperti meminta orang lain menceritakan runut permasalahan sebagai media problem solving masalah tersebut.



BAB IV
PENUTUP
1.      KESIMPULAN
A.    Membangun kecerdasan moral terdapat tujuh kebajikan utama yang di butuhkan untuk mengenalkan dan mengajarkan kebenaran dan juga menghadapai persoalan tekanan yang berkaitan dengan etika yang ada. Adapun tujuh kebajikan tersebut adalah ( Borba, 2008):
1)      Empati yaitu seseorang dapat memahami dan merasakan apa yang dialami oleh orang lain.
2)      Nurani yaitu mengetahui dan menerapkan sesuatu dengan melakukan tindakan yang benar dan sesuai. Bertindk sesui dengan kata hati.
3)      Kontrol diri yaitu dapat mengendalikan pikiran dan perbuatan agar dapat menahan keinginan dari dalam maupun dari luar untuk dapat mampu  berbuat yang baik dan benar.
4)      Kebaikan hati yaitu seseorang dapat memberikan keedulian terhadap apa yang dialami orang lain contohnya kesejahteraan dan perasaan rang lain.
5)      Rasa hormat yaitu memerikan penghargaan kepada orang lain dengn berlaku baik dan juga sopan.
6)      Toleransi yaitu menghargai dan menghormati oran lain, walau dengan erbedaan yang ada.
7)      Keadilan yaitu seimbang sehingga dapat berpikiran terbuka dan benar.

B.     Pentingnya empati dalam kehidupan:
·         Empati membuat Anda lebih bisa menghargai orang lain
·         Empati meningkatkan rasa cinta kasih dari dalam diri Anda
·         Empati membuat Anda bisa ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain
·         Empati akan membuat orang ingin saling membantu
·         Empati membuat orang lebih mudah berhubungan dengan orang lain
·         Empati memudahkan setiap orang untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
C.     Metode yang dapat digunakan oleh guru dalam menumbuhkan dan menanamkan empati pada anak antara lain adalah sebagai berikut:
ü  Keteladanan
ü  Kisah/cerita yang berkaitan dengan empati /moral
ü  Penggunaan kata-kata verbal dalam menegur anak yang nakal
ü  Pengalaman langsung
ü  Kebersamaan dalam bermain
ü  Pembentukan Empati lewat Pembiasaan
D.    Empati berasal kata pathos (dalam bahasa Yunani) yang berarti perasaan yang mendalam. Empati pada awalanya di gunakan untuk menggambarkan suatu pengalaman estetika ke dalam bagian bentuk kesenian. Empati berbeda dengan simpati. Perasaan simpati sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan perasaan seseorang kepada orang lain. Beda antara empati dan simpati adalah, bahwa simpati lebih memusatkan perhatian pada perasaan diri sendiri bagi orang lain, sementara itu perasaan orang lain atau lawan bicaranya kurang diperhatikan. Sedangkan empati lebih memusatkan perasaanya pada kondisi orang lain atau lawan bicaranya. Empati juga hubungan dengan bagaimana orang lain merasakan diri saya, baik masalah saya maupun lingkungan saya.
2.      SARAN
Empati sebaiknya ditanamkan oleh orang tua ketika mendidik anak, selain itu juga ditanamkan oleh guru di sekolahnya, dan juga harus meningkatkan kecerdasan moral yang ada pada anak, serta harus berusaha untuk merubah kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik lagi sesuai dengan metode membangun empati anak pada usia dini yang tertulis dalam makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Borba, Michele. (2001). “Building Moral Intelligence” The Seven Exsential Virtues That Teach Kids to Do the Right Thing. Liberty of Congress Cataloging.
Baron, R. A. dan Byrne. D.(2005). Psikologi Sosial. Jilid 2. Alih Bahasa: Ratna Djuwita. Edisi kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
Goleman, Daniel. (1997). Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ahmadi, Abu. (1992). Psikologi Umum. Semarang: Rineka Cipta.

Watson. (1984). Psychology Science and Application. Illionis: Scoot Foresmar and Company.

Fitria Dewi. (2013). Empati dan Motivasi Sosial Terhadap Perilaku Alturism pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 10 Medan. Skripsi: Universitas Sumatera Utara.

Asih,Gusti Yuli.& Pratiwi, Margaretha Maria S. (2010). Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus.1(1). 33-42.

Azhar, M.H & Putri, D.E. (2009). Kecerdasan Moral pada Anak yang Mengalami Deviasi Mothering. Jurnal Psikologi. 2(2). 97-99.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSELING EKLEKTIK

MAKALAH EMPLOYEE ENGAGEMENT DAN MODAL PSIKOLOGI