MATERI EMPATI
BAB I
Urgensi Kecerdasan Moral
Pentingnya Kecerdasan Moral Dalam
Kehidupan
Setiap manusia yang ada di dunia ini
tidak dapat terlepas dari permasalahan kehidupan. Berbagai peristiwa yang
terjadi yang mengindikasikan sulitnya manusia untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapinya yang akhirnya membawa manusia melakukan tindak-tindak
yang tidak sepantasnya hingga tindak kriminal bahkan sampai bunuh diri.
Permasalahan ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa namun juga dialami oleh
anak-anak. Pemberitaan saat ini baik media cetak dan media elektronik sering
menyajikan pemberitaan mengenai tindak criminal khususnya anak-anak seperti
pelecehan seksual, pembunuhan, pencurian, perdagangan anak, anak putus sekolah,
meroko,menyontek dan lain sebagainya.
Faktor pendukung lainya adalah
tampilan dari media pemberitaan yang menampilkan kekerasan, pornogafi dan
pornoaksi yang menjadi bahan tontonan bagi orang banyak, kemudian yang semakin
mengkahwatirkan bahwa pelaku criminal tidak jarang dilakukan oleh kaum muda
yang merupakan generasi muda. beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
tindak kriminal baik terutama pada kaum muda yaittu lingkungan, kurangnya
pendidikan mral sejak dini, dan kurangnya perhatian dari orang tua untuk itu
diperlukan solusi untuk permasalahan ttersebut adalah dengan
memiliki kecerdasan moral. Sesorang yang memiliki kemampuan untuk
dapat berfikir dan bertindak dengan baik dan benar sehinggga dapat bermanfaat
untuk dirinya dan orang lain atau dengan kata lain memiliki kecerdasan moral
(Coles dalam Azhar & Putri, 2009).
Kecerdasan moral sangat penting
untuk setiap orang sebagai modal menjalani hidup yang lebih baik. Kecerdasan
moral merupakan kemampuan sesorang untuk dapat membedakan hal baik dan hal yang
buruk yang terjadi di dalam kehidupanya sehingga dapat memahami serta menyadari
baik dan buruk serta etika sehingga dalam memiliki pengangan untuk dapat
bertindak yang benar dan terhormat ( Borba, 2008). Sedangkan menurut
Coles bahwa kecerdasan moral merupakan kecerdasan kalbu dimana berhubungan dangan
manusia dan juga sekitar yaitu alam semesta., dengan memiliki kecerdasan moral
maka akan mengarahkan seseorang untuk dapat bertindak dengan baik, kemudian
kurang memiliki perasaan iri hati dengki, dendam dan angkuh (Azhar & Putri,
2009).
Membangun kecerdasan moral terdapat
tujuh kebajikan utama yang di butuhkan untuk mengenalkan dan mengajarkan
kebenaran dan juga menghadapai persoalan tekanan yang berkaitan dengan etika
yang ada. Adapun tujuh kebajikan tersebut adalah ( Borba, 2008):
1. Empati yaitu seseorang dapat memahami dan merasakan apa
yang dialami oleh orang lain.
2. Nurani yaitu mengetahui dan menerapkan
sesuatu dengan melakukan tindakan yang benar dan sesuai. Bertindk sesui dengan
kata hati.
3. Kontrol diri yaitu dapat mengendalikan pikiran
dan perbuatan agar dapat menahan keinginan dari dalam maupun dari luar untuk
dapat mampu berbuat yang baik dan benar.
4. Kebaikan hati yaitu seseorang dapat memberikan
keedulian terhadap apa yang dialami orang lain contohnya kesejahteraan dan
perasaan rang lain.
5. Rasa hormat yaitu memerikan penghargaan kepada
orang lain dengn berlaku baik dan juga sopan.
6. Toleransi yaitu menghargai dan menghormati
oran lain, walau dengan erbedaan yang ada.
7. Keadilan yaitu seimbang sehingga dapat
berpikiran terbuka dan benar.
Kecerdasan moral sangatlah penting
untuk dikembangkan terutama anak-anak agar dapat tumbuh menjadi pribadi ang
memiliki kecerdasan moral sehingga dapat bertindak dengan benar untuk itu
di perukan adanya dukungan dari keluarga, dan lingkunangan dan yang
terpenting memenuhi tujuh kebajikan utama kecerdasan moral.
BAB II
Urgensi Empati
Pentingnya Empati dalam Kehidupan
Andai saja
setiap orang memahami betapa pentingnya empati dalam kehidupan sehari-hari,
pasti setiap orang akan berusaha meningkatkan empati mereka. Tak hanya penting
dalam menciptakan hubungan yang lebih baik dengan orang lain, bahkan empati
dapat menciptakan suatu kedamaian dalam kehidupan.
Namun sayangnya tak banyak orang yang mengetahui pentingnya
empati dalam kehidupan. Bahkan di era global sekarang ini, empati justru telah
semakin hilang dan menipis serta terganti dengan rasa individualisme yang
tinggi. Padahal empati memiliki peranan penting dalam kehidupan.
Begitu pentingnya empati dalam kehidupan. Untuk itu sudah
seharusnya Anda meningkatkan empati Anda. Jika Anda bertanya seberapa
pentingkah empati dalam kehidupan hingga Anda harus meningkatkan empati Anda?
Berikut pentingnya empati dalam kehidupan yang bisa Anda ketahui.
Pentingnya
empati dalam kehidupan:
·
Empati membuat Anda lebih bisa menghargai orang
lain
·
Empati meningkatkan rasa cinta kasih dari dalam
diri Anda
·
Empati membuat Anda bisa ikut merasakan apa yang
dirasakan orang lain
·
Empati akan membuat orang ingin saling membantu
·
Empati membuat orang lebih mudah berhubungan
dengan orang lain
·
Empati memudahkan setiap orang untuk memiliki
hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
Setelah mengetahui pentingnya empati dalam kehidupan, sudah
seharusnya Anda meningkatkan empati Anda. Sebagian besar orang berpendapat
bahwa empati merupakan sifat bawaan seseorang sejak lahir, namun sebenarnya
empati bisa ditumbuhkan dan bisa ditingkatkan. Salah satu cara yang bisa
digunakan untuk meningkatkan empati dalah terapi.
A. KRISIS
DALAM PENGEMBANGAN EMPATI
Empati, kebajikan penting pertama
kecerdasan moral, adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan keprihatinan
orang lain. Ini adalah emosi kuat yang menghentikan perilaku kekerasan dan
kejam dan mendorong kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Karena
empati muncul secara alami dan cukup awal, anak-anak kita lahir dengan besar
built-in keuntungan bagi pertumbuhan moral mereka. Tapi apakah anak-anak kita
akan mengembangkan kapasitas yang luar biasa ini merasa orang lain jauh dari
terjamin. Walaupun anak-anak dilahirkan dengan kapasitas untuk berempati, itu
harus benar dipelihara, atau akan tetap terbengkalai. Dan di situlah letak
krisis: selama beberapa tahun terakhir, banyak faktor lingkungan yang
penelitian yang telah ditemukan menjadi penting untuk peningkatan empati
menghilang, diganti dengan yang lebih negatif. Meskipun tentu ada kondisi lain
yang menghambat kapasitas anak-anak merasa orang lain, lima faktor berikut ini
masih mematikan di squelching empati, dan arahkan ke krisis dalam
perkembangannya.
Ø Tidak tersedianya
emosional Orangtua
Studi menemukan bahwa
ketika datang untuk meningkatkan empati anak-anak, bukan sembarang orang tua
akan melakukan. Studi tonggak oleh John Gottman dari University of Washington
menemukan bahwa orang tua yang terbaik untuk mengembangkan empati pada
anak-anak mereka adalah mereka yang baik secara aktif terlibat dalam kehidupan
anak-anak mereka dan secara emosional. Itulah mengapa itu sangat mengganggu
bahwa total waktu satu-satu antara orang tua dan anak-anak mereka telah
menyusut secara dramatis selama beberapa dekade terakhir. Sebuah studi
universitas menemukan bahwa ibu saat ini yang bekerja di luar rumah
menghabiskan rata-rata sebelas menit sehari di waktu interaksi kualitas
eksklusif dengan anak-anak mereka pada hari kerja dan sekitar tiga puluh menit
pada akhir pekan. Data untuk ayah hanya delapan dan empat belas menit,
masing-masing. ibu nonworking tidak tarif jauh lebih baik, mencurahkan
rata-rata tiga belas menit per hari. Sebuah jajak pendapat terbaru yang diambil
dari anak-anak berumur sembilan tahun mengungkapkan bahwa hanya 40 persen dari
anak laki-laki dan 50 persen anak perempuan menghabiskan hampir sepanjang akhir
pekan dengan orang tua mereka, dan 25 persen dari anak laki-laki dilaporkan
menghabiskan ada jam dengan keluarga mereka. Ketersediaan emosional orang tua
berkurang untuk sejumlah alasan, termasuk penyakit orangtua, kematian,
pekerjaan, kelelahan, dan perceraian. Apapun penyebabnya, saat empati-bangunan
penting untuk anak-anak yang hilang juga.
Ø Tidak adanya ayah
Mendukung
Penelitian menegaskan apa
yang banyak dikenal selama ini: terlibat ayah dapat memberikan kontribusi besar
untuk membesarkan anak-anak empatik. Sebuah studi jangka panjang dimulai pada
1950-an, misalnya, menemukan bahwa anak-anak yang ayahnya yang positif terlibat
dalam perawatan mereka ketika mereka berusia lima tahun ditemukan tiga puluh
tahun kemudian menjadi dewasa lebih empatik daripada mereka yang ayahnya tidak
hadir. Studi lain yang melibatkan kelas pertama anak laki-laki dalam keluarga
utuh mengungkapkan bahwa anak-anak yang ayahnya mengambil tanggung jawab lebih
untuk disiplin dan sekolah anak-anak mereka 'dan lebih terlibat dalam masalah
pribadi anak-anak mereka memiliki tingkat signifikan lebih tinggi dari empati.
Dan ini benar terlepas dari tingkat ayah sendiri empati.
Selain dari banyak ayah
yang tidak mengambil peran pengasuhan aktif, ada nomor mengganggu yang telah
dipilih untuk menjadi benar-benar absen dari kehidupan anak-anak mereka. Sebuah
laporan Gedung Putih baru-baru ini menemukan bahwa kurang dari 25 persen dari
anak laki-laki dan perempuan mengalami rata-rata minimal satu jam sehari kontak
yang relatif individual dengan ayah mereka. Angka-angka sangat mengejutkan bagi
anak-anak Afrika Amerika: pada tahun 1994, 60 persen anak-anak kulit hitam
tinggal di rumah salah satu orang tua. Jadi pengasuh penting lain dari
empati-baik tua ayah-tidak di rumah untuk mengajarkan pelajaran kasih sayang
dan benar dan salah.
Ø Rentetan Images Media Kejam
Selama dekade terakhir,
anak-anak kita telah dibombardir dengan televisi, film, musik, video dan arcade
game, dan konten Internet yang menekankan kekerasan, nastiness, dan kekejaman.
Hal ini mempengaruhi anak-anak kita. Berikut ini alasannya: perilaku umumnya
belajar dengan meniru pengalaman yang diamati, sehingga lebih banyak contoh
merawat anak-anak kita menyaksikan, semakin besar kesempatan bahwa mereka akan
menjadi jenis perilaku mereka menyalin. Sejumlah penelitian telah menemukan
bahwa menonton program televisi dengan pesan prososial meningkatkan kerjasama,
sensitivitas, dan peduli pada anak-anak dan bahwa anak-anak akan cenderung
meniru perilaku mereka baik. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang-orang
perilaku prososial secara substansial ditingkatkan ketika orang tua menonton
dengan anak-anak mereka dan mendiskusikan atau bermain peran mereka perilaku
baik.
Tentu saja, sebaliknya
juga benar: rentetan terus-menerus gambar kejam mengajarkan anak-anak kita
perilaku kejam yang melumpuhkan kemampuan mereka untuk berempati. Sebagai
negara Madeline Levins dalam bukunya Lihat No Evil, "Ada tubuh besar
penelitian berfokus pada efek kekerasan media pada anak-anak prasekolah. Hampir
tanpa kecuali, penelitian telah menemukan bahwa menonton kekerasan membuat anak-anak
lebih agresif, lebih gelisah, lebih takut, kurang kreatif, dan kurang intuitif.
" The American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa lebih dari seribu
studi sangat menyimpulkan bahwa melihat hiburan kekerasan dapat meningkatkan
nilai agresif dan perilaku pada anak-anak. Mereka lebih lanjut menyatakan bahwa
melihat kekerasan dapat menurunkan rasa mudah terpengaruh anak-anak untuk
empati karena dapat mengurangi kemungkinan bahwa mereka akan mengambil tindakan
atas nama korban ketika kekerasan terjadi.
Ø Budidaya Anak laki-laki ke
Mask Perasaan mereka
Studi menemukan bahwa
ketika datang ke emosi, orang tua membesarkan anak-anak yang sangat berbeda
daripada yang mereka lakukan putri. Orang tua mendiskusikan perasaan lebih dan
menggunakan array yang lebih besar dari kata-kata untuk emosi dengan anak
perempuan mereka daripada yang mereka lakukan dengan anak-anak mereka. Mereka
juga mendorong anak perempuan mereka untuk berbagi perasaan mereka, sedangkan
anak laki-laki biasanya diberitahu untuk menutupi rasa sakit emosional mereka.
Menimbang bahwa penentu utama apakah seorang anak mengembangkan kemampuan untuk
merasakan orang lain adalah seberapa baik ia mengerti dan dapat mengungkapkan
perasaannya sendiri, mudah untuk melihat bahwa sikap orang tua terhadap
ekspresi emosi anak mereka dapat menghambat perkembangan empati anak laki-laki.
William Pollack, penulis
Real Boys, menjelaskan, "Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki
memulai kehidupan mereka dengan rasa alami dari empati, yang bertentangan dengan
kekerasan. Dengan kelas dua anak laki-laki tampak jauh lebih selaras dengan
perasaan sakit hati dan sakit pada orang lain dan mulai kehilangan kapasitas
mereka untuk mengekspresikan emosi dan kekhawatiran dalam kata-kata mereka
sendiri. " Bahkan, anak-anak belajar bahwa satu-satunya emosi yang dapat
diterima secara sosial bagi mereka untuk mengekspresikan kemarahan; perasaan
lain harus tertahan. Dan sebagai kemarahan mereka perlahan-lahan semakin
intensif, potensi mereka untuk empati berkurang. Hasilnya, catatan Pollack,
dapat mematikan: "Ini adalah proses yang mendorong anak-anak untuk memakai
masker dari keberanian Dan ini, sebagian besar, adalah apa yang membuat mereka
kekerasan.."
Ø Penyalahgunaan di Cradle
Menarik penelitian baru
oleh Bruce Perry dari Baylor College of Medicine menemukan bahwa tiga tahun
pertama kehidupan anak adalah penting dalam membangun kapasitas untuk berempati
atau menanam benih kekerasan. Sebuah penentu besar untuk cara yang perkembangan
moral anak pergi adalah bagaimana dia diperlakukan oleh pengasuh utamanya.
Perry menyatakan bahwa empati dapat sangat terganggu pada orang-orang pertama
tiga puluh enam bulan akibat berulang stres penyalahgunaan, penelantaran, dan
trauma. Mark Barnett dari Kansas State University menjelaskan bahwa jika
anak-anak muda "tidak memiliki kebutuhan emosional mereka puas, mereka
tidak menyadari bahwa mereka perlu khawatir tentang atau sensitif terhadap
kebutuhan emosional orang lain." Mengingat angka mengejutkan kasus
kekerasan terhadap anak, kita terpaksa menyimpulkan bahwa banyak warga termuda
Amerika mungkin memiliki masa depan moral yang suram.
AS Departemen Kesehatan
dan Layanan Kemanusiaan memperkirakan bahwa hampir tiga juta anak dilaporkan
lembaga pelayanan perlindungan anak untuk kekerasan dan penelantaran pada tahun
1997; satu dari tiga korban kekerasan fisik adalah bayi berusia kurang dari dua
belas bulan. Perlindungan Anak melaporkan bahwa tiga perempat dari kematian
anak melibatkan anak di bawah usia tiga tahun. Meskipun kasus yang dilaporkan dari
penyalahgunaan dan penelantaran anak bervariasi per lembaga, mereka tampak
menurun. Tapi itu tentu saja tidak ada alasan untuk merayakan: setiap laporan
pelecehan anak merupakan salah satu kasus terlalu banyak. Meskipun anak Anda
mungkin tidak akan terpengaruh oleh masalah ini, kemungkinan besar dia akan
bergaul dengan anak-anak lain yang. Karena rekan-rekan yang pengaruh moral,
pada akhirnya semua anak-anak kita yang terpengaruh.
Banyak faktor lingkungan
diidentifikasi sebagai penting untuk pertumbuhan empati berkurang. Meskipun
tidak ada salah satu faktor predisposisi dengan sendirinya anak untuk
kekejaman, peneliti menekankan bahwa interaksi faktor mungkin cukup untuk
memicu perilaku antisosial. Oleh karena itu penting bahwa kita melakukan segala
yang kami bisa untuk melawan pengaruh-pengaruh negatif dengan memelihara emosi
moral yang inti empati. Selama kita membiarkan pengaruh-pengaruh negatif terus,
kapasitas banyak anak-anak merasa orang lain akan padam, dan kehidupan
emosional mereka akan kosong.
B.
MEMBANGUN EMPATI PADA ANAK USIA DINI
Metode
yang dapat digunakan oleh guru dalam menumbuhkan dan menanamkan empati pada
anak antara lain adalah sebagai berikut:
1. Keteladanan
Menjadikan diri kita teladan bagi anak-anak didik kita dalam
bersikap dan berperilaku serta menjadikan mereka menjadi saksi dari tingkah
laku kita. Saksi tentang bagaimana cara kita bergaul, bersikap pada orang lain
dengan mengembangkan sikap yang baik dan empati. Dengan demikian diharapkan mereka bisa memahami, menghayati dan mengkristalkan
ke dalam pribadinya tentang nilai-nilai budi pekerti, nilai-nilai
kebaikan/moral yang sesungguhnya (nilai-nilai sikap apa yang baik dan apa yang
buruk, apa yang harus kita lakukan dan tak boleh kita lakukan).
2. Kisah/cerita
yang berkaitan dengan empati /moral
Kisah/cerita yang diambil adalah kisah yang dapat menumbuhkan
sikap empati anak-anak terhadap
tokoh-tokoh atau pun peristiwa yang terjadi dalam kisah/cerita tersebut.
Kisah/cerita yang menggambarkan tentang penderitaan/kemalangan seseorang dalam
kehidupannya. Dalam kisah ini perlu ditanamkan pada anak bahwa
peristiwa/keadaan itu pun mungkin juga bisa
menimpa pada diri kita. Bahwa kita pun bisa mengalami nasib yang sama
seperti orang lain yang menderita akibat perbuatan jahat kita. Bagaimana
penderitaan yang menimpa orang lain itu jika menimpa kita, bukankah kita akan
butuh empati dan perhatian dari orang lain Oleh sebab itu kita pun harus selalu
mencoba memperhatikan penderitaan orang lain.
Kisah/cerita yang berkaitan dengan empati ini berguna untuk
mengembangkan daya imajinasi moral anak. Dengan kisah/cerita tersebut,
diharapkan anak akan berimajinasi dalam pikirannya untuk selalu melakukan sikap
empati kepada orang lain.
Anak yang mempunyai rasa empati yang sudah cukup tinggi,
biasanya akan ikut terhanyut dalam cerita tersebut, dan tak jarang mereka bisa
ikut sedih atau menangis. Pada saat suasana seperti ini, terjadilah tanggapan
dalam diri mereka tentang konsep
orang baik dan orang yang tidak baik atau jahat, serta konsep perlunya sikap empati.
Sebagai guru kita bisa meminta tanggapan penafsiran perenungan dari anak
terhadap cerita tersebut ( terhadap sikap dan perbuatan prilaku tokoh-tokoh
yang ada dalam cerita tersebut, atau tentang persetujuan terhadap sikap yang
mereka ambil dan apa alasannya) Dalam metode cerita ini, ada juga anak yang tak
terpengaruh oleh cerita tersebut, atau menjadi sinis, tak tersentuh
perasaannya, atau anak yang berhati batu. Menghadapi anak seperti itu kita bisa
menjadikan diri kita contoh bagaimana kita menyesal, bahwa kita pun pernah
gagal dalam menanggapi suatu cerita yang diceritakan orang lain kepada diri
kita. Setelah itu kita baru bisa memulai suatu kisah cerita dan kemudian
menyuruh anak untuk memaknai cerita tersebut, tentang apa yang akan kita
lakukan ketika mereka menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Dan apa yang akan
mereka lakukan seandainya mereka kelak jadi orang tua, untuk menanamkan sikap
empati ini.
3. Penggunaan
kata-kata verbal dalam menegur anak yang nakal
Sebagai contoh penggunaan kata-kata verbal untuk menegur anak
didiknya yang salah adalah semisal ketika ada anak yang nakal dan usil sehingga
membuat temannya menangis, maka teguran yang baik adalah dengan kata-kata: “
Lihat kamu telah membuatnya amat sedih. Kasihan dia kan kalau sedih. “ Sedangkan
penggunaan kata yang kurang mendidik adalah teguran yang secara langsung
memarahi anak yang nakal seperti : “ Nakalnya kamu, nanti Ibu jewer, lho. “
4. Pengalaman
langsung
Anak kita ajak berkunjung dan melakukan kegiatan sosial ke
panti asuhan anak yatim piatu, kita latih untuk memberi sedekah pada fakir
miskin dan anak kita latih untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan
bantuan atau pertolongan.
5. Kebersamaan
dalam bermain
Kita tanamkan pada anak untuk bisa bermain bersama-sama
dengan teman-temannya dan mau berbagi/meminjamkan mainan pada teman-temannya
yang belum atau tidak mempunyai alat permainan agar teman kita tidak merasa
sedih karena tidak memiliki mainan seperti kita. Anak kita ajak berempati
kepada temannya yang tidak memiliki alat permainan.
6. Pembentukan
Empati lewat Pembiasaan
Pada kehidupan setiap hari
anak kita biasakan, selalu kita bimbing dan arahkan untuk bersikap empati kapan
pun dan dimana pun. Bila suatu ketika kita temukan, anak kita sedang berebut
mainan misalnya harus langsung kita tanamkan pada masing-masing anak tersebut
sikap empati dalam perasaan mereka. Kita latih anak memahami kelelahan orang
tua di rumah dan mengajaknya untuk selalu membantu orang tuanya dirumahnya
dengan rajin menjaga kebersihan rumah. Di sekolah kita latih anak untuk antri
dengan cara berbaris di depan kelas pada saat awal akan dimulainya proses
belajar, dan masuk ke kelas satu demi satu. Dengan empati terhadap teman yang
antri duluan di depan kita, maka kita tak akan menyerobot antrian tersebut.
BAB III
TEORI
1.
Definisi
Empati yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi dengan dan
merasa orang lain kekhawatiran-adalah dasar dari kecerdasan moral. kebajikan
moral pertama ini adalah apa yang peka anak-anak kita untuk sudut pandang yang
berbeda dan meningkatkan kesadaran mereka tentang ide dan pendapat orang lain.
Empati adalah apa yang meningkatkan kemanusiaan, kesopanan, dan moralitas.
Empati adalah emosi yang memberitahu anak untuk penderitaan orang lain dan
membangkitkan hati nuraninya. Ini adalah apa yang menggerakkan anak-anak untuk
menjadi toleran dan penuh kasih, untuk memahami kebutuhan orang lain, untuk
cukup peduli untuk membantu mereka yang terluka atau bermasalah. Seorang anak
yang belajar empati akan jauh lebih memahami dan peduli, dan biasanya akan
lebih mahir dalam menangani kemarahan.
Anak-anak kita sering
terkena dunia meresahkan kekerasan, obat-obatan, kekejaman, dan ketidaksopanan;
empati mungkin penawar terbaik. Dengan belajar untuk menunjukkan empati kepada
orang lain, anak-anak kita dapat membantu menciptakan lebih toleran, dunia yang
damai. Bab ini menunjukkan Anda terbukti cara untuk membangun empati pada anak
Anda sehingga ia akan mengembangkan kebajikan yang meletakkan dasar penting
untuk non-kekerasan dan untuk melakukan apa yang benar karena dia merasa dalam
hatinya.
Empati
berasal kata pathos (dalam bahasa Yunani) yang berarti
perasaan yang mendalam. Empati pada awalanya di gunakan untuk menggambarkan
suatu pengalaman estetika ke dalam bagian bentuk kesenian. Empati berbeda dengan
simpati. Perasaan simpati sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang
menggambarkan perasaan seseorang kepada orang lain. Beda antara empati dan simpati adalah,
bahwa simpati lebih memusatkan perhatian pada perasaan diri sendiri bagi orang
lain, sementara itu perasaan orang lain atau lawan bicaranya kurang
diperhatikan. Sedangkan empati lebih memusatkan perasaanya pada kondisi orang
lain atau lawan bicaranya. Empati juga hubungan dengan bagaimana orang lain
merasakan diri saya, baik masalah saya maupun lingkungan saya.
Istilah
empati pertama kali digunakan oleh Carl Rogers (dalam Pangribuan, 1998) seorang
tokoh psikologi humanistic. Istilah-istilah seperti kehangatan (warmth),
kepedulain (compassion), rasa hormat (respect), penghargaan positif tanpa
syarat (unconditional positive regard), ketulusan (genuineness), dan pemahaman
(understanding) di dalam teorinya banyak digunakan oleh para peneliti.
Istilah-istilah tersbut digunakan untuk mengkomunikasikan pemahaman terhadap
perasaan, pikiran, dan motif-motif orang lain.
Kata
empati mengandung makna bahwa seseorang mencoba untuk mengerti keadaan orang
lain sebagaimana orang tersebut mengertinya dan menyampaikan pengertian itu
kepadanya (Hansen, dkk, 1982). Empati berarti masuk ke dalam diri seseorang dan
melihat keadaan diri sisi orang tersebut, seolah-olah ia dalah orang
itu. Menurut Dahlan, seseorrang dikatakan memiliki empati jika ia dapat
menghayati keadaan perasaan orang lain serta dapat melihat keadaan luar menurut
pola acuan orang tersebut, dan mengkomunikasikan penghayatannya bahwa dirinya
memahami perasaan, tingkah laku, dan pengalaman orang tersebut secara pribadi
(Pangaribuan, 1993).
Carkhluff
mengartikan empati sebagai kemampuan untuk mengenal, mengerti dan merasakan
perasaan orang lain dengan ungkapan verbal dan perilaku, dan mengkomunikasikan
pemahaman tersebut kepada orang lain. Empati merupakan dimensi yang penting
dalam proses pemberian bantuan. Brammer mengertiakan empati sebagai cara
seseorang untuk memahami persepsi orang lain dari kerangka intelnya. Sedangkan
menurut Rogers empati merupakan cara mempersepsikan kerangka internal dari
referensi orang lain dengan keakuratan dan komponen emosional,
seolah-olah seseorang menjadi orang lain, tetapi masih menyadari kondisinya
yang seolah-olah tadi (Pangaribudi, 1998). Empati dikatakan akurat jika
pemahaman individu terhadap keadaan orang lain benar, dalam arti sesuai dengan
penghayatan oaring yang benar empati.
Berempati
tidak hanya dilakukan dalam memahami perasaan orang lain semata,
tetapi harus dinyatakan secara verbal dan dalam bentuk tingkah laku. Tiga tahap
dalam berempati menurut Garda, dkk., (1991) adalah:
·
Tahap pertama, mendengarkan
dengan seksama apa yang diceritakan orang lain, bagaimana perasaannya, apa yang
terjadi pada dirinya.
·
Tahap kedua, menyusun
kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan perasaan dan situasi orang tersebut.
·
Tahap ketiga, menggunakan susunan
kata-kata tersebut untuk mengenai orang lain dan berusaha memahami perasaan
serta situasinya.
Ø
Bagaimana Empati Berkembang?
Menurut Daniel Goleman (1997), akar empati itu sudah ada pada
seseorang sejak mereka masih bayi atau sejak mereka lahir. Tanda-tanda awal
empati ini dicontohkan sebagaimana bayi akan menangis ketika mereka mendengar
bayi lain menangis. Seorang anak umur satu tahun akan mengulum jarinya sendiri
untuk mengetahui apakah ia juga terluka, ketika melihat bayi lain terluka
jarinya. Dan seorang anak akan menghapus matanya meskipun ia tak menangis,
ketika melihat ibunya menangis. Pengamatan Daniel Goleman menunjukkan bahwa
kepekaan empati anak ini akan mulai lenyap saat anak berusia sekitar dua
setengah tahun, ketika mereka mulai menyadari bahwa kepedihan orang lain
berbeda dengan kepedihan mereka
sendiri, dan mereka sudah pintar mencari penghiburan. Pada tahap ini dalam
perkembangannya, anak-anak mulai berbeda kepekaan empatinya terhadap orang
lain. Ada anak-anak yang amat peduli terhadap kondisi orang lain, namun
anak-anak lain tidak demikian.
Berdasarkan serangkaian studi oleh Marian Radke-Yarrow dan Carrolyn
Zahn-Waxler pada National Institute of Mental Health sebagaimana dikutip dalam
Daniel Goleman (1997), adanya perbedaan dalam kepekaan empati pada anak ini,
ada kaitannya dengan pola asuh orang tua dalam menerapkan disiplin pada
anak-anaknya. Anak-anak akan menjadi lebih empatik bila kedisiplinan juga
mencakup pemberian perhatian dengan sungguh-sungguh atas kemalangan yang
disebabkan oleh kenakalan anak mereka. Kata-kata verbal yang diucapkan orang
tua dalam mendisplinkan anak-anaknya yang nakal akan berpengaruh pada
perkembangan tingkat kepekaan empati anak. Sebagai contoh penggunaan kata-kata
verbal “ lihat, kamu membuatnya amat sedih” akan lebih memupuk kepekaan
empati anak, daripada penggunaan kata verbal “ Nakalnya kamu”.
Ø
Macam Empati Yang Perlu Ditumbuhkan dan
Dikembangkan
Macam
empati yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan pada anak yaitu antara lain:
1. Empati
terhadap sesama manusia
Sejak dini anak dididik untuk memperhatikan dan ikut
merasakan apa yang dirasakan teman atau orang-orang yang ada di sekitarnya.
Anak kita ajak membayangkan kesedihan dan penderitaan orang lain itu menimpa
teman/orang lain itu terjadi pada diri kita. Apa yang akan kita lakukan? Dalam
empati terhadap sesama manusia ini juga perlu ditanamkan pada anak bahwa sifat
tidak mau meminjamkan mainannya kepada teman yang tidak memilikinya,
mementingkan diri sendiri, merugikan orang lain, menang sendiri, serakah,
keinginan untuk memiliki dan mengambil benda milik orang lain adalah dapat
melukai perasaan dan membuat orang lain sedih atau pun menderita. Dengan
demikian pada diri anak akan tumbuh sifat kasih sayang, adil, bijaksana,
sopan-santun kepada teman maupun orang lain.
2. Empati
terhadap kehidupan binatang
Perlu ditanamkan pada anak bahwa binatang adalah juga makhluk
ciptaan Tuhan. Dia juga mempunyai rasa sakit dan sedih. Bila binatang tersebut
tidak dipelihara dengan baik oleh manusia dia akan sakit, sedih, menderita, dan
juga menangis. Oleh sebab itu kita tidak boleh menyakiti atau menyiksa binatang.
Karena itu kita juga harus menyayangi binatang seperti kita juga menyayangi
sesama manusia.
3. Empati
terhadap kehidupan tumbuh-tumbuhan
Kepada anak kita ajarkan bahwa tumbuhan bisa sakit dan mati
bila tidak kita pelihara dengan baik. Tumbuhan seperti bunga misalnya akan
menderita dan mati kalau tidak pernah kita sirami dengan air setiap hari dan
tidak pernah kita beri pupuk sebagai makanan. Karena tumbuhan juga butuh makan
dan minum seperti halnya manusia. Tumbuhan juga bermanfaat bagi manusia,
seperti hutan misalnya, adalah bermanfaat untuk membuat agar udara yang kita
hirup terasa segar dan nyaman, serta mengurangi pencemaran udara yang dapat
membuat sesak nafas kita. Hutan juga dapat menyimpan air hujan, sehingga
manusia dapat terhindar dari kekeringan karena tidak ada air. Oleh sebab itu
jika kita menebangi hutan dengan seenaknya, tumbuhan hutan akan menderita dan
sedih karena tidak bisa menjaga keseimbangan alam, yang berguna juga bagi
manusia.
4. Empati
terhadap kelestarian dan keindahan lingkungan
Tanamkan pada anak bahwa lingkungan yang ada di sekitar kita
juga perlu kita pelihara kebersihannya dan keindahannya. Kita jangan
mencoret-coret dinding rumah dan sekolah misalnya, agar dinding tersebut tidak
sedih dan menangis. Lingkungan yang kotor juga harus selalu kita bersihkan agar
lingkungan di sekitar kita berbahagia dan gembira seperti juga kita.
\
2.
Aspek-aspek Empati
Baron dan Byrne (2005: 111) menyatakan bahwa dalam empati juga terdapat aspekaspek, yaitu:
a.
Kognitif
Individu yang memiliki kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal tersebut dapat terjadi pada orang tersebut.
b.
Afektif
Individu yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan.
Batson dan Coke (Watson, 1984: 290) menyatakan bahwa di dalam empati juga terdapat aspek-aspek:
·
Kehangatan
Kehangatan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat terhadap orang lain.
·
Kelembutan
Kelembutan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap maupun bertutur kata lemah lembut terhadap orang lain.
·
Peduli
Peduli merupakan suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memberikan perhatian terhadap sesama maupun lingkungan sekitarnya.
·
Kasihan
Kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap iba atau belas kasih terhadap orang lain.
3.
Indikator
Davis (dalam Dewi, 2013)
mengelompokkan indicator menjadi 3 bagian, yaitu:
a.
Perhatian (Emphatic
Concern)
Cerminan dari perasaan kehangatan yang erat kaitannya dengan kepekaan dan
kepedulian terhadap orang lain, termasuk perasaan simpati yang berorientasi
pada orang lain dan perhatian terhadap kemalangan orang lain.
b.
Pengambilan Perspektif (Perspective
Taking)
Kecenderungan untuk mengambil sudut pandang psikologis orang lain secara
spontan. Pengambilan perspektif berhubungan dengan reaksi emosional dan
perilaku menolong pada remaja, meliputi proses self identification dan self
positioning.
c.
Fantasi (Fantasy)
Kemampuan
untuk mengubah diri secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan
dari orang lain di sekitarnya. Fantasi sangat mempengaruhi intensitas empati
seseorang, contoh konkritnya seperti meminta orang lain menceritakan runut
permasalahan sebagai media problem
solving masalah tersebut.
BAB
IV
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
A. Membangun kecerdasan moral terdapat
tujuh kebajikan utama yang di butuhkan untuk mengenalkan dan mengajarkan
kebenaran dan juga menghadapai persoalan tekanan yang berkaitan dengan etika
yang ada. Adapun tujuh kebajikan tersebut adalah ( Borba, 2008):
1) Empati yaitu seseorang dapat memahami dan merasakan apa
yang dialami oleh orang lain.
2) Nurani yaitu mengetahui dan menerapkan
sesuatu dengan melakukan tindakan yang benar dan sesuai. Bertindk sesui dengan
kata hati.
3) Kontrol diri yaitu dapat mengendalikan pikiran
dan perbuatan agar dapat menahan keinginan dari dalam maupun dari luar untuk
dapat mampu berbuat yang baik dan benar.
4) Kebaikan hati yaitu seseorang dapat memberikan
keedulian terhadap apa yang dialami orang lain contohnya kesejahteraan dan
perasaan rang lain.
5) Rasa hormat yaitu memerikan penghargaan kepada
orang lain dengn berlaku baik dan juga sopan.
6) Toleransi yaitu menghargai dan menghormati
oran lain, walau dengan erbedaan yang ada.
7) Keadilan yaitu seimbang sehingga dapat
berpikiran terbuka dan benar.
B. Pentingnya empati dalam kehidupan:
·
Empati membuat Anda lebih bisa menghargai orang
lain
·
Empati meningkatkan rasa cinta kasih dari dalam
diri Anda
·
Empati membuat Anda bisa ikut merasakan apa yang
dirasakan orang lain
·
Empati akan membuat orang ingin saling membantu
·
Empati membuat orang lebih mudah berhubungan
dengan orang lain
·
Empati memudahkan setiap orang untuk memiliki
hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
C. Metode yang dapat digunakan
oleh guru dalam menumbuhkan dan menanamkan empati pada anak antara lain adalah
sebagai berikut:
ü
Keteladanan
ü
Kisah/cerita yang berkaitan dengan empati /moral
ü
Penggunaan kata-kata verbal dalam menegur anak
yang nakal
ü
Pengalaman langsung
ü
Kebersamaan dalam bermain
ü
Pembentukan Empati lewat Pembiasaan
D.
Empati berasal kata pathos (dalam
bahasa Yunani) yang berarti perasaan yang mendalam. Empati pada awalanya di
gunakan untuk menggambarkan suatu pengalaman estetika ke dalam bagian bentuk
kesenian. Empati berbeda dengan simpati. Perasaan simpati sering dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari yang menggambarkan perasaan seseorang kepada orang lain.
Beda antara empati dan simpati adalah, bahwa
simpati lebih memusatkan perhatian pada perasaan diri sendiri bagi orang lain,
sementara itu perasaan orang lain atau lawan bicaranya kurang diperhatikan.
Sedangkan empati lebih memusatkan perasaanya pada kondisi orang lain atau lawan
bicaranya. Empati juga hubungan dengan bagaimana orang lain merasakan diri
saya, baik masalah saya maupun lingkungan saya.
2.
SARAN
Empati
sebaiknya ditanamkan oleh orang tua ketika mendidik anak, selain itu juga
ditanamkan oleh guru di sekolahnya, dan juga harus meningkatkan kecerdasan
moral yang ada pada anak, serta harus berusaha untuk merubah kebiasaan yang
buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik lagi sesuai dengan metode membangun
empati anak pada usia dini yang tertulis dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Borba, Michele. (2001). “Building Moral Intelligence” The Seven
Exsential Virtues That Teach Kids to Do the Right Thing. Liberty of
Congress Cataloging.
Baron, R. A. dan Byrne. D.(2005). Psikologi Sosial. Jilid 2. Alih Bahasa: Ratna Djuwita. Edisi kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
Goleman, Daniel. (1997). Emotional
Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ahmadi, Abu. (1992). Psikologi
Umum. Semarang: Rineka Cipta.
Watson. (1984). Psychology Science
and Application. Illionis: Scoot Foresmar and Company.
Fitria Dewi. (2013). Empati dan Motivasi Sosial Terhadap Perilaku
Alturism pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 10 Medan. Skripsi: Universitas
Sumatera Utara.
Asih,Gusti
Yuli.& Pratiwi, Margaretha Maria S. (2010). Perilaku Prososial Ditinjau
Dari Empati dan Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi
Universitas Muria Kudus.1(1). 33-42.
Azhar, M.H & Putri,
D.E. (2009). Kecerdasan Moral pada Anak yang Mengalami Deviasi Mothering.
Jurnal Psikologi. 2(2). 97-99.
Komentar